Kue Khas Betawi yang Mencerminkan Karakter Warga Jakarta

  • Bagikan

Maju kotanya, Bahagia warganya kini tak lagi terdengar hanya sebagai sebuah slogan manis nan ceriwis. Berulang kali Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang kerap dijuluki Goodbener oleh pendukungnya ini membuktikan bahwa dirinya mampu memimpin Jakarta ke arah yang lebih baik. Dimulai dengan penataan infrastruktur di Jalan Soedirman yang kini terlihat ciamik. Bukti keberpihakan terhadap pedagang kecil di tanah abang. Pemberian angin segar bagi kaum penjaga moral saat penutupan Alexis serta penepatan janji kampanye untuk menghentikan reklamasi.

Dan sekarang, Anies boleh bonges-bonges dan sedikit berbangga karena Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta masuk dalam predikat “Top 50 Smart City Government 2018″ dan meraih peringkat ke-47 Smart City Government dari 140 kota di dunia. Peringkat ini dikeluarkan oleh Eden Strategy Institute yang berbasis di Singapura.

Jakarta merupakan kota cosmopolitan berpredikat ibu kota Indonesia yang penampakan luarnya genjreng nan mentereng. Tugu monas yang menjulang menjadi ke-khas-an kota ini untuk dikenali penampakannya.

Namun mengenal Jakarta terutama karakter warganya bukan hanya bisa dilakukan melalui penampakan fisik kota dan nama gubernurnya. Melainkan juga dapat melalui panganan khas dari suku asli yang mendiami Jakarta turun temurun. Yup, si Betawi nyang banyak gaye, punya cerite.

Berikut panganan khas betawi yang sedikit banyak dapat mencerminkan wajah dan perilaku warga Jakarta:

1. Kue Cincin

Kue yang terbuat dari campuran tepung beras dan gula putih lalu digoreng sampai kuning keemasan dan renyah ini merupakan lambang komitmen yang wajib tersedia di setiap acara lamaran atau saserahan khas Jakarta. Menunjukan bahwa orang Jakarta kalau sudah berjanji dengan orang langsung mengikat meski hanya sekedar omongan yang tidak ada hitam di atas putihnya. Janji tersebut melebur di tubuh seperti kue cincin yang enak dikunyah, ditelan, dicerna dan menjadi nutrisi dalam aliran darah. Tsaaahhh.

2. Rangi

Kue ini terbuat dari campuran sagu dan kelapa parut yang dipanggang dengan kayu bakar. Disajikan dengan siraman gula merah bercampur sagu yang manis dan kental. Rasanya legit, gurih dan manis.

Kue rangi banyak dijajakan dengan gerobak keliling. Penggunaan kayu bakar yang menjadi ciri khasnya mencerminkan wajah orang Jakarta asli yang cinta kesederhanaan dan keotentikan rasa sehingga terkesan kurang adaptif terhadap perubahan. Orang betawi suka berada di zona nyaman dan enggan keluar untuk mencari perubahan. Malahan sedih jika harus hengkang dari kampung halaman. Sekalinya keluar paling cuman ngayp-ngayapan dan kembali pulang sebelum petang. Hehehe.

3. Pancong

Bentuknya sama seperti kue rangi, namun bahan pembuatnya berbeda. Kue pancong terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan kelapa parut, garam dan air. Dipanggang dalam cetakan dengan api kecil dari kompor.

Kue ini butuh gula pasir sebagai cocolan saat dimakan. Cocolan inilah yang mencirikan orang betawi sebagai tuan rumah yang royal (tidak pelit). Sudah dapat rasa asin dan gurih, namun tetap diberi gula agar lengkap. Ini juga dapat diartikan sebagai pemborosan. Karena demi melengkapi kegembiraan, orang betawi tak segan menghabiskan banyak modal tanpa perhitungan. Kadang-kadang malah sampe ngutang. 😥

4. Putu Mayang

Kue yang bentuknya mirip buntelan kadut *eh mie warna-warni (biasanya putih, hijau dan pink) terbuat dari tepung beras. Disajikan dengan siraman santan dan gula merah yang kental. Putunya sendiri tidak memiliki rasa alias tawar. Tidak enak dimakan jika tidak disiram oleh kuah santan dan gula.

Hal ini menunjukan karakter orang betawi yang gemar hidup berkumpul dengan anggota keluarganya. Seringkali ditemukan dalam satu kampung di DKI Jakarta yang penghuninya saudara-an semua. Mereka hidup saling melengkapi. Memberi rasa dan warna sehingga merasa tidak nyaman jika harus terpisah meski setiap hari ada saja kelakuan sodara yang bikin berkeluh kesah.

5. Selendang Mayang

Ini satu-satunya kue khas Jakarta yang disajikan dingin dengan es batu. Terbuat dari tepung beras yang dipadatkan dan diberi warna merah dan hijau. Dipotong kecil-kecil dan dicampur dengan santan, gula merah dan es. Rasanya manis, segar sekaligus mengenyangkan.

Menunjukan karakter warga Jakarta yang humanis, ceria dan sangat welcome terhadap para pendatang. Persaingan pun ketat dan cepat. Yang mau bergerak cepat akan mendapatkan kesegaran yang manis, sedangkan yang lama berdiam diri harus puas menanggung keterbatasan yang terasa serat, lengket dan mencekik. Mirip rasa selendang mayang yang sudah tidak dingin.

6. Cucur

Kue berwarna coklat berbentuk lingkaran yang tebal di tengah namun garing dan tipis di pinggirannya ini terbuat dari campuran tepung beras dan gula jawa. Disebut cucur kaena cara pembuatannya yang langsung mengucurkan adonan di pinggan kecil yang panas. Mencerminkan karakter warga Jakarta yang suka terburu-buru dalam keseharian. Bergerak cepat dari langkah yang satu ke langkah berikutnya demi mengejar impian dan memenangkan persaingan. Sama seperti kue cucur yang adonannya harus buru-buru dikucurkan di minyak panas, buru-buru dibolak balik dan diangkat. Rasa nikmat kuenya pun bertambah jika buru-buru dimakan dalam kondisi panas.

7. Talam

Kue talam ini ada 2 jenis. Yang asin bernama talam ebi, yang manis dipanggil talam (saja). Kue ini terbuat dari campuran tepung beras, tepung singkong, tepung terigu, dan santan. Untuk talam ebi, adonan cukup ditambah garam dan taburan ebi di atasnya, lalu dikukus. Sedangkan untuk talam manis, adonan dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian dicampur gula jawa, bagian lain dibiarkan tawar, lalu ditumpuk dan dikukus.

Kue talam ini menggambarkan sikap warga Jakarta yang pandai menyesuaikan diri dengan keadaan. Bisa manis di satu sisi lantas menjadi garang di suatu waktu. Penempatan diri ini penting untuk pergaulan dan kesuksesan. Asal jangan kebablasan jadi bunglon abadi sih. Harus tetap punya prinsip dan pendirian.

8. Roti Gambang

Roti gambang adalah roti berwarna coklat yang ada taburan wijen di atasnya. Terbuat dari terigu yang dicampur gula aren dan kayu manis. Cocok menjadi teman minum kopi atau teh saat sarapan atau menjelang sore.

Roti gambang menggambarkan bahwa orang Jakarta sangat suka berteman. Senang berkelompok dan kerap terjebak dalam genk-genkan karena sifatnya yang tidak suka kesendirian, demen ngobrol dan cinta keramaian.

9. Dongkal

Dongkal adalah kue berbentuk kerucut atau tumpeng yang terbuat dari tepung beras, sagu, dan gula merah. Rasanya gurih manis. Dongkal bisa menggambarkan realita kehidupan Jakarta yng kadang kemanisannya tidak berhasil menembus setiap lini atau golongan masyarakat. Bagian bawah dongkal yang lebar namun jarang terkena gula jawa terasa kurang enak. Bagian tengahnya mulai berasa gurih. Paling manis tentu ada dibagian paling atas. Mirip kehidupan buruh pabrik yang jumlahnya banyak dan menjadi penopang utama lini produksi perusahaan tetapi gajinya kalah manis dari supervisor atau mandor. Dan tentu saja, ujung termanis ada di tangan para pemilik modal.

10. Lopis

Panganan ini ada yang berbentuk bulat, lonjong dan segitiga. Terbuat dari beras ketan yang dibungkus daun pisang dan disajikan dengan parutan kelapa kukus serta siraman gula merah.

Dari namanya saja, yaitu love-peace dibaca lopis sudah menunjukan wajah orang Jakarta yang cinta damai. Tidak suka gelut, tidak suka berdebat dan tidak suka memperpanjang permusuhan. Mereka cenderung cepat panas tapi cepat baikan. Tidak sungkan meminta maaf jika salah namun gigih dalam keyakinan. Sangat cocok dijadikan rekan dalam lomba cerdas cermat agustusan.

Nah, diantara ke-10 kue tersebut, kamu suka yang mana, Gaes?😇

  • Bagikan
-->