Bikin Resolusi ‘Gak’ Mesti Awal Tahun, Kisanak!

  • Bagikan

Kalau biasanya orang melakukan resolusi tahun baru, tapi tidak bagi saya. Entah kenapa, saya jarang sekali mencatatkan resolusi di akhir tahun. Saya termasuk golongan yang percaya, jika harapan akan selalu ada di setiap saat. Jika kita mau berubah, setiap saat pasti bisa. Tidak harus menunggu tahun berganti atau usia bertambah.

Meskipun menurut sains, bergantinya tahun, atau bahkan minggu, secara alami adalah waktu yang tepat memulai kebiasaan baru atau bekerja mencapai target anyar.Riset menyebutnya ‘efek awal baru’, dan ini bisa membantu kita menemukan motivasi untuk melepaskan diri dari diri kita yang lama. Menurut karya ilmiah yang diterbitkan di Psychological Science,  ‘temporal landmark’ atau perencanaan tanggal dan waktu spesifik lebih bisa menyemangati kita untuk memulai target perdana, ketika kita menganggapnya sebagai awal baru.

Tapi gampangnya begini, bagi mereka yang berpikiran maju, bikin resolusi tidak perlu diawal dan akhir tahun, karena sepanjang hidup, mereka selalu berusaha mengevaluasi dan memperbaharui visi dan misi mereka. Mungkin diawal tahun mereka bikin target, tapi kalo di pertengahan tahun ternyata hal yang diharapakan tidak sesuai ekspektasi, mereka bakal cari cara lain untuk mencapai target, atau mungkin cari resolusi baru. Tujuannya satu, bagaimana biar stay significant dan tetap bermanfaat.

Seorang teman pernah bilang, bahwa baginya resolusi awal tahun adalah proses menggodok semangat juang dalam hidup, supaya dia bisa mengukur kemajuan dan prestasinya dari tahun ke tahun. Teman yang lain berkata, resolusi awal tahun itu hanya sumber stres, karena menurutnya dari sekian banyak keinginan yang tercantum, lebih banyak yang tidak tercapai daripada yang terwujud.

Baris demi baris target dirumuskan, dari mulai janji untuk mulai berolahraga secara rutin, berhenti merokok, mulai memperhatikan pola dan asupan gizi yang lebih sehat, mengurangi konsumsi kafein, dsb. Ada juga yang bertarget tentang hubungan cintanya – baik sudah punya pasangan maupun tidak – yang penting tahun ini bisa menikah. Atau barangkali kita menetapkan resolusi yang berkaitan dengan karier, rezeki dan kesuksesan kita.

Jadi sebenarnya, penyebab sukses tidaknya kita dalam mencapai resolusi bukanlah tentang resolusinya (apakah realistis atau tidak), resourcesnya (uang, koneksi, skill), atau motivasinya, tapu lebih kepada minset progesif yang ada dipikiran kita tiap hari, bahwa apapun ytang terjadi, kita harus selalu maju dan jangan sampai jadi mediocre.

Kalu pola pikirnya sudah benar, tidak terlalu perlulah yang namanya resolusi-resolusi itu. Paling hanya untuk keren-kerenan di social media pas tanggal 1 Januari, kan? Kalau Setiap hari kita selalu bangun pagi dengan satu misi, yaitu untuk terus memanfaatkan potensi kita semaksimal mungkin dan jadi bermanfaat, resolusi tahun baru rasanya sudah tidak relevan lagi.  Karena kita tinggal percaya dan bergantung sama diri kita sendiri. Jadi tahun baru 2019, lebih baik rombak pola pikir. (*)

  • Bagikan
-->