Emosi dan Sensasi, Faktor Kicauan ala Nikita Jadi Perhatian

  • Bagikan

Keributan akibat kicauan “habib tukang obat” oleh Nikita Mirzani yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, dipandang antropolog memiliki faktor yang membuat celotehan itu menjadi kekisruhan: emosi dan sensasi.

Bukan hanya itu, akademisi antropologi UGM sekaligus Peneliti Visual-Digital Anthropology, Muhammad Zamzam Fauzanafi menilai akses media sosial yang mudah ikut mendukung situasi keributan semakin berkembang.

“Sekarang media sosial adalah piranti yang emosional. Ada sebutan social media is a emotional media, jadi dasar dari konten di media sosial dipenuhi oleh racikan-racikan emosi, sensasi,” kata Zamzam.

“Karena mudah seseorang [di media sosial] untuk memproduksi gambar, memproduksi teks foto [meme], merepitisinya, menyebarkannya,” lanjutnya.

“Itu akan membuat orang dengan cepat berkomentar, apalagi isunya yang sensasional, emosional, sensual. Mediumnya juga memudahkan orang untuk membuat isu itu cepat viral,” kata Zamzam.

Apalagi menurut Zamzam, kegaduhan itu juga menyeret nama-nama besar di balik konten tersebut, salah satunya selebritas yang memiliki banyak pengikut juga penggemar.

Sehingga, apa pun komentar dari si seleb, terutama yang menyangkut isu “sensitif, sensual, dan emosional” maka penyebarannya akan makin berlipat ganda, kata Zamzam.

Namun sejauh mana sebuah isu akan jadi viral juga dipengaruhi oleh faktor keviralan berbasis media sosial yang digunakan, seperti jumlah retweet pada Twitter, like atau komentar di Facebook, serta jumlah penonton atau pengikut di YouTube juga Instagram.

Zamzam menyebut, ada dua topik yang dapat memancing perhatian orang di media sosial. Pertama, segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal sensasional: seks, kematian, agama, kebencian, kesedihan, dan kemarahan. Kedua, konten yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ia mencontohkan selebriti jalan-jalan, selebriti sedang belanja, dan lain sebagainya. Konten yang bersifat domestik dipandang mudah menarik perhatian netizen.

“Kehidupan sehari-hari yang seolah-olah dekat dengan kita, artis yang melakukan kegiatan yang biasa saja, tapi karena itu biasa saja maka kita merasa dekat dengan pengalaman itu, ‘oh iya mereka juga seperti kita’,” kata Zamzam.

“Tapi tidak benar-benar mirip, seperti ada jarak, konten-konten seperti ini yang membuat ramai,” lanjutnya.

  • Bagikan
-->