Jumat, 10 Juli 2020

Akhir Musim Paling Menarik Dalam 3 Dekade Terakhir La Liga : Periode 1993 / 1994 Jadi Milik Barcelona


Finroll.com, Jakarta – La Liga 2019 / 2020 masih berlangsung ketat. Dua tim raksasa tradisional, Real Madrid dan Barcelona menjadi kuda pacu terdepan yang bisa meraih titel Liga Spanyol musim ini.

Saat ini, Real Madrid hanya unggul satu poin dari Barcelona. Real Madrid masih bisa menjauh jika sanggup menekuk Alaves pada laga nanti malam. Pada sisi lain, perseteruan dua musuh bebuyutan tersebut bisa menjadi gambaran persaingan La Liga yang tak kalah panas dengan liga-liga lain di kawasan Eropa.

Sepanjang sejarah La Liga, ada beberapa musim yang berstatus ‘ketet’, bahkan sampai membutuhkan pekan terakhir untuk mengetahui siapa yang berjaya. Nah, jika menilik sejarah, bisa saja titel musim ini berasal dari pertarungan jornada terakhir.

Bagi para penggemar La Liga, ada beberapa momen bersejarah dan menarik, yang bisa menggambarkan pertarungan ketat hingga akhir musim. Satu di antara musim tersebut adalah 1993/1994.

Saat itu, Barcelona menjadi pihak yang paling berbahagia. Barcelona menggagalkan Real Madrid meraih gelar juara di musim 1991/1992 dan 1992/199. Tapi, pertandingan terakhir musim 1993/1994 lebih dramatis.

Drama Penalti

Deportivo La Coruna bersaing meraih gelar La Liga untuk kali pertama mereka setelah memimpin klasemen selama berbulan-bulan. Mereka butuh menang atas Valencia di kandang untuk memastikan gelar. Depor, yang gugup dalam pertandingan itu, menyia-nyiakan beberapa peluang, dan skor masih 0-0 di jeda pertandingan.

Pada area lain, tepatnya di Camp Nou, Barcelona berhasil menang 5-2 atas Sevilla. Johan Cruyff dan timnya berkumpul di pinggir lapangan untuk mendengarkan radio disaat pemain sayap Depor, Nando, dijatuhkan di kotak penalti.

Donato, yang biasa mengambil tendangan penalti, sudah diganti pemain lainnya, sehingga bek Miroslav Đukić, maju sebagai eksekutor. Sayang, tendangannya dapat dihalau kiper Valencia, José Luis González. Alhasil, Barcelona langsung melakukan selebrasi, dan itu adalah akhir musim yang pahit bagi Depor dan Đukić. (Bola.com)(GE)

BACAAN TERKAIT