Pendakian Bukan Sekedar Ajang Eksistensi

  • Bagikan

Pendakian merupakan kegiatan alam bebas yang memerlukan pengetahuan, bukan sekedar kekuatan fisik dan mental. Pengetahuan yang cukup tentunya menjadi bekal untuk meminimalisir resiko jatuhnya korban jiwa ketika melakukan kegiatan pendakian.

Lantas bagaimana dengan banyaknya pendaki yang hilang di gunung atau meninggal di gunung karena tersesat atau tergelincir? Jika mau bicara diluar konteks takdir Allah, tentunya kita bisa pastikan disebabkan kurangnya pengetahuan tentang gunung tersebut.

Sebenarnya sih untuk pendaki jaman sekarang lebih terjamin keamanannya. Artinya pengelola dan teknologi yang berkembang saat ini mampu memperkecil resiko kecelakaan, dan pastinya berbanding jauh pada dekade 90-an, dimana akses informasi masih sangat minim.

Nggak percaya? Coba aja tanya para pendaki lawas, apakah mereka memiliki GPS – jangankan bayangin GPS terkadang peta kontur aja harus minjam. Tapi disitulah mereka benar-benar mengasah keterampilannya dalam membaca medan pendakian.

Ketika kita menengok pendakian jaman sekarang tentunya resiko korban jiwa akan semakin kecil, tapi kok malah sebaliknya, saat ini malah sering terdengar kabar banyaknya pendaki yang tersesat atau tewas di gunung.

Bagi pendaki jaman now, tentunya mereka sudah nggak asing lagi dengan GPS atau Global Position Satelit, dimana keberadaan lingkungan sekitar dan diri kita dapat diketahui melalui sebuah gadget. Bahkan setiap smartphone saat ini memiliki aplikasi GPS baik online maupun yang offline. So, sebenarnya kita telah terbantu ketika tersesat.

Point disini pendaki tidak lagi membutuhkan peta kontur dan kompas hanya untuk menentukan posisi kita ditengah lebatnya hutan. Mereka tidak lagi peduli punggungan dan lembah, tidak lagi menyamakan arah peta dan arah kompas, kontur ketinggian. Semua terbungkus dalam GPS.

Menerapkan ilmu klasik navigasi dengan meninggalkan jejak pada setiap batasan pandangan dengan benda-benda penanda – bisa menyimpulkan pita, tali, atau benda-benda yang mengidentifikasikan bahwa manusia pernah melewati area tersebut.

Jika pun telah tidak ada lagi barang yang berfungsi untuk menandakan keberadaan kita, maka pengetahuan dengan mengunakan benda yang ada di alam pun dapat dilakukan dengan menyusun rating pohon atau bebatuan yang memperlihatkan bahwa benda-benda alam tersebut bukan terbentuk alamiah maupun hewan, sehingga mempermudah lokalisir tim SAR dalam pencarian.

Bahkan untuk mengetahui bahwa seseorang menjadi korban atau tersesat pun dapat diketahui lebih dini dengan adanya alat komunikasi, atau sinyal yang dipancarkan oleh alat komunikasi, sehingga petugas langsung cepat mengetahui peristiwa yang terjadi. Sehingga waktu terpangkas dan memberikan kemungkinan survival dapat terselamatkan.

Dibandingkan ketika smartphone belum ada, tentunya untuk menyampaikan sebuah peristiwa yang terjadi diatas gunung dilakukan dengan turun menuju pos penjagaan dan melaporkan peristiwa yang terjadi diatas gunung, kemudian membentuk tim, dan melakukan evakuasi. Begitu juga dengan survival yang tersesat,kecepatan informasi yang masuk sangat berpengaruh dengan persentase keselamatan korban.

Peralatan pendakian pun semakin baik dan efisien. Ketika ada korban yang mengalami hipotermia pun kini sudah ada peralatan yang ringkas untuk membungkus korban, hingga suhu tubuh menjadi normal kembali. Jalur pendakian yang dirawat atau informasi gunung yang akan didaki melalui internet.

Artinya kemajuan teknologi peralatan pendakian dan gadget mampu meminimalisir resiko kematian bagi seorang pendaki. Lantas permasalahan apa sehingga banyak informasi adanya pendaki yang tersesat atau meninggal di gunung?

Mengurai hal tersebut, tentunya hal ini tidak lepas dari kemajuan teknologi yang juga memiliki nilai negatif dalam hal penyebaran informasi. Dari film yang menampilkan cerita pendakian dan keindahan alam, foto-foto yang memperlihatkan eksistensi dirinya.

Eksistensi dan minimnya pengetahuan

Pesatnya informasi tentang keindahan alam yang dapat dilihat setelah melakukan pendakian gunung, membelah hutan raya, dan perjalanan puluhan kilo meter menanjak,membuat setiap orang ingin merasakan pengalaman tersebut.

Akibatnya demi eksistensi para pendaki yang sekedar ingin tahu puncak gunung atau keindahan alam, nekat melakukan pendakian tanpa memiliki pengetahun hutan rimba atau navigasi yang cukup. Diperparah dengan sikap ingin dilihat atau diakui kalo kita sudah sampai di puncak gunung ini atau di puncak gunung itu.

It,s oke, sebenarnya hal itu nggak masalah di jaman medsos yang memaksa kita memamerkan eksistensi. Tapi alangkah amannya, bagi pendaki untuk memiliki rasa ingin tahu, seperti apakah pengetahuan yang dibutuhkan dalam pendakian, seperti ilmu navigasi maupun survival.

Kasus terbaru dengan adanya pemberitaan pendaki yang hilang di Gunung Lawu karena mereka melakukan balapan bersama teman-temannya. Tentunya hal ini sangat dilarang bagi mereka yang belum berpengalaman terhadap pengenalan medan disekitar gunung tersebut.

Sebagai catatan, umumnya tersesatnya pendaki ketika turun dari puncak, dan tentunya lebih asyik menuruni gunung dengan cara berlari. Tapi hal inilah yang membuat pendaki tidak membaca medan dengan cermat. Hasilnya mereka akan menyadari tersesat ketika jalur semakin rapat dan mengecil.

Tidak adanya pengalaman dan pengetahun survival dan navigasi membuat pendaki panik, dan terus bergerak tanpa memperhatikan kondisi alam disekitarnya. Sehingga survival akan tersesat lebih jauh dengan kondisi akal yang tidak berjalan karena panik.

Padahal ketika menyadari telah tersesat maka pilihannya adalah untuk berhenti dan menenangkan diri, berpikir untuk membuat perlindungan atau mencari sumber air, perhatikan lumut di pepohonan untuk mendapatkan arah, jika harus melanjutkan perjalanan maka tinggalkan jejak sebagai tanda keberadaan kita.

Nah, bagi pendaki jaman now, eksis nggak haram tapi pengetahuan pendakian juga wajib hukumnya. Salam rimba, salam cekrek upload!

  • Bagikan
-->