Rabu, 10 Maret 2021

Mengenal Hipospadia, Kelainan Kelamin yang Dialami Aprilia Manganang


Eks Pevoli Nasional, Aprilia Manganang pada Selasa (9/3/2021) dinyatakan beralih jenis kelamin dari perempuan menjadi laki-laki karena mengalami kelainan yang disebut Hipospadia.

Eks pevoli nasional, Aprilia Manganang dinyatakan berjenis kelamin laki-laki melalui konferensi pers yang diumumkan oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) TNI, Jendral Andika Perkasa pada Selasa (9/3/2021).

Perlu diketahui, Aprilia Manganang tercatat sebagai prajurit aktif TNI dengan pangkat Sersan Dua (Serda). Aprilia diketahui telah pensiun sebagai pevoli pada 2020 lalu.

Lantas Apa itu hipospadia?

Untuk lebih mengenal hipospadia kita harus merujuk kepada sumber resmi yang kompeten.

Dikutip dari laman Departemen Urologi RSCM-FKUI, hipospadia adalah suatu kelainan pada saluran kemih atau uretra, penis, dan kulit penis. Seseorang dengan hipospadia memiliki pembukaan uretra di bagian bawah penis, bukan di ujung.

Uretra adalah saluran kencing yang mengalirkan urin dari kandung kemih. Hipospadia merupakan kelainan bawaan lahir urologi yang paling sering dijumpai.

Kasus insiden hipospadia bervariasi di setiap negara. Namun, hal ini bisa dialami satu dari 250-300 kelahiran anak laki-laki. “Angka meningkat 13 kali lebih sering pada laki-laki yang saudara dan orang tuanya menderita hipospadia,” tulis penjelasan dalam laman UI.

Secara klinis, ada tiga jenis hipospadia yang sering ditemukan yakni: lubang penis yang terletak pada bagian bawah penis, penis yang menekuk ke arah bawah, kulit penis yang berlebihan di bagian atas penis, meskipun tidak selalu dijumpai pada setiap kasus hipospadia.

Diagnosa penyakit bawaan ini dilakukan dengan pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang lain sesuai indikasi.

Penyebab

Jababeka industrial Estate

Dilansir Mayo Clinic, hipospadia ini terjadi di dalam kandungan. Saat penis berkembang pada janin laki-laki, hormon tertentu merangsang pembentukan uretra dan kulup.

Nah, hipospadia terjadi ketika ada kerusakan pada hormon-hormon tersebut yang menyebabkan uretra tidak berkembang dengan normal. Dalam kebanyakan kasus, penyebab pasti hipospadia tidak diketahui.

Kadang-kadang hipospadia bersifat genetik, tapi juga bisa dipengaruhi lingkungan. Kendati penyebab pasti tidak diketahui pasti, faktor-faktor ini mungkin berperan dalam hipospadia:

Sejarah keluarga. Kondisi ini lebih sering terjadi pada bayi dengan riwayat keluarga hipospadia.

Genetika. Variasi gen tertentu mungkin berperan dalam gangguan hormon yang merangsang pembentukan alat kelamin pria.

Usia ibu di atas 35 tahun. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mungkin ada peningkatan risiko hipospadia pada bayi laki-laki yang lahir dari wanita berusia di atas 35 tahun.

Paparan zat tertentu selama kehamilan. Ada beberapa spekulasi tentang hubungan antara hipospadia dan paparan ibu terhadap hormon tertentu atau senyawa tertentu seperti pestisida atau bahan kimia industri, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi hal ini.

Jika hipospadia tidak diobati, dapat menyebabkan: Penampilan penis yang tidak normal, Masalah belajar menggunakan toilet, Kelengkungan penis yang tidak normal dengan ereksi Masalah dengan gangguan ejakulasi

Gejala

Pada hipospadia, pembukaan uretra terletak di bagian bawah penis, bukan di ujung. Dalam kebanyakan kasus hipospadia, pembukaan uretra berada di dalam kepala penis.

Kasus lebih jarang, bukaan ada di tengah atau pangkal penis. Kasus hipospadia jarang, lubang berada di dalam atau di bawah skrotum.

Tanda dan gejala hipospadia termasuk:
Pembukaan uretra di lokasi selain ujung penis
Lekukan penis ke bawah (chordee).
Penampilan penis berkerudung karena hanya bagian atas penis yang tertutup kulup
Penyemprotan tidak normal saat buang air kecil

Berbeda dengan kasus Aprilia Manganang yang baru teridentifikasi pada usianya yang ke-28 tahun, sebagian besar bayi dengan hipospadia didiagnosis segera setelah lahir saat masih di rumah sakit. Namun, sedikit perpindahan dari pembukaan uretra mungkin tidak kentara dan lebih sulit untuk diidentifikasi.

Kalau kamu takut anak kamu mengalami hisposopadia, ada baiknya berbicara dengan dokter. Kamu bisa meminta pendapat dokter jika kamu kekhawati tentang penampilan penis anak kamu atau jika dia punya masalah dengan buang air kecil.

RS UI menyebut, pembedahan merupakan satu-satunya pilihan terapi dan direkomendasikan untuk bentuk hipospadia sedang dan berat, serta hipospadia ringan dengan derajat tekukan pada penis yang berat dan lubang penis yang sempit.

Tujuan terapi ini adalah untuk mengkoreksi tekukan pada penis, membentuk saluran kemih dan menempatkan lubang penis ke ujung jika memungkinkan. Operasi dapat mulai dikerjakan saat usia anak 6 bulan dan diharapkan operasi selesai sebelum usia sekolah.

Bila tidak dilakukan operasi rekonstruksi, hipospadia dapat menimbulkan masalah berkemih pada anak, serta dapat mengganggu aktivitas seksualnya saat ia tumbuh dewasa. Perlu diingat agar jangan menyunat anak sebelum operasi rekonstruksi dilakukan, karena dokter Urologi akan memerlukan cangkok dari kulit penis, untuk membuat saluran kemih baru.

Bagi orang tua harus lebih mengenal hipospadia, agar apa yang dialami Aprilia Manganang dapat mengatasinya lebih dini.

Menurut catatan Mayo Clinics, jika hipospadia tidak diobati, dapat menyebabkan penampilan penis yang tidak normal, masalah belajar menggunakan toilet, kelengkungan penis yang tidak normal dengan ereksi, dan masalah dengan gangguan ejakulasi.

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT