SEVENTEEN, Tsunami dan Potret Buruk Akhlak Komunal Kita

  • Bagikan

Awalnya saya kurang mengerti kenapa grup band ini bernama Seventeen. Apakah mengikuti jejak senior mereka, Dewa 19 yang mencantumkan angka 19 karena itu adalah umur rata-rata personel band saat rekaman album pertama? Entahlah, ternyata sulit juga mencari data otentik tentang grup band ini. Karena google selalu mengarahkan hasil pencarian ke grup seventeen asal korea. Bukan seventeen yang dari Yogyakarta.

Lagu yang paling saya ingat dari band yang terbentuk di tahun 1999 ini berjudul “selalu mengalah”. Dirilis tahun 2008, lagu ini berhasil menjadi lagu yang bagian reff-nya paling sering saya nyanyikan dihadapan Emak saya. “Mengapa selalu aku yang mengalah…..” padahal kan adik saya yang salah. 😥

Loh koq jadi curcol?! Abaikan!

20 tahun malang melintang di belantika musik Indonesia dan terus berkarya membuat seventeen berhasil menjadi band papan atas indonesia yang memiliki banyak penggemar setia. Band yang digawangi oleh Riefian Fajarsyah (Ifan) sebagai vokalis, Herman Sikumbang (Herman) sebagai Gitaris, M. Awal Purbani (Bani) sebagai bassist dan Windu Andi Darmawan (Andi) sebagai drummer telah berhasil mencetak 6 album yang dilempar ke pasar musik major Indonesia.

Sabtu, 22 Desember 2018 merupakan hari bersejarah yang menjadi penutup karier band Seventeen. Seventeen menjadi korban bencana tsunami saat memenuhi undangan acara family gathering PLN, di Tanjung Lesung Pandeglang, Banten. Dalam video amatir berdurasi kurang dari 2 menit, terlihat Ifan dan kawan-kawan yang sedang beratraksi di atas panggung membawakan lagu-lagu mereka diterjang oleh ombak yang datang dari arah belakang panggung. Tsunami yang diakibatkan oleh longsoran anak gunung krakatau yang datang tanpa tanda dan peringatan ini menyapu panggung dan tempat acara yang hanya berjarak 3 – 4 meter dari bibir pantai.

Beberapa jam setelah kejadian, Ifan melalui akun instagramnya menyatakan diri selamat. Namun Bani, sang bassist tewas dilokasi panggung, bersama dengan Oki, Road Manajer Seventeen.  Keesokan harinya, mayat Herman dan Ujang (additional player) ditemukan. Dan pada hari senin, 23 Desember 2018, setelah melalui pencarian yang panjang, jenazah sang drummer, Andi akhirnya ditemukan.

Kemudian, Senin malam 24 Desember 2018, satu jam yang lalu dari saya menuliskan kisah ini, istri tercinta Ifan, Dylan Sahara pun ditemukan. Namun naas, Dylan yang merupakan mantan presenter program infotainment yang kini maju sebagai calon anggota legislatif rupanya juga tidak selamat. Beliau ikut berpulang bersama ke-3 personel Seventeen lainnya.

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Tak terbayang rasanya menjadi Ifan. Sepanjang 2x 24 jam ini beliau berbagi cerita tentang menanti kabar dari orang-orang terkasih. Doa dan harapan terus dimunculkan, berharap ada yang selamat. Berharap musibah ini tak menyisakan kesendirian untuk dirinya. Postingan yang teramat menyayat hati, namun malang bagi Ifan tak semua orang sudi berempati terhadap hal yang menimpanya.

Kematian orang-orang terdekat Ifan dalam waktu yang bersamaan rupanya tak berhasil menyentuh hati para “penceramah” sosial media untuk sejenak menahan jari dan lisannya memunculkan kata-kata bernada doa namun diselingi sindiran dan hujatan. Astaghfirullah hal adzim…

Wahai para Ustadz dan Ustadzah dadakan yang begitu ciamik menebar “nasihat” di akun orang-orang yang telah wafat sambil menghakimi jalan almarhum menyalurkan minat bakat dan mencari nafkah, cobalah sesekali tengok kitab Syekh Yusuf Qaradhawi. Buka bab tentang fatwa beliau mengenai musik dan bermusik.

Jika sudah membaca dan antum tetap tak sepaham, tak mengapa. Asalkan antum tahu bahwa ada pemikiran-pemikiran lain tentang segala hal diluar apa-apa yang sudah antum nyatakan sebagai sesuatu yang paling benar (sendiri).

Tapi saya tak ingin mengajak antum berdebat tentang kehalalan dan keharaman musik. Cukuplah kita mengimani keyakinan akan tafsiran dari hadis dan pendapat jumhur ulama yang sudah banyak membahas tentang ini.

Seperti yang Ustadz muda harapan bangsa, Dinar Zul Akbar katakan, Kita tidak boleh serta merta menyangkutkan orang terkena azab karena musik. Karena permasalahan musik ini bukan haram yg maklum minad din bidh dhoruroh alias suatu perkara yg ketetapan haramnya sudah mutlak. Berbeda dengan zina dan riba yang sudah jelas keharamannya.

Nah, ketika sesuatu tidak mutlak haram maka pelakunya tidak boleh diingkari dalam artian dianggap melakukan suatu dosa besar dan sebagainya. Bahkan sekalipun ada orang yang mati dalam keadaan zina, tetap wajib bagi kita untuk menjaga lisan.

Dari rentang waktu yang menyisakan kesuraman di area selat sunda ini, kita bisa melihat betapa banyak orang yang menyumbang komentar pedas mengenai tragedi yang menimpa Seventeen. Mereka menganggap personil Seventeen yang wafat, mati dalam keadaan su’ul khotimah. Ajal menjemput mereka ketika sedang jingkrak-jingkrak di panggung melakukan sesuatu yang diharamkan agama, bermaksiat kepada Allah. Innalillah…

Akun instagram Ifan pun tak luput dari komentar-komentar senada. Ifan yang saya yakini sedang mencari penyaluran kegalauan menanti, bertahan di lokasi bencana demi segera mendapat kabar tentang kawan dan istrinya, mencoba berbagi beban dengan para followers yang mungkin sedikit banyak bisa mengurangi lelah dan gundahnya. Namun rupanya nafsu berceramah kita lebih menggebu daripada nurani yang seharusnya melahirkan rasa kasihan dan empati.

Bukan hanya Ifan, netizen pun menyampaikan belasungkawa atas kematian Aa Jimmy. Seorang komedian bernama asli Argo yang dikenal suka menirukan gaya Aa Gym. Tapi sayang, banyak sekali yang lagi-lagi menyampaikan kalimat belasungkawanya dengan ditambahi bumbu-bumbu membongkar pilihan politik dan sikapnya di masa hidup yang mereka anggap salah. Netizen men-skrinsyut beberapa cuitan medsosnya yang dianggap jahil. Dan mengkaitkan musibah yang menimpa beliau sebagai akibat dari cuitan tersebut. Belakangan malah terkuak fakta bahwa akun yang skrinsyut-nya mereka sebarkan tersebut bukanlah akun asli almarhum Aa Jimmy. Melainkan akun kloningan dari pihak yang tidak bertanggung jawab.

Duh, betapa jari dan nafsu kita lebih cepat dari cahaya *eh kemampuan kita untuk berpikir.

Kita tega menyampaikan kritik tajam ditengah duka yang mendera saudara sebangsa kita. Yang mungkin alih-alih membuat mereka tersadarkan lalu bertaubat, malah menaburi garam di luka yang terbuka.

Kawan-kawan yang budiman, saya berhusnudzon bahwa maksud antum baik. Antum berdakwah dan ingin menyampaikan kebenaran sebagai pengingat bagi orang lain. Namun mengapa sangat tergesa sekali hal ini dilakukan. Tak bisakah kita mengambil jeda sebentar, memberi ruang bagi hati yang terluka untuk bernapas menggapai apapun yang bisa sedikit mengurangi rasa sakit? Tidakkah kita berpikir bahwa kata-kata kita, bukannya menambah semangat hidup malahan bisa menyakiti keluarga, istri, anak dan orangtua almarhum.

Dakwah adalah tugas seluruh manusia. Dakwah di saat duka dan petaka tidaklah salah. Namun ada waktunya. Ada caranya. Ada adab yang harus kita kedepankan. Ada empati yang lebih utama kita munculkan terlebih dahulu.

Bukankah kita lebih baik mengulurkan tangan untuk membantu mereka? Menawarkan dekapan dan genggaman tangan sebagai ungkapan yang menyatakan bahwa mereka tak sendirian menghadapi ini. Ada kita. Ada Allah yang bersama kita. Selayaknya kita berharap mereka yang ditinggalkan tak hilang arah untuk kembali bangkit dan melangkah demi melanjutkan hidup.

Bukankah lebih baik kita menahan diri dari membuat tulisan yang memvonis dan mengadili para korban. Jangan tambah beban psikologis mereka dengan “jahat”nya lisan kita yang bernafsu ingin sekedar mengingatkan. Bayangkanlah jika tragedi ini menimpa kita. Betapa sedihnya, betapa berat ujian yang harus dilewati.

Maka meski ilmu kita banyak, tetaplah utamakan untuk mengedepankan adab dalam menyampaikan kebenaran, memberi nasihat dan memperlakukan Saudara kita yang sedang dirundung kemalangan. Mari berusaha menjadi muslim yang sempurna dengan menjaga diri kita dari tindakan menyakiti orang lain.

Seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya”.

(Hadits Shahih, Riwayat  Muslim, Lihat Shahiihul jaami’ no. 6709)

Kini atas nama Seventeen, Ifan pamit dan memohon maaf jika selama bermusik beliau dan kawan-kawannya yang telah berpulang pernah betbuat kesalahan. Mari buka hati kita untuk memaafkan mereka dan sama-sama kita do’akan yang terbaik.

Semoga Ifan dapat segera bangkit dan merajut kembali kehidupannya di jalan yang lurus. Semoga Almarhum Bani, Herman, dan Andi serta Almarhumah Dylan juga korban-korban meninggal lainnya husnul khotimah. Diampuni dosanya dan mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah. Dan kita do’akan juga diri kita agar selamat dari lisan dan perbuatan yang membuat kita terjerumus ke neraka. Aamiin.

 

  • Bagikan
-->