Jangan Bodoh di Depan Muallaf

  • Bagikan

Kemarin, aku melakukan hal yang kupikir sangat bodoh dan tidak sensitif.

Jadi ceritanya rumahku mau direnovasi total, otomatis kami sekeluarga sementara harus pindah dulu ke tempat lain. Kurang lebih 3 bulan pekerjaan renovasi baru selesai kata pemborongnya.

Kami memutuskan untuk menyewa sebuah rumah yang jaraknya kurang lebih 100 meter dari rumah kami. Sengaja tidak jauh-jauh agar bisa ikut memantau para tukang yang bekerja. Beberapa barang kami titipkan di rumah mertuaku yang letaknya memang di sebelah rumahku yang akan direnovasi. Karena rumah yang ku sewa tidak cukup besar untuk menampung semua barang.

Aku berberes dari pagi. Bertahap mengepak barang yang sekiranya bisa dititipkan terlebih dahulu. Saat sedang sibuk memindahkan barang-barangku, dengan maksud bercanda. Aku menggoda Ibu mertuaku.

+ “Mami masak apa nanti malam? Bikin mie panjang umur, nasi ayam hainan, sapo tahu, capcay udang, dimsum rebus atau apa?”

– “Lah, memang ada apa masak-masak banyak gitu?”

+ “Kan besok imlek….

Mertuaku memang seorang perempuan keturunan hokian. Beliau masuk Islam ketika menikah dengan Bapak mertuaku.

Sekilas aku melihat perubahan di mata dan mimik wajah Mami. Matanya sedih dan langsung berpaling ke arah yang lain. Aku pun diam. Belum mengerti apa yang terjadi malahan lanjut berceloteh bercanda tentang angpao yang biasa diperoleh anakku dari saudara Mami yang berkunjung ke rumahnya. Hahaha.

Sampai saat suamiku pulang dan ikut membantuku memindahkan barang-barang. Sialnya, suamiku juga turut menggoda Ibunya.

+ “Mami masak apa nih, besok kan Imlek. Gong Xi Fat Cai… Gong Xi-Gong Xi…”

– “Memang kenapa Mami harus masak?”

+ “Lah kan Imlek-an. Rayain lahh….”

– “Loh, koq nge-rayain. Memangnya kita ngeraya-in. Buat apa dirayain?”

Astaghfirullah,,,,

Kini aku mengerti arti tatapan sedih mertuaku tadi. Mami tak suka dibercandai tentang hal ini. Mungkin ia sedih dan kecewa. Koq bisa, menantu yang dengan wajah sumringah pernah diceritakannya kepada saudara dan kawan-kawannya sebagai guru ngaji anak-anak, mengisi pengajian sana-sini, menulis ini-itu tentang agama, koq malah bercanda tentang keyakinan lamanya. 😭

Sungguh aku tak peka. Padahal Mami berulang kali bercerita tentang kisahnya yang sendirian menjadi Muallaf diantara 10 saudara kandungnya yang lain. Meninggalkan keyakinan lamanya yang ia anut dari lahir. Menggenggam keyakinan baru bersama keluarga barunya, yang kini termasuk aku di dalamnya.

Aku melihat kerasnya perjuangan Mami untuk belajar mendalami Islam. Diantara kami, beliau-lah yang paling rajin berpuasa sunnah. Sholat dengan jeda gerakan paling lama, menyempurnakan tuma’ninah. Lalu berdoa, mengangkat kedua tangannya sampai aku berasa gak sabaran ngantri mukena saat sedang main ke rumahnya. “Mami, cepetan dunk. Rara keburu kentut nih” kataku, dalam hati tapi. Mana berani….🙈

Mami juga rajin hadir di pengajian. Ada yang rutin mingguan, bulanan dan undangan bahkan di tempat yang lumayan jauh dari tempat tinggal. Padahal usianya tak lagi muda. Sudah lewat dari angka 65 tahun. Salut aku dibuatnya.

Tapi dengan semua pengetahuanku akan perjuangannya itu, tega-teganya aku, menantu perempuan satu-satunya, bertingkah bodoh dengan mengingatkannya tentang keyakinan lamanya. 😥

Keyakinan yang ku tahu pasti memberi bekas kenangan terindah saat hari raya bersama orangtua dan saudaranya. Dan ia, entah dengan suasana hati apa saat itu memilih tak lagi sama dengan mereka. Syukurlah silahturahim antara mereka masih sangat terjaga.

Aku pernah merasakan diajak berada ditengah mereka. Bersama om, tante, cece, cici, sepupu dan nenek yang berbeda keyakinan tapi tetap bisa merasa seru, asik dan bahagia.

Seru karena harus menebak-nebak apa yang mereka bicarakan dengan bahasa Ibunya (mandarin). Asik karena banyak makanannya. Dan tentu saja bahagia karena aku kenyang *eh 🙊😅. Suasana yang sangat ceria dan menggembirakan. Hijabku yang tergerai lebar dan panjang sama sekali tak menjadi penghalang tumbuhnya kebahagiaan bersama mereka.

Keluarga yang sangat plural dan demokratis menurutku.

Begitulah. Aku menyesali perkataanku. Terkadang hawa nafsu untuk selalu ingin tertawa bahagia membuat kita tergelincir tanpa sengaja menyakiti hati orang lain bahkan keluarga kita sendiri. Tentu aku sama sekali tak berniat menyakiti hati Ibu mertuaku. Hanya bercanda. Tapi setelah kupikirkan kembali saat melihat reaksinya, sungguh bisa memberi akibat yang fatal di hatinya.

Berpindah keyakinan bukanlah hal yang mudah. Pelakunya bukan saja butuh ketetapan hati dan kebulatan tekad untuk melakukan dan menghadapinya, namun juga dukungan orang-orang di sekitarnya.

Mungkin inilah yang membuat para muallaf dimasukan dalam golongan penerima zakat. Zakat bisa dianalogikan sebagai hadiah yang diharapkan dapat menyenangkan dan mengikat hati mereka. Bisa juga diberikan karena ada kemungkinan perpindahan keyakinan yang mereka lakukan membuatnya bukan saja terputus dari keluarganya tapi juga mata pencahariannya. Zakat diharapkan bisa menolong mereka.

Seorang sahabat pernah menghubungiku. Beliau mendapati seorang perempuan muallaf yang pernah tampil di tv untuk menceritakan kisahnya berpindah keyakinan, luntang-lantung di kawasan dekat rumahnya. Beliau kehabisan bekal untuk pulang ke rumahnya di kawasan Jawa timur karena hartanya baru saja habis digunakan untuk membayar hutang kepada pemuka agama keyakinannya yang lama.

Sahabatku mengirim fotonya, dan ku kenali sosok tersebut memanglah orang yang sama. Aku berusaha menghubungi beberapa orang yang ku tahu pernah terlihat tampil bersamanya untuk sekedar memberitahu keberadaannya dan mengkonfirmasi ceritanya. Namun beberapa pihak yang ku telepon entah mengapa kompak tidak mengangkat teleponnya.

Akhirnya ku putuskan untuk segera membantunya. Tanpa mau dipusingkan dengan pikiran khawatir dibohongi dan menjadi korban modus penipuan. Sahabatku berpendapat sama. Tapi dia curanggggg. Dia se-enaknya mengambil alih dan memonopoli pemberian bantuan terhadap perempuan tersebut. Seperti ingin memborong pahala sendiri, ia mengeluarkan uangnya sendiri untuk mengongkosi muallaf tersebut pulang ke kotanya. Malahan tadinya ia sendiri yang mau mengantarnya pulang. Namun urung. Mungkin karena kondisi kesehatannya. Maklum sudah tua 😛

Jadi sekiranya di sekitarmu ada seorang muallaf, ku sarankan berhenti mempertanyakan bahkan meributkan penyebabnya berpindah keyakinan. Jangan juga jadikan keyakinan lamanya sebagai bahan bercandaan. Genggam saja tangannya dan ikutlah berperan dalam membahagiakannya. Agar dengungan tentang Islam sebagai agama ramah, damai, tenang dan menentramkan bukanlah sekedar celotehan kisah dan kejayaan yang ada di masa lampau belaka. Namun bersama dapat kita wujudkan untuk hadir di masa kini. Masa yang kita hidup di dalamnya.

  • Bagikan
-->