Senin, 4 November 2019

Mario Balotelli Ngamuk Tendang Bola ke Penonton Setelah Dapat Perlakuan Rasial


Finroll.com – Penyerang Brescia, Mario Balotelli, mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari pendukung Hellas Verona.

Mantan pemain AC Milan itu mendapat ejekan bernada rasis saat Brescia mengalami kekalahan atas tuan rumah Hellas Verona dengan skor 2-1 pada lanjutan Serie A, Minggu (3/11/2019), di Stadion Marcantonio Bentegodi.

BACA JUGA : 

Insiden tersebut terjadi saat pertandingan memasuki menit ke-55. Balotelli tak tinggal diam.

Balotelli langsung bereaksi dengan menendang bola ke arah penonton. Setelah melakukan tindakan tersebut Balotelli seperti ingin keluar lapangan untuk menghampiri para penonton tersebut.

Beruntung rekan setimnya di Brescia berhasil menenangkan pemain yang dikenal bengal itu. Namun, akibat perbuatan menendang bola ke arah penonton, Balotelli langsung diganjar kartu kuning.

Setelah itu, Mario Balotelli kembali melanjutkan permainan. Pemain berpaspor Italia itu sukses mencetak satu gol untuk Brescia pada menit ke-85.

Sayang, gol tersebut tak mampu membawa Brescia meraih poin. Tim asuhan Eugenio Corini itu takluk 1-2 dari Hellas Verona.

Kejadin yang menimpa Mario Balotelli bukanlah yang pertama kalinya. Bahkan, pemain berusia 28 tahun itu mengungkapkan sudah menjadi sasaran penghinaan sejak kecil.

CIMB NIAGA

Sudah Sejak Kecil Mendapatkan Perlakuan Buruk

Mario Balotelli
Mario Balotelli. (AFP/Valery Hache)

Mantan pemain Manchester City itu secara terbuka menuturkan masa pertumbuhannya di Italia kerap mendapatkan perlakuan buruk dari orang di sekitarnya.

“Bagaimana Anda memberi tahu seorang anak berusia lima tahun tentang rasisme? Jika Anda melakukan itu, Anda merusak masa kecil mereka,” kata Mario Balotelli, seperti dilansir dari Sportbible, Senin (4/11/2019).

“Saya ingat di sekolah, seorang anak bertanya pada saya sambil tertawa apakah saya memiliki hati yang putih atau hitam. Saya ingat mengatakan kepadanya, saya tidak tahu.”

“Saat saat tinggal di Brescia, mungkin ada empat atau lima anak kulit hitam di seluruh kota.”

“Namun, dalam sepak bola, saya akan selalu ditinggalkan, bahkan di sekolah. Kemudian saya memiliki karakter yang berbeda dengan yang lain juga. Jika ada yang salah, itu adalah kesalahan saya. Hal-hal kecil seperti itu.”

“Ketika saya berumur 13 atau 14 tahun, saya mendengar penghinaan rasial pertama saya. Saya berdebat dengan seseorang di lapangan,” tandasnya. (bola.com)

BACAAN TERKAIT