Senin, 18 Januari 2021

Mengalami Gejala Covid 19? Tunggu Dulu! Bisa jadi Anda Hanya Psikosomatis.


Covid-19 telah meningkatkan kecemasan banyak orang. Para ahli memperingatkan bahwa sebagian kecil orang bisa mengalami masalah kesehatan mental yang berkepanjangan, lebih lama dari pandemi itu sendiri.

Di Indonesia, penderita gangguan mental diidentikkan dengan sebutan ‘orang gila’ atau ‘sakit jiwa’, dan sering mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan, bahkan hingga dipasung. Padahal, penderita gangguan mental bisa dibawa ke rumah sakit untuk diberikan pengobatan.

Ada sangat banyak jenis gangguan kejiwaan dari mulai yang ringan hingga yang berat, diantaranya : depresi, skizofrenia, gangguan kecemasan (anxiety), gangguan bipolar, gangguan tidur seperti sulit tidur (insomnia), mimpi buruk (parasomnia), sangat mudah tertidur (narkolepsi), psikosomatis, dan masih banyak lagi. Kali ini kita akan membahas apa itu Psikosomatis, salah satu gangguan kejiwaan yang di alami oleh sebagian besar penduduk di dunia ini namun seringkali tidak disadari dan dibiarkan karena orang masih beranggapan bahwa kondisi mental yang tidak stabil itu adalah sebuah aib, padahal tidak demikian adanya, dan hal tersebut perlu ditangani sejak dini.

corona virus,konten edukasi,psikologi
GETTY IMAGES

Ada banyak faktor yang bisa memicu terjadinya gangguan mental, mulai dari menderita penyakit tertentu sampai mengalami stres akibat peristiwa traumatis, seperti ditinggal mati orang yang disayang, kehilangan pekerjaan, atau terisolasi untuk waktu yang lama.

Mengingat peristiwa-peristiwa traumatis tersebut kerap dialami banyak orang akhir-akhir ini, maka tak heran adanya pandemi COVID-19 juga sering dikaitkan dengan munculnya gangguan mental pada seseorang.

COVID 19 Dan Kesehatan Mental Masyarakat

Di tengah pandemi Covid-19, bukan hanya kesehatan fisik seseorang saja yang dapat terdampak, tetapi juga kesehatan mental. Situasi yang serba tidak pasti dan perubahan besar-besaran di berbagai aspek kehidupan warga dunia saat ini dinilai rentan memicu stres.

Gangguan psikosomatis termasuk salah satu masalah kesehatan mental yang erat kaitannya dengan pola pikir seseorang. Seperti diketahui bersama, ya, otak mampu memengaruhi sel-sel lain dalam tubuh, salah satunya adalah sistem kekebalan tubuh yang bisa menimbulkan penyakit secara fisik.

Stres tersebut bahkan dapat mulai bermanifestasi menyerupai gejala penyakit klinis. Munculnya sesak napas, batuk-batuk, mual hingga gatal-gatal di saat stres bukanlah hal asing.

Pikiran manusia itu bisa memengaruhi keadaan fisik atau kesehatan seseorang. Untuk pengidap gangguan psikosomatis tentunya hal ini bisa sangat berbahaya jika dibiarkan tanpa penanganan.

Serangkaian gejala fisik tersebut muncul karena meningkatnya aktivitas impuls saraf dari otak ke berbagai bagian tubuh. Pelepasan hormon adrenalin (epinefrin) ke dalam aliran darah juga bisa menyebabkan gejala fisik di atas. Selain itu, beberapa bukti mengatakan bahwa otak mampu memengaruhi sel tertentu dari sistem kekebalan tubuh, yang terlibat dalam berbagai penyakit fisik.

CIMB NIAGA
corona virus,konten edukasi,psikologi
GETTY IMAGES

Psikolog Klinis Universitas Islam Bandung (Unisba) Stephanie Reihana menyebutkan, kondisi tersebut dinamai psikosomatis. Berasal dari dua kata, pikiran (psyche) dan tubuh (soma), psikosomatis adalah gejala menyerupai penyakit klinis yang diakibatkan oleh sugesti atau tekanan psikologis yang dirasakan oleh seseorang.

Gejala Umum Psikosomatis

  • Jantung berdebar (Palpitasi)
  • Denyut jantung menjadi lebih cepat
  • Mual atau rasa ingin muntah
  • Gemetaran (Tremor)
  • Berkeringat
  • Rasa tercekat di tenggorokan/sulit untuk menelan
  • Mulut kering
  • Sakit dada
  • Sakit kepala
  • Sakit perut (kram, sembelit, diare, maag, nyeri di ulu hati)
  • Nafas menjadi cepat, tersengal-sengal, atau bahkan berat, kesulitan bernafas juga biasa terjadi.
  • Nyeri otot
  • Nyeri punggung

Berbeda dengan penyakit klinis, Stephanie menyebutkan, orang yang menderita psikosomatis biasanya hanya merasakan gejala sakit tersebut ketika kondisi psikologisnya terganggu. Misalnya pada saat cemas, tegang, takut, dan sebagainya. “Tapi gejala sakit akan hilang ketika kondisi psikologis membaik,” ungkapnya ketika dihubungi Ayobandung.com, Senin (6/4/2020).

Bentuk ‘gangguan kesehatan’ yang dirasakan satu orang dengan orang lainnya karena psikosomatis bisa berbeda-beda. Mulai dari sesak, mual, pusing, hingga gatal-gatal. Bahkan, di era pandemi Covid-19 seperti saat ini, seseorang juga bisa merasakan ‘penyakit’ yang menyerupai gejala Covid-19 seperti (merasa) demam, batuk, merasa sesak napas, dan sebagainya. Hal tersebut diakibatkan oleh sugesti atau tekanan psikologis yang dirasakan seseorang terkait kondisi pandemi saat ini.

“Sangat memungkinkan seseorang merasa mengalami gejala seperti Covid-19. Di China, saat lockdown, keluhan psikosomatis meningkat,” ungkapnya.

Stephanie mengungkapkan, terdapat kelompok orang tertentu yang rentan mengalami psikosomatis. Mereka adalah orang-orang yang mudah cemas, kurang mandiri, dan cenderung tertutup.

Penyebab timbulnya gangguan psikosomatis karena adanya pikiran negatif atau emosi yang telah menumpuk dan terpendam seperti stres, depresi, kecemasan, dan lainnya. Dalam kasus seperti ini, pikiran seseorang sangat berpengaruh terhadap kondisi tubuh. Kalau kamu terus berpikir hal yang membuat cemas, bisa memicu tubuh untuk memunculkan kecemasan tersebut bahkan dapat memperparah penyakit yang sedang diderita.

“Kecenderungan orang yang mudah psikosomatis adalah pencemas, sulit mengatasai masalah sendiri dan tertutup, kurang mau berbagi beban,” jelasnya.

Media online memiliki peran penting terhadap kondisi kejiwaan pemirsanya.

Dia menyebutkan,hanya dengan mengakses informasi-informasi soal Covid-19 di media sosial atau media massa, hal tersebut sudah cukup meningkatkan  kecemasan sebagian orang. Rasa cemas tersebutlah yang kemudian menyebabkan gejala sakit dari psikosomatis muncul. “Cemas adalah sumber utama psikosomatis,” ungkapnya.

Cara Mengatasi Gangguan Psikosomatis

corona virus,konten edukasi,psikologi
CareersinPsychology

Pada dasarnya setiap penyakit memiliki pilihan pengobatannya sendiri. Namun dalam kasus gangguan psikosomatis umumnya bisa diatasi atau diringankan dengan beberapa cara, seperti :

  • Psikoterapi, misalnya dengan terapi CBT (Cognitive Behavioral Therapy)
  • Mengonsumsi antidepresan atau obat penghilang rasa sakit non-narkotika
  • Latihan relaksasi
  • Teknik distraksi atau pengalihan
  • Akupunktur
  • Hipnoterapi
  • Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS)
  • Fisioterapi

Untuk mengurangi gejala yang ditimbulkan psikosomatis, sehari-harinya seseorang dapat berupaya menenangkan dirinya dan menyadari bahwa kondisi tersebut bersumber dari pikiran. Setelah itu, cobalah untuk bermeditasi, beribadah, hingga melakukan hal-hal menyenangkan yang dapat mengalihkan pikiran.

“Sadari bahwa yang menyebabkan sakit adalah pikiran. Tenangkan diri, tarik napas, fokuskan pikiran pada hal-hal positif. Lakukanlah meditasi atau beribadah,” ungkapnya.

“Lakukan juga hal menyenangkan yang bisa mengalihkan pikiran. Misalnya melakukan hobi, main dengan hewan peliharaan, menonton film yang menghibur, mendengarkan musik, atau apapun yang bisa membuat tekanan psikologis kita berkurang,” tambahnya.

Sumber :

BBC.com
ayobekasi.net
hellosehat.com

Editor : Gita Reikianna

BACAAN TERKAIT