Kamis, 24 Januari 2019

Duhai Garuda Ku, Cengkram Erat Bhineka Di Cakar Mu


Garuda bangsa ku sepertinya tak perkasa lagi. Garuda ku mulai lelah mengepakan sayapnnya melindungi negeri di khatulistiwa ini, mungkin itu bayangan diri ku merasakan keprihatinan bangsa Indonesia dalam ngobrol pintar (ngopi) Minggu sore itu.

Panjangnya waktu tak bersua, menjadikan syaraf di kepala berebut untuk bercerita, mendengar dan tertawa, tanpa harus baper (bawa perasaan) takut menyinggung atau tersinggung menyikapi sakitnya manusia-manusia berperadaban tinggi di negeri Nusantara ini.

Obrolan panjang melepas kenangan, melihat masa depan, hingga menggosipkan masa kini yang hidup tidak lagi harmonis dan selaras. Tidak lagi seperti kehidupan para tetua-tetua bangsa ini. Yup, sepertinya garuda ku mulai lelah mencengkram pita Bhineka.

Sinau bersama alumni latar belakang sosial dan politik tentu pembahasanya tak jauh menerepong kehidupan sosial bangsa ini, menunjuk elit-elit politik yang tidak lagi negarawan – Ups, tapi nggak ada caci maki dan hina dina lho.

Perbincangan hingga pergantian awal hari pun mengkristalkan endapan moral yang dirindukan. Ya, kami rindu dengan interaksi sosial jaman orang tua- orang tua kita yang arif dan bijaksana menyikapi suatu perbedaan. Bukan saja menghormati tetapi turut merasakan keceriaan dari perbedaan.

Apakah garuda ku harus di upgrade, ketika harus roll coster di jaman milenial ini? Tak dapat ditampik pita semboyan Bhineka Tunggal Ika yang engkau cengkram kini mulai melambai-lambai, meski kedua cakar mu berusaha menggenggam sekuatnya.

Manusia-manusia bijak bestari di cincin api ini telah bersepakat membentuk sebuah bangsa dari rangkaian perbedaan. Bahkan jauh menelusuri ratusan tahun silam, manusia-manusia Nusantara tidak kaget dengan perbedaan, atas dasar keluhuran cinta mereka menelan perbedaan sebagai panganan manis dan lezat menikmatinya sambil tertawa – Ya, seperti yang kami lakukan sore itu.

Ketika bumi Eropa menyingkapi perbedaannya dengan membentuk banyak negara (meski dalam ras yang sama), maka bangsa ini lebih dahsyat, perbedaan suku, agama, dan ras malah mendorong membentuk satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia.
Lantas apa yang terjadi dengan manusia-manusia Indonesia sekarang ini? seakan kaget dan shock menyikapi perbedaan. Perilaku saling tepo seliro menyikapi perbedaan menguap kini menjelma caci maki hanya karena perbedaan pilihan presiden.

Ketika sebuah pemilu seharusnya menjadi kegembiraan masyarakat bangsa ini dalam mencantelkan harapannya pada putra terbaik bangsa berubah beringas saling hujat – Meski saling serang cebong kampret ini memperlihatkan jika manusia Indonesia penuh dengan imajinasi dan kretivitas. Terkadang imajinasi liar dalam membela paslon membuat kita tertawa.

Menjahit Pita Bhineka Yang Terkoyak

Jababeka industrial Estate

Obrolan delapan jam sepertinya menyimpulkan kegeraman terhadap pelaku-pelaku yang membungkus kepentingan atas nama Tuhan. Hubungan antara manusia dan Tuhan yang seharusnya menciptakan output kelembutan hati, merebak aura cinta bagi sesama mahluk hidup, tapi kini tak menghiasi dalam interaksi sosial.

bhineka

Sesaat merebaknya spanduk tidak mensholatkan mayat yang tak searah dengan pilihan presiden, membuat diri ini bergetar marah. Betapa dangkalnya pemahaman Ketuhanan, sehingga pengurusan jenasah harus di politisasi – Luka hati yang mendalam ketika kepiluannya tersakiti hanya karena politik.

Mirisnya lagi, robeknya pita Bhineka Tunggal Ika terus berlanjut, diawal tahun ini berita dari tanah celebes kembali mengoyak nilai-nilai keluhuran manusia. Dua buah makam terpaksa harus dibongkar oleh ahli waris yang masih berkerabat akibat perbedaan pilihan caleg – Kuburan menempati tanah kerabat yang maju menjadi calon legeslatif, dan jika tidak memberikan dukungannya meminta makam tersebut dipindahkan.

Ironis tentunya ketika mereka yang telah tidak berkecimpung di alam dunia ini harus menerima akibat dari manusia-manusia masih hidup. Pertanyaannya, dimanakah rasa kemanusian yang dahulu membentuk peradaban negeri ini?

Dalam Islam pun pedoman yang mengatur interaksi antara manusia, antara perbedaan keyakinan, bahkan sesama mahluk ciptaan di luar manusia pun telah diajarkan dengan tidak saling menyakiti, bahkan Baginda Rosul pun mencontohkan dalam perilakunya dalam sebuah kisah, dimana dirinya selalu mendapat hinaan dari seorang tua Yahudi yang buta, namun selalu menyuapinya setiap hari, tanpa memberitahukan yang menyuapinya adalah orang yang dihinanya setiap hari.

Kisah peperangan yang meriwayatkan gigi Rosulullah tanggal dan berdarah ketika melawan musuh, sehingga dari mulutnya darah mengalir deras, betapa amarahnya sahabat dan alam semesta, sehingga dalam riwayat, gunung-gunung meminta ijin kepada Rosulullah untuk membinasakan seluruh musuhnya. Namun hal tersebut tidak diperbolehkan oleh manusia agung tersebut atas nama cinta.

Ketika menyelami ketauhidan pun, Allah memiliki nama Rohman dan Rohim yang maha pengasih dan penyanyang, bahkan surat yang ada dalam Al-Quran pun selalu didahului dengan kalimat Basmalah yang memberikan penegasan bahwa Allah yang maha pengasih lagi penyanyang.

Bukan saja dalam penggambaran nikmat-nikmat yang diberikan Allah, bahkan perkataan Allah yang menyangkut, peringatan, ancaman, dan siksa pun selalu di awali surat Basmalah – dengan kasih sayang. Mengisyaratkan kasih sayang orang tua yang memberikan peringatan, memarahi anak-anaknya agar tidak celaka atau mengalami masalah.

Namun ketika sekarang ini banyak pemuka agama tidak lagi mengajak jamaahnya mendalami nilai-nilai kasih sayang dan lebih banyak membahas politik, maka mereka adalah politikus. Ketika mereka bicara kasar dan caci maki, maka apalah beda tutur kata mereka yang menyucikan diri dari hawa nafsu dengan preman di warung kopi.

Ngopi bareng sambil menderas fenomena bangsa ini yang kaget dengan perbedaan,terpisahkan lonteng jam pergantian hari, tetapi kami berharap Garuda ku tetap perkasa mencengkram pita Bhineka Tunggal Ika di bumi pertiwi ini.

BACAAN TERKAIT