Kamis, 28 Januari 2021

Burgreens; Kisah Unik Pelopor Resto Vegan yang Viral di Kalangan Non-Vegan


Tidak peduli Anda suka menyebut diri Anda apa — vegan, vegetarian, omnivora, atau bahkan hampir karnivora — Burgreens Jakarta dan pilihan makanan nabati akan meninggalkan kesan yang membekas pada Anda.

Beberapa tahun yang lewat, untuk menemukan restoran ramah vegan di Jakarta tidaklah mudah, terutama yang menyajikan pilihan makanan vegan dan ramah gluten. Kesulitan tersebut pada akhirnya yang menginspirasi owner dari pelopor restoran vegan di Indonesia ini, Helga Angelina Tjahjadi dan Max Mandias yang memang seorang vegetarian, untuk mendirikan Burgreens.

Fellexandro Ruby/Wanderbites

Burgreens merupakan restoran yang menyajikan menu khusus vegetarian, tapi menariknya, sekalipun Burgreen merupakan restoran yang HANYA menyajikan menu terfragmentasi, namun restoran ini justru digandrungi oleh konsumen non-vegan yang sadar terhadap kesehatan dan memilih untuk mengurangi konsumsi daging untuk alasan kesehatan dan lingkungan.

Burgreens; Antara Bisnis dan Misi Mulia

Fellexandro Ruby/Wanderbites

Bentuk bisnis Burgreens adalah ritel offline dengan 10 gerai yang tersebar di Jakarta, Bandung, dan Tangerang. Bukan hanya untuk mempermudah dan memanjakan lidah para veganism, Burgreens sendiri memiliki misi yang mulia yaitu gerakan sadar sosial bahwa makanan yang dipilih itu berasal dari alam dan mengambil bahan-bahan dari hasil petani lokal organik, salah satunya dari Yayasan Usaha Mulia dan BSP.

Menu yang dikembangkan mulai dari makanan berat, paket katering harian, makanan beku, snack, minuman hingga makanan untuk anak.

Dalam perjalanannya, Burgreens telah menerima investasi dari ANGIN sebanyak dua kali, pada 2016 dan 2017 dengan nominal yang dirahasiakan. Perkembangan perusahaan yang pesat, akhirnya membuat Angin tertarik untuk top up masuk ke putaran terbaru.

Menurut pemberitaan di DealStreetAsia, dikabarkan Burgreens telah mengantongi pendanaan pra Seri A dari ANGIN dan Teja Ventures. Untuk selanjutnya masih menunggu konfirmasi secara resmi dari pihak Burgreens.

Memanfaatkan Teknologi Digital

Fellexandro Ruby/Wanderbites

Irene Tjhai, Marketing Manager Burgreens menjelaskan bahwa sejauh ini perusahaan baru memanfaatkan kehadiran teknologi digital yang disediakan oleh mitra logistik untuk pengiriman pesanan ke konsumen. Situsnya sendiri baru menyajikan informasi mengenai menu dan direktori gerai.

Perusahaan berencana untuk merilis secara resmi aplikasinya sendiri pada dua bulan mendatang. Persiapannya sudah dilakukan sejak tahun lalu. Di dalamnya akan tersedia pilihan menu makanan sesuai preferensi lidah masing-masing, biasanya ada yang anti gluten, hanya mau vegan saja, dan sebagainya.

“Tadinya pilihan seperti itu tidak bisa jika dipesan melalui aplikasi kurir online. Tapi nanti kita bisa rincikan semua permintaan konsumen melalui aplikasi kita dan dikirim oleh kurir internal kita. Selain itu kita juga mau sediakan informasi lengkap terkait makanan organik dalam berbahasa Indonesia.”

Meski belum diresmikan, namun aplikasi ini sudah bisa diakses di Play Store.

CIMB NIAGA

Menu Nakal, Tapi Sehat…

Fellexandro Ruby/Wanderbites

Burgreens Jakarta, sama seperti restoran bagus lainnya di luar sana, bermain dengan indra pengecap para konsumen. Tidak hanya soal rasa, bahkan ketika Crispy Tofu Burger tiba di atas meja, akan sulit bagi Anda untuk tidak mengagumi cara biji wijen melapisi tahu dengan rapi, belum lagi kontras warna antara keripik ubi ungu dan “mayonaise” jingga. Penyajiannya mengundang Anda untuk menyantapnya, dan saat Anda melakukannya, mulut Anda akan diserang berbagai tekstur, rasa manis, asin, dan sedikit rasa pedas dari sausnya. Crispy Tofu Burger rasanya enak, dan hal itu akan membuat Anda lupa bahwa Anda sedang makan menu vegetarian.

Fellexandro Ruby/Wanderbites

Pengalaman yang sedikit berbeda terjadi dengan Raw Strawberry Cheesecake. Secara visual ini terlihat seperti replika kue keju stroberi, menipu otak Anda untuk mencari rasa khusus itu. Sendok pertama akan mengejutkan Anda , karena keju adalah hal terjauh yang pernah Anda pikirkan dari rasa dominan pada kue ini. Sendok kedua akan memberi Anda rasa kelapa yang kuat, bahan utama makanan penutup ini. Selanjutnya Anda akan menemukan paduan kacang mete dengan aksen pedas (kacang mete yang telah direndam dan dikeringkan untuk mencegah masalah pencernaan), yang digunakan sebagai kerak dan hiasan. Perpaduan dari keseluruhan bahan ini akan membuat otak Anda terus berputar, mencari rasa yang terkait dengan kue keju, tapi sebelum Anda menyadarinya, Anda sudah makan habis seluruh kuenya. Kemudian Anda baru menyadari bahwa kuenya sebenarnya cukup enak. Penasaran bukan?

Selain dua menu yang disebutkan diatas, terdapat juga variasi burger, menu sarapan, makanan ringan, salad, hidangan nasi dan pasta, jus, smoothie, dan makanan penutup sangat mencengangkan, ditambah lagi mereka juga menawarkan katering dan paket makan. Sementara itu, omnivora harus mempersiapkan langit-langit mulutnya dengan rasa yang dahsyat yang tidak pernah terpikir oleh mereka bisa dihasilkan dari tumbuhan. Dalam kata-kata Burgreens sendiri, makanannya terasa nakal, tapi sehat dan dijamin bikin ketagihan.

Sekelas Burgreens Terdampak Pandemi?

Karena perusahaan termasuk pemain kuliner offline, secara langsung ikut terguncang karena pandemi yang saat ini masih berlangsung. Mayoritas gerainya harus ditutup pada awal PSBB diberlakukan. Meski demikian, Irene mengaku perusahaan bertekad untuk tidak mengurangi karyawan dan gaji.

“Saat PSBB, masih ada gerai kami yang tetap dibuka. Menariknya karyawan kami punya solidaritas tinggi jadi mereka memberlakukan share shift, karyawan yang kerja di gerai yang ditutup bisa kerja di gerai yang buka secara bergantian.”

Perusahaan juga terbantu dengan diberlakukannya diskon sewa dari pengelola mal. “Jujur kalau itu enggak ada, kita bakal struggling banget.”

Dalam unggahan di akun media sosial Helga pada lima bulan lalu, dia menyebutkan pandemi berdampak pada menurunnya penjualan hingga 30%. Tak hanya itu harga bahan baku yang naik tajam, penurunan jumlah kunjungan ke gerai, masalah cashflow, dan keterlambatan pembiayaan yang tidak terduga.

“Hari-hari kami dipenuhi oleh pengambilan keputusan yang mendadak. [..] Kami akan mengambil beberapa keputusan yang sangat sulit dan menghancurkan hati: melepaskan anggota baru kami yang seharusnya bekerja di gerai baru kami dan menutup beberapa toko kami,” tulisnya.

Akhirnya, seiring pelonggaran PSBB oleh pemerintah setempat pada awal Juni kemarin, Burgreens kembali membuka gerai yang berdiri sendiri (stand alone) dan menerima makan di tempat (dine-in) dan takeway.

Untuk memesan makanan, konsumen tidak perlu mengunjungi kasir, cukup memindai kode QR untuk memesan menu. Saat pembayaran pun sudah non tunai, konsumen memindai kode QRIS dari nota yang bisa digunakan oleh beragam aplikasi uang elektronik, seperti Gopay, Ovo, dan Dana.

Sumber : dailysocial.id, wanderbites.com

Alih Bahasa & Editor : Gita Reikianna

BACAAN TERKAIT