[gtranslate]

Jadi Sebetulnya yang “Fragile” itu Barangnya atau Hati Anda?

  • Share

“Kalau bapak terima barang robek, bapak tanya dulu, macam mana ini barang bisa robek? Apalagi ini prijil!!”

Ujar seorang laki-laki (dari suaranya sepertinya memang seorang laki-laki) dengan lantang alias teriak-teriak macam orang yang sedang siap-siap mau baku pukul. Di depannya, seperti terekam dalam sebuah video yang sedang viral di media sosial itu, terlihat seorang kurir pengiriman barang yang tampak kebingungan  dijejali teriakan-teriakan si  empunya barang.

Sesekali,  seperti yang terlihat dalam rekaman video yang diambil dari smartphone laki-laki yang cuma kelihatan tangannya yang bulat itu, terlihat sebuah kardus yang robek bagian atasnya. Di bagian samping kardus terlihat sebuah gambar gelas bertuliskan kata dalam bahasa asing “fragile”. Oowh, jadi yang dimaksud prijil oleh laki-laki itu dalam teriakan-teriakannya adalah fragile (dibaca:frajel) yang berarti rapuh alias mudah pecah.

Saya yang pernah bekerja sebagai pengantar barang, bisa merasakan kebingungan sekaligus kelelahan yang teramat menghadapi pelanggan yang galaknya macam om Naga Bonar seperti itu. Mau kita balikin itu barang, dia malah marah-marah dan keberatan. Kita serahin, dia enggak mau, katanya barangnya rusak. Padahal belum tahu juga itu barang isinya sudah rusak atau masih utuh, lah orang belum dibuka.

Oke, oke. Bungkusnya memang terlihat robek, boleh lah si empunya komplain. Tapi apa ya harus teriak-teriak? Kan bisa sambil direkam, itu bungkusan dibuka. Dilihat isinya. Nah kalo memang rusak, kan bisa mengajukan ganti rugi dengan bukti video rekaman. Kalau teriak-teriak macam kernet bus kota yang stress karena enggak dapat sewa macam itu, ya kasihan kurirnya.

Manusia lho itu. Bisa jadi dia juga sedang banyak masalah. Cuma karena posisinya yang lemah, dia enggak bisa teriak-teriak semaunya macam laki-laki gemuk di depannya. Yang suaranya luar biasa menggelegar itu. Perkiraan saya kalau bukan penyanyi rock, boleh jadi dia penyanyi seriosa.

Sama sih, saya juga tipikal orang yang mudah meledak-ledak alias temperamental. Makanya saya tahu persis, kemarahan yang semacam itu enggak pernah bisa menyelesaikan persoalan. Yang jelas, orang yang kita hadapi atau lawan bicara kita bakalan bingung, enggak tahu harus ngapain, begini salah, begono salah. Orang yang menyaksikan kejadian itu, meskipun membenarkan keberatan kita sebagai konsumen yang dirugikan, tetap saja enggak akan simpatik dengan sikap kita yang kampungan.

Yang saya tahu, buat orang-orang yang berkarakter temperamental alias gampang meledak alias sumbu pendek seperti saya dan laki-laki dalam video itu, untuk melontarkan serapah, tak butuh alasan logis. Ketika ada hal-hal yang tak sesuai harapan, sekonyong-konyong mulut langsung monyong, urat leher mengencang, dan blas, lisan sudah enggak bisa lagi terkontrol, kata-kata berlompatan begitu saja laksana air hujan yang jatuh dari pancuran di depan rumah.

Tapi, orang yang gampang meledak-ledak itu—sebenarnya ini rahasia,  jadi cukup kamu saja yang tahu, jangan bilang-bilang ke yang lain! Biasanya, hatinya tak sekeras suaranya, hatinya sejatinya fragile, rapuh dan rentan hancur. Uhuk.

Untungnya, saya pernah ngerasain betapa enggak mudahnya menjadi pengantar barang. Sungguh kesabaran kita akan diuji ketika pelanggan marah-marah ke kita atas kesalahan yang kita sendiri enggak tahu penyebabnya. Makanya setemperamental apapun, saya masih berpikir panjang untuk marah-marahin orang yang sudah letih dan sudah jauh-jauh mengantarkan barang buat kita.

Tapi kan itu sudah tugas kurir!

Betul, tapi kan dia berharap dapat gaji  bukan dapat caci maki. Tak bisakah kita sedikit bertenggang rasa terhadap orang yang mungkin saat itu posisinya lebih lemah dari kita?

Mari kita renungkan kalimat bijak berikut ini, dari seorang ilmuwan kelahiran Missouri, Amerika Serikat, dua abad yang lalu, George W Curver alias “Peanut Man”,

“Seberapa jauh engkau pergi dalam hidup ini, tergantung seberapa lembut engkau berlaku pada anak muda, seberapa empati engkau kepada yang tua-tua, seberapa simpati engkau pada mereka yang sedang berjuang, dan seberapa toleran engkau pada yang lemah. Sebab, dalam hidupmu, engkau pasti akan mengalami semua keadaan itu.”

  • Share

Leave a Reply

-->