Fiqih Darah Perempuan: Istihadah yang Bikin Galau

  • Bagikan

Kaum perempuan merupakan makhluk istimewa yang biasa menerima “tamu” rutin setiap bulan. Namun acapkali tamu ini datang diluar dari kebiasaan rutinnya. Kadang terlalu lama, kadang terlalu sebentar, kadang malah pergi begitu saja tanpa permisi dan salam kayak jelangkung. Hehehe.

Tamu istimewa berupa haid bulanan yang kadang-kadang bersifat luar biasa ini yang membuat kita *eh saya, yaudahlah kita ajah ya, sapa tahu kamu juga pernah ngalamin~ merasa was-was untuk menentukan: “Nih udah kelar belum sih? // Kita sudah boleh sholat belum ya? // Udah boleh puasa gak ya? // Udah boleh wik wik wik bareng suami belum ya?” Duh, nelangsa 😥

Galau rasanya. Apalagi kalau terjadi pas di bulan Ramadhan. Mau lanjut ibadah wajib takut malah dosa, gak ibadah merasa rugiiiii. Takut hilang kesempatan meraih sebanyak-banyaknya pahala di bulan mulia. Ya Allah~

Nah, mangkanye nih, saya coba meresensi isi kitab FIQIH DARAH PEREMPUAN karya Muhammad Nuruddin Marbu Banjar Al Makky, tepatnya di Bab 2 yang membahas tentang Istihadah. Rata-rata kita tentu pernah mendengar istilah istihadah ini. Namun bagaimana sifat dan hukum yang melingkupinya kayaknya sebagai perempuan wajib untuk kita ketahui. Biar sewaktu-waktu kalau mengalami gak bikin galau dan was-was lagi.

Kita mulai ya, Mpok….

Darah haid berbeda dengan darah Istihadah. Mereka bisa jadi dekat, namun bukan sodara (apaan seh?😑).

Dari Aisyah r.a., bahwa Fatimah binti Abi Hubaisy sedang beristihadah, Rasulullah Saw berkata kepadanya:

” Darah haid adalah darah hitam yang sudah dikenal. Bila darah itu yang keluar maka tinggalkanlah shalat, namun bila darah yang lain maka berwudhu dan shalatlah!”

Nah, Al Istihadah secara bahasa bermakna aliran atau keluarnya darah terus menerus diluar waktu biasanya. Sedangkan secara syariat adalah darah yang keluar diluar hari-hari haid dan nifas (tau dunk nifas) karena adanya penyakit atau kelainan pembuluh darah di rahim bagian bawah (tau dunk maksudnya apa).

Istihadah ini ada 5 macam yaitu:

1. Darah yang keluar kurang dari masa haid.

Minimal masa haid adalah sehari semalam. Jika darah yang keluar kurang dari sehari semalam maka darah tersebut bisa disebut sebagai darah istihadah. Gak usah berasa serem dulu, lanjut no.2.

2. Darah yang keluar lebih dari masa haid

Umumnya masa haid itu kan 6 s.d. 7 hari. Namun maksimal masa haid adalah 15 hari termasuk malamnya. Jadi meskipun darah haid kamu tidak mengalir secara berkesinambungan atau bila dijumlah total hanya mengalir selama sehari semalam, selama masih keluar dalam kurun waktu 15 hari, maka kamu masih dianggap sedang haid. Nah, darah yang keluar lebih dari 15 hari itulah yang dapat dikatakan sebagai darah istihadah.

3. Darah yang keluar sebelum usia  haid atau setelah masa menopause

Jumhur ulama mengatakan bahwa umur minimal perempuan mendapatkan haid adalah 9 tahun. Sedangkan pendapat yang paling mu’tamad (dijadikan pegangan) tentang masa menopause adalah direntang usia 50 s.d 70 tahun. (Kalau kamu ada direntang usia ini, plis tetep lanjutin bacanya, insya Allah bisa didongengin ke anak cucu. Hehehe *maksa)

4. Darah yang keluar lebih lama dari maksimal masa nifas.

Batas maksimal masa nifas adalah 40 hari. Jika setelah 40 hari tanpa jeda ada keluar darah, maka darah tersebut bisa dikatakan darah istihadah.

5. Darah yang keluar lebih dari masa haid dan nifas

Seringkali seorang perempuan langsung mengalami haid setelah jeda 1 s.d. 3 hari dari nifas. Maka darah yang keluar lebih dari masa haid setelah nifas adalah istihadah.

Masa suci minimal adalah 15 hari. Apabila darah haid dianggap mengalir selama 15 hari, maka darah haid tersebut sebenarnya telah bercampur dengan darah istihadah. Untuk kasus ini dihukumi berdasarkan empat keadaan seorang perempuan, yaitu:

1. Mubtadiah ghairu mumayizah. Artinya pemula yang tidak dapat membedakan. Yaitu keadaan seorang perempuan yang belum pernah mendapat haid namun sudah masuk usia haid dan mengeluarkan darah selama 15 hari sehingga tidak dapat mengidentifikasi jenis darah tersebut.

Menurut Mazhab Syafi’i dan Imam Ahmad, haidnya dihitung sehari semalam. Dan hari selebihnya dianggap bukan haid melainkan istihadah. Namun beberapa ulama lain berpendapat bahwa haid-nya dihitung 6 s.d. 7 hari sebagaimana umumnya perempuan haid. Sedangkan sisa hari lainnya dianggap masa suci. Monggo dipilih ajah enaknya yang mana. Ini berguna pas kita mau menghitung jumlah puasa fardhu yang wajib diqodo alias diganti.

2. Mubtadiah mumayizah. Artinya pemula yang dapat membedakan. Yaitu perempuan yang belum pernah haid namun ia mampu membedakan jenis darahnya berdasarkan kuat dan lemahnya darah tersebut keluar. Jadi bukan tekad mencintai seseorang dan mengurangi berat badan ajah yang bisa kuat dan lemah oleh keadaan, darah haid juga 😛

Jadi gini, apabila darahnya lemah namun lama waktunya maka itu adalah darah istihadah. Jika darahnya kuat dan masa keluar tidak kurang dari batas minimal masa haid dan tidak melebihi batas maksimal haid maka itu adalah darah haid. Darah yang lemah namun tidak kurang dari batas minimal masa suci yaitu 15 hari, tetap disebut darah haid. Nah, loh! Yang bingung pegangan. Lanjut dulu bacanya…😅

Ibnu Hajar Al Haitami berkata darah dikatakan kuat atau lemah berdasarkan 3 sifat yaitu warna, kekentalan, dan bau tak sedap. Gitchuuu…

3. Mu’tadah ghairu mumayizah. Artinya terbiasa namun tidak dapat membedakan. Yaitu perempuan yang pernah mengalami masa haid dan masa suci namun tidak bisa membedakan jenis darah yang keluar. (Yang ini kayaknya ngomongin saya 😑)

Untuk yang menemani saya berada ditahap ini, jadi gampangnya begini, ada seorang perempuan memiliki kebiasaan haid selama 7 hari, namun dihari ke 8 ia melihat darah masih mengalir, maka ia wajib menahan dirinya untuk menjalankan shalat dan ibadah lainnya sampai batas waktu 15 hari. Jika sudah melampaui 15 hari darah masih keluar, maka darah tersebut adalah darah istihadah. Maka lanjutkanlah Ibadahnya. Hehehe

4. Mu’tadah Mumayizah. Artinya terbiasa dan dapat membedakan. Yaitu perempuan yang mempunyai kebiasaan haid yang tetap, baik kadar maupun waktunya, dan Ia bisa membedakan darah yang keluar dari sisi kuat dan lemahnya.

Buat perempuan pinter kayak gini, maka hukum ditetapkan berdasarkan pengetahuannya, bukan tradisi atau kebiasaannya. Apalagi kebiasaan tetangga sebelah *eh.

Jadi ketika ia terbiasa haid selama 5 hari, namun ia melihat darah hitam terus keluar dan berlangsung selama 10 hari awal dan darah merah dihari lainnya, maka haidnya adalah 10 hari bukan 5 hari.

Jadi, jelasnya kalau darah istihadah itu berbeda dengan darah haid. Dan hukum-hukum yang berkaitan dengan masa istihadah sama dengan masa suci. Jadi meski kita sedang istihadah, kita boleh melakukan ibadah apa saja yang biasa kita lakukan pas masa suci. Tapi tetap ada aturan-aturan yang membedakan. Karena kan sebenarnya yang sedang beristihadah itu cuma dapat toleransi. Kondisinya dianggap darurat.

Nah, berikut ini hukum-hukum yang berkaitan dengan perempuan yang mengeluarkan darah istihadah. Perempuan dalam kondisi seperti ini dinamakan mustahadhah; hukumnya yaitu sebagai berikut:

1. Darah istihadah tidak menghalangi mustahadhah untuk menjalankan ibadah sholat dan puasa karena istihadah adalah hadats yang bersifat permanen. Sama halnya dengan mengompol, keluarnya madzi dan buang air besar.

2. Mustahadhah yang hendak mendirikan sholat diharuskan mencuci kemaluannya sebelum berwudhu. Jika kondisinya harus bertayamum, maka wajib menggunakan pembalut untuk menyumbat dan menampung darah yang keluar. Biar gak berceceran gitu loh. ~Udah tahu, Mbak! Gak usah dibilangin~ yowis lanjut…

3. Mustahadhah harus berwudhu setiap masuk waktu dan hendak mendirikan sholat. Apabila ia wudhu sebelum waktu sholat lantas mengeluarkan darah meski hanya setetes, maka wudhunya batal. Namun apabila ia berwudhu setelah masuknya waktu sholat maka hal tersebut bisa ditolerir, wudhunya tidak batal. Sungguh memudahkan kannnn.

4. Mustahadhah harus segera mengerjakan sholat begitu selesai wudhu untuk meminimalkan hadats yang akan terus berulang. (Keluar terus maksudnya).

5. Mustahadhah harus berwudhu setiap kali sholat fardhu dan tidak boleh sholat dengan wudhu tersebut lebih dari satu kali sholat fardhu. Bersamaan dengan itu ia juga wajib membasuh kembali alat kelaminnya, menyumbat dan membalutnya. Kayak point 2 di atas yaaa.

6. Mustahadhah tidak wajib mandi untuk mendirikan sholat dan ketika sembuh (darah berhenti mengalir). Jadi cuma bersih-besih dan wudhu ajah.

7. Mustahadhah tidak boleh menjamak dua sholat kecuali dalam keadaan safar (sedang bepergian jauh). Jangan mentang-mentang dikasih toleransi seperti orang sakit, jadinya ngelunjak minta sholat di jamak juga. Hehehe

8. Mustahadhah diperbolehkan untuk melakukan i’tikaf sepanjang tidak mengotori mesjid dan thawaf dengan didahului mandi dan membalutnya serta boleh membaca Al Qur’an. Cakep kan!

9. Mustahadhah boleh bersetubuh dengan suaminya. Semua ahli fiqih bersepakat tentang ini. So, jangan ragu untuk tetap melayani suami agar beliau tidak terjatuh pada perbuatan terlarang. 😄

Lebih lanjut dalam hal taharah, Mustahadhah yang selesai berwudhu dan darahnya berhenti tuntas sehingga sembuh dari istihadahnya maka ada beberapa kondisi yang menjadi penentu hukumnya, yaitu:

1. Jika itu terjadi setelah mengerjakan sholat, maka sholatnya sah namun wudhunya batal sehingga ia harus berwudhu lagi jika ingin mengerjakan sholat lainnya.

2. Jika itu terjadi sebelum mengerjakan sholat, maka wudhunya batal. Harus mengulang wudhu jika ingin sholat. Itu karena kesembuhannya membatalkan toleransi dan keadaan daruratnya.

3. Jika darah berhenti saat mengerjakan sholat, maka sholat dan wudhunya batal.

4. Adapun ketika ia berwudhu kemudian darah terhenti namun biasanya akan kembali mengalir lagi beberapa saat kemudian, maka ia boleh segera sholat jika jeda waktu berhenti darahnya singkat. Tetapi harus mengulang wudhu lagi jika jeda waktu berhenti darahnya cukup lama.

Lebih jelasnya Al Baghawi berkata:

“Bila seseorang memiliki luka yang tidak mengalirkan darah kemudian tiba-tiba darahnya keluar di tengah sholat, atau darah istihadah keluar di tengah sholat, ia harus menghentikan sholat untuk mencuci kotorannya -dan berwudhu untuk mustahadhah- lalu mengulangi sholat dari awal.” (Al Majmu’ 2/559).

Demikian sekiranya yang bisa saya rangkum dari Bab Istihadah ini. Semoga dapat memberikan manfaat bagi kawan-kawan yang membaca. Mohon maaf jika ada yang terkesan sotoy dan menggurui. Yang benar datangnya dari Allah. Kalo yang salah, ya jelas dari kamu. Bukan saya! *nyolot 😂😜

  • Bagikan
-->