Jumat, 17 September 2021

Mengulik Perjalanan Oseng Mercon Bu Narti, Jualan Sejak 1997


Kuliner Yogyakarta identik dengan rasanya yang manis. Meski begitu ada satu warung lesehan legendaris yang justru menyajikan hidangan pedas. Nama tempat tersebut adalah Oseng mercon Bu Narti. Warung Oseng Mercon Bu Narti menghidangkan oseng mercon yang terbuat dari tetelan daging sapi. Cita rasa pedasnya membuat para penikmatnya ketagihan.

Sejarah Oseng Mercon Bu Narti Pemilik Oseng Mercon Bu Narti sekarang, Dewi Endah Karyani, membagikan cerita mulanya ibunya (Alm. Sunarti) membangun usaha ini. Menurut penuturan Dewi, Oseng Mercon Bu Narti mulai berjualan sejak tahun 1997.Kala itu Sunarti sengaja membuat hidangan bercita rasa pedas untuk jualan agar berbeda dengan sajian khas Yogyakarta lainnya.

“Tahun 1997 jualan oseng mercon yang pertama di Yogyakarta itu ibu saya. Karena pengin jualan yang orang lain belum ada. Maksudnya lain daripada yang lain, yang pedas banget gitu,” ungkap Dewi.

Mengutip dari “Jalan-jalan Kuliner Aseli Jogja” oleh Suryo Sukendro terbitan Media Pressindo, penemuan menu oseng mercon ini sebetulnya tidak sengaja. Kala itu keluarga Narti kebingungan mengolah daging kurban yang terlampau banyak. Lalu orangtua Narti (nenek dari Bu Dewi) memasak daging kurban tersebut dengan potongan cabai. Menu tersebut lalu dijual dan ternyata banyak pembeli yang menyukainya. Lantas, Narti pun mencoba mengolah kembali menu kemudian memantenkannya

Oseng Mercon Bu Narti mulai terkenal sejak tahun 1999. Dewi menjelaskan bahwa Bondan Winarno yang membuat warung ibunya ini semakin dikenal oleh masyarakat.

“Awal ramainya itu tahun 1999, itu Pak Bondan syuting, terus semua stasiun televisi ikut syuting. Jadi kan pada tahu,” kata Dewi. Sementera itu, Dewi juga menceritakan bahwa ia telah ikut berjualan oseng mercon sejak lama. Setelah Sunarti meninggal sekitar tiga tahun lalu, Dewi lalu meneruskan usahanya. “Kalau saya memang hanya meneruskan, tapi berjuangannya ya sekitar 15 tahun,” pungkas Dewi.

Awal mula nama oseng mercon Nama oseng-oseng mercon berasal dari budayawan Emha Ainun Najib. Kala itu, Emha makan di warung milik orangtua Narti, lalu karena rasa hidangannya pedas Emha memberi nama dengan oseng mercon. “Jadi sepanjang lesehan sini awalnya nggak ada yang jualan oseng mercon kecuali ibu saya. Kalau nenek saya itu ramesan, jadi dia jualan oseng kayak gini, tapi bahannya juga beda, bukan tetelan, gajih itu lo! Terus kan rasanya pedes, lalu Emha Ainun Najib bilang kayak mercon ya, makanya dikasih nama oseng mercon

Mercon sendiri sebetulnya adalah bahasa Jawa yang berarti petasan. Jadi, siapapun yang menikmatinya akan merasakan sensasi pedas seperti petasan alias meledak di mulut.

Sumber : Kompas.com

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT