Selasa, 23 Oktober 2018

Mungkinkah Pesan Rumi Telah Sampai kepada Awkarin?


Sekelompok lalat melihat semangkuk madu tergeletak pasrah di atas meja. Bergegas, mereka merubung semangkuk madu itu, mendarat tepat di atas kubangannya, melahap madunya dengan rakus.

Sangking kalapnya, tanpa mereka sadari tubuh dan sayap mereka mulai terendam madu. Saat perut terasa kenyang, mereka mencoba beranjak. Tapi apa lacur, lekatnya madu seperti mengikat erat tubuh dan sayap mereka, sekuat apapun meronta, semua seperti sia-sia. Sebagian lalat mulai mati lemas.

Di sisa nafas terakhir seekor lalat berujar, “Oh, betapa bodohnya kita, demi kesenangan kecil ini, kita telah mengorbankan seluruh hidup!”

——–

Dongeng Aesop di atas, membuat saya bertanya dalam hati, adakah saat ini saya tengah terjebak dalam kubangan madu yang bernama dunia? Lalu hati kecil saya membisikkan pledoinya, ya enggaklah, yang terjebak dalam kubangan madu itu orang yang bergelimang dengan harta dan kerap berfoya-foya. Kamu, Dul, memang punya apa? Apa pula yang akan kamu foya-foyakan?

Hei, kamu pikir kubangan madu dunia itu hanya semata perkara harta dalam makna yang harfiah? Kamu boleh tidak setuju, tapi buat saya; keinginan, ambisi pun obsesi adalah juga kubangan madu yang membuat kita kerap alfa, sayangnya, kita baru tersadar setelah segalanya sudah sangat terlambat, tak ada lagi kesempatan untuk membenahi semua yang sudah kadung kita perbuat.

Banyak dari kita yang sudah sangat mahfum bahwa sebenarnya biang keladi dari semua kerakusan kita atas dunia adalah keinginan-keinginan kita yang begitu liar sebab terlanjur subyektif dalam mendefinisikan bahagia. Persis seperti apa yang di sampaikan Jalaludin Rumi,

“Mungkin anda sedang mencari sesuatu di antara ranting dan cabang, untuk sesuatu yang hanya terdapat pada akar.”

Dalam hal ini, boleh lah kita angkat topi kepada Awkarin, dara manis yang sempat kontroversial sekaligus fenomenal, seorang selebgram yang memiliki 3,7 juta follower. Betapa tidak, ketika populeritas dan limpahan harta sudah dalam genggaman, dara yang memiliki nama asli Karin Novilda itu justru berkeinginan untuk menjual akun instagram yang telah membesarkan namanya. Ingin melakoni hidup semenjana, begitu ia beralasan.

Dan baru-baru ini, wajahnya yang biasa dilapisi make up mewah dengan tubuh terbungkus busana branded yang selalu kekinian, terlihat sangat berbeda tatkala sosoknya kedapatan ada di antara warga Palu yang tengah dirundung nestapa pasca digoncang gempa berkekuatan 7,7 skala Richter. Ia hadir dengan wajah tanpa make up, tubuh rampingnya hanya dibalut t-shirt polo dan celana jeans. Namun wajahnya terlihat ramah saat mendengarkan dan memberi dukungan kepada warga yang boleh jadi merupakan satu atau dua orang dari jutaan followernya di Instagram.

Jababeka industrial Estate

Jika benar alasan Awkarin menjual akun sesuai dengan apa yang dikatakannya, langkah Awkarin merupakan langkah yang antimainstream, cerdas sekaligus waras. Langkah yang jarang dilalui kebanyakan orang-orang tenar yang ada di dunia, bahkan. Ia berhasil keluar dari kubangan madu sebelum terlena, lemas lalu terjebak dan mati dalam kenikmatan yang membinasakan.

Kamu pasti tak asing dengan nama Marlyn Monroe. Nama yang sempat diabadikan oleh Jaja Miharja ke dalam salah satu lirik lagu dangdutnya karena kecantikan dan kepopulerannya. Ironisnya, wanita tercantik di zamannya, yang disebut-sebut memiliki sisi feminin yang sangat kuat ini memilih obat barbiturat sebagai alat penjemput takdir kematiannya, justru di saat karir keartisannya tengah berada di puncak kesuksesan.

Atau mungkin kamu pernah juga mendengar nama Kurt Cobain, pentolan grup band punk Nirvana yang merajai belantika musik dunia di tahun 90an, yang juga memilih obat-obatan sebagai jalan pintas menuju ajalnya. Pun di saat Nirvana menjadi idola anak-anak muda di masanya.

Yang paling ironis, ada seorang aktor Hollywood yang mudah sekali membuat orang tertawa dan terhibur. Ia yang disebut-sebut sebagai komedian terlucu dalam dunia hiburan, tak disangka malah memilih tali untuk menggantung diri, demi mengakhiri hidupnya yang konon penuh kecemasan. Betapa ironisnya, dia pandai membuat orang lain tertawa dan bahagia sementara hatinya sendiri selalu dibayangi kecemasan dan kesepian. Untuk dirinya ia telah gagal menjadi komedian.

Entah karena belajar dari paradoksal akhir dari perjalanan hidup ketiga tokoh beken di atas dan tak ingin seperti lalat dalam dongeng Aesop atau telah menemukan hikmah dari perkataan Jalaluddin Rumi, Awkarin akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri (semoga istiqomah), jalan yang tak ditempuh oleh banyak orang. Sebuah jalan yang di ujungnya bermakna satu kata. Satu kata yang kerap dibincangkan dan diidamkan seluruh makhluk di dunia, bahagia.

Izinkan saya mengingat dan sedikit menambahkan kata-kata dalam lirik lagu Awkarin yang sempat booming, usai ramai-ramai orang menghujatnya karena kemunculannya yang kontroversial,

“Kalian semua suci aku penuh dosa

Tapi akhirnya aku mengerti

Semua orang adalah pendosa

Dan sebaik-baik pendosa adalah

Dia yang tersadar dan membenahi kekeliruannya.”

Bogor 23 Oktober 2018

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT