Antagonis

  • Bagikan

Tidak baik, sebetulnya, orang benci kepada Jokowi secara berlebihan. Sebab boleh jadi,  beberapa puluh tahun yang akan datang, cucunya ditolong oleh cucu Pak Jokowi. Pun tak boleh orang dendam sama Prabowo melampaui batas, karena boleh jadi, nanti keponakannya terserempet motor di pinggiran jalan antah beratantah, dan yang menolongnya itu adalah ponakan Pak Prabowo. Dalam kondisi apapun, idealnya, kebencian atas suatu objek tidak boleh mengalahkan akal sehat.

Akal sehat di sini bisa berarti rasa keadilan, sikap objektif, atau kemampuan memahami berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Terutama untuk poin terakhir yang saya sebutkan ini, mohon jangan ditertawakan terlebih dahulu, jika yang terjadi kemudian adalah sebaliknya: Anda kagum berat kepada Jokowi, rela melakukan apapun untuk membuktikan kekaguman itu, tapi ternyata, ada suratan tangan bahwa di masa yang akan datang cucu Anda dibuat susah hidupnya oleh cucu Jokowi. Begitu juga Prabowo.

Selama ini kita kerap mendefinisikan sikap dan karakter orang lain layaknya menonton teater atau sinetron. Ada tokoh protagonis yang berperan sebagai pahlawan, orang baik, jujur, kadang tertindas, dan selalu indah pada ending episodenya; dan ada antagonis yang memainkan peran sebagai penjahat, koruptor, penjilat, zalim dan seterusnya. Sinetron mendidik kita menilai orang lain secara hitam putih, kalau tak baik, ya jahat. Kalau bukan protagonis, ya pasti antagonis.

Padahal kehidupan tidak selamanya hitam putih seperti itu. Hanya dalam cerita pewayangan, Rahwana selalu merusak rumah tangga orang lain. Dalam hidup nyata, kadang “Rahwana” ini nasibnya kasihan juga. Misalnya dari kecil dia menjadi korban KDRT dan tak pernah merasakan kenyamanan hidup dalam keluarga karena ayah ibunya asyik betengkar setiap hari.

Maksud saya, tidak ada orang yang betul-betul antagonis hidupnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Selalu zalim dan curang dari buaian hingga ke liang lahad. Sebab, boleh jadi dia antagonis hari ini, tapi menjadi protagonis di kemudian hari. Atau sebaliknya, dia protagonis hari ini, namun na’uzubillah dia menjadi antagonis yang super nyebelin menjelang kematiannya.

Dulu, Tidak pernah terbersit dalam benak Firaun, jika bayi mungil yang dipungut istrinya dari sungai Nil dan ia rawat secara eksklusif di dalam istana itu akan merontokkan mahkota di atas kepalanya dan menjatuhkannya dari singgasana raja mesir. Bayi mungil bernama Musa itu tokoh protagonis dalam hidup Firaun pada awalnya, akan tetapi berubah menjadi antagonis yang memilukan pada kesudahannya.

Nabi Muhammad Saw telah memahami kaidah ini sejak 14 abad yang lalu. Katika malaikat memberi tawaran untuk meluluhlantakkan Bani Tsaqif di Thaif, beliau menolak tawaran itu dan malah berdoa “semoga kelak dari keturunan mereka ada orang-orang yang setia dalam ketauhidan”. Artinya, Nabi Saw paham betul bahwa jika hari ini masyarakat Thaif itu memainkan peran antagonis dalam episode perjuangan dakwah beliau, kelak boleh jadi, dari anak keturunan mereka ada tokoh-tokoh protagonis yang menjadi pejuang dan pemimpin orang-orang saleh.

Kembali kepada Jokowi dan Prabowo. Lima tahun terakhir ini, energi rakyat Indonesia nyaris terkuras habis untuk melakukan tiga hal: konflik, konflik, dan konflik. Tema utama pertengkaran itu, ya dua tokoh ini. Adu mulut, saling serang, bersitegang urat leher demi membela junjungannya. Bangsa besar ini terbelah secara diametral Pro Jokowi vs pro Prabowo hingga sila “Persatuan Indonesia” nyaris mengalami sakaratul maut.

Kawan dan lawan diklasifikasi dengan standar rendah yang sangat tidak masuk akal. Cukup hina Jokowi, Anda akan jadi sahabat kubu Prabowo. Dengan mencaci Prabowo, otomatis Anda dianggap pro Jokowi. Eratnya tali persahabatan itu tidak diukur dengan tingkat loyalitas, tapi seberapa parah hinaan dan cacian itu.

Dan yang paling menyedihkan dari seluruh rangkaian logika mencong itu adalah hilangnya objektivitas untuk sekadar menakar mana yang benar dan mana yang salah. Kalau seseorang sudah menjadi bagian dari kubu Prabowo, pokoknya apapun yang berasal dari Jokowi dan antek-anteknya adalah salah dan tidak benar, kebijakan politiknya, penegakan hukumnya, bahkan cara minum dan berjalannya. Singkat kata, Jokowi adalah antagonis nonstop 24 jam. Sebaliknya, kalau seseorang sudah menjadi bagian dari kubu Jokowi, maka semua hal yang berasal dari Prabowo juga tidak benar, absurd, dan tidak ada benarnya sama sekali. Bagi mereka, Prabowo adalah penjahat sejati yang tidak perlu diragukan lagi keantagonisannya.

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Maa’idah: 8)

 

  • Bagikan
-->