Kamis, 16 September 2021

Susu Kental Manis Tak Boleh Diseduh, Ini Alasannya


Susu kental manis telah menjadi satu dari sekian banyak jenis susu yang dikonsumsi masyarakat berbagai usia dengan cara diseduh air panas dan diminum. Namun ada alasan susu kental manis tak boleh diseduh.


Selain itu susu kental manis juga sebaiknya tak digunakan sebagai satu-satunya sumber gizi. Hal ini diungkap oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito. Kata dia, susu kental manis bukan untuk pengganti susu dan tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya sumber gizi.

“Susu kental manis tidak boleh diberikan untuk bayi sampai usia 12 bulan,” kata Penny dalam keterangannya di laman BPOM.

Penny juga meminta para pelaku usaha wajib mencantumkan label peringatan dalam kemasan susu kental manis. Peringatan itu untuk menjelaskan bahwa susu kental manis tidak untuk dikonsumsi balita dan bukan sebagai pengganti ASI.

“Peringatan tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya sumber gizi juga harus ditambahkan pada label produk susu kental manis dan analognya,” kata dia.

Susu kental manis kerap dikaitkan sebagai faktor penyebab kurang gizi yang bisa menyebabkan stunting dan underweight(tubuh pendek dan berat badan kurang) pada anak.

Meski demikian, Pakar Gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Rimbawan mengungkap studi analisis hubungan konsumsi susu kental manis dengan status gizi dan kesehatan masih sangat terbatas, sehingga perlu penelitian yang lebih mendalam.

Memang, ada beberapa data yang mengatakan status gizi kurang dijumpai pada anak yang lebih banyak mengonsumsi susu kental manis.

Hasil Survei Sosial dan Ekonomi Nasional 2016 memberikan gambaran persentase belanja susu masyarakat didominasi susu kental manis yaitu sebesar 60-74 persen.

Mayoritas mereka yang membeli susu kental manis berasal dari masyarakat berpenghasilan rendah. Data lain juga menyebut adanya penggunaan susu kental manis sebagai pengganti susu formula.

Jababeka industrial Estate

Bahkan sebagian kecil digunakan sebagai pengganti ASI. Untuk itu, pemahaman orang tua menjadi penting dalam memberikan asupan pangan bagi anak, termasuk dalam pemberian konsumsi susu kental manis.

Alasan susu kental manis tak boleh diseduh
Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan, Rita Endang mengungkapkan bahwa menyatakanSKMtidak untukdiseduh atau diminum langsung sebagaimana susu pada umumnya.

Menurut Rita, SKM seharusnya digunakan untuk topping bukan untuk diseduh. “Sebab, cara konsumsi seperti itu (diseduh) merupakan kebiasaan yang salah dan harus diubah,” kata dia dikutip dari Antara.

“Kami sudah menuangkan dalam regulasi peraturan badan POM nomor 31 tahun 2018 tentang label pangan olahan jadi memang ditegaskan pula bahwa penggunaan yang benar itu digunakan sebagaitoppingmisalnya untuk martabak, campuran kopi, coklat, dan lain-lain,” kata dia.

Ditilik dari segi gizinya, Ahli Gizi Mayapada Hospital Kuningan, Ika Setyani, mengungkapkan bahwa nilai gizi antara susu kental manis diseduh dan tak diseduh sama saja. Namun yang berbeda adalah jumlah asupannya. 

“Yang diperhatikan adalah, ketika kental manis diseduh maka butuh SKM yang jumlahnya lebih banyak dibanding jadi topping. Semakin banyak SKM yang dipakai (untuk seduh) maka kandungan gulanya makin tinggi. Ini yang bahaya, apalagi kalau aktivitasnya juga kurang,” ungkap Ika kepada CNNIndonesia.com.

“Pun kalau jadi topping, juga jangan banyak-banyak, karena yang dikhawatirkan dari susu kental manis adalah kandungan gulanya yang sangat tinggi.” 

Dia juga menambahkan, faktor lain di balik alasan susu kental manis tak boleh diseduh adalah karena persepsi masyarakat soal SKM selama ini. Banyak orang yang menganggap SKM adalah alternatif pengganti susu untuk kebutuhan gizi hariannya. Padahal dari segi protein susunya jauh berbeda dengan susu bubuk. 

Mengutip Tabel Komposisi Pangan 2017 dari Kemenkes, kandungan protein susu kental manis adalah 8,2 gram, dan susu bubuk 24,6 gr. Sedangkan kandungan karbohidratnya susu bubuk 36,2 gr dan susu kental manis 55,0 gr per 100 gr susu. 

Sumber : cnnindonesia.com

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT