Mencari Ketum PSSI ; dari Ahok sampai Krisna Murti

  • Bagikan

Seminggu belakangan jagat sepakbola tanah air dihebohkan dengan mundurnya ketua umum PSSI Edy Rahmayadi. Posisinya langsung digantikan oleh wakil ketua umum Joko Driyono, namun warganet memberikan reaksi negatif atas posisi baru Joko Driyono sebagai ketua umum.

Keputusan Edy sempat disambut gembira pecinta sepakbola nasional, namun hanya sebentar saja. Setelah ketahuan kalau Jokdri—panggilan akrab Joko Driyono—ditunjuk mengambil alih (sementara) posisi ketum, sebagian suporter justru bereaksi negatif.

Berbagai kalangan yang kontra Jokdri menilai sosoknya adalah salah satu yang punya andil atas mandegnya pengelolaan sepakbola nasional. Sebagai “orang lama” di otoritas tertinggi sepakbola nasional ini, Jokdri dituding tahu siapa saja pelaku mafia pengaturan skor yang meresahkan.

Meski hanya bersifat sementara sampai sosok ketum baru ditentukan dalam Kongres Luar Biasa yang tanggalnya belum bisa dipastikan. Namun, rasa pesimistis pecinta sepakbola muncul saat Jokdri ditunjuk sebagai ketua PSSI baru.

Indonesia butuh penyegaran terhadap figur baru di tubuh PSSI, tidak terbatas di posisi ketua umum. Khusus ketua umum PSSI, ada beberapa figur selain militer atau “orang lama” atau exco kawakan yang bisa dimajukan guna membangun sepak bola Indonesia yang lebih profesional dan transparan.

Ada beberapa nama yang muncul pertama adalah Basuk Tjahaja Purnama alias BTP. Figur yang sebentar lagi bebas dari penjara karena kasus penistaan agama ini dinilai tepat memimpin PSSI karena BTP mempunyai ketegasan. BTP dianggap punya ketegasan dalam mengambil kebijakan tanpa terpengaruh intervensi. Keberanian, jiwa kritis, dan integritas BTP diharapkan mampu memperbaiki carut marut PSSI.

Akan tetapi, BTP terkendala dua dari lima persyaratan Basuki Tjahaja Purnama diketahui belum terlalu aktif di dunia sepakbola kurang lebih 5 tahun, baik secara teknis maupun organisasinya. Selain itu, Ahok juga memiliki catatan hukum pidana.

Nama kedua yang muncuk adalah, Erick Thohir. Suara paling kencang yang mendorong nama Erick untuk maju menjadi ketua umum PSSI pengganti Edy datang dari media sosial. Di laman Twitter, warganet berharap sosok seperti Erick mampu mengubah kultur sepak bola Indonesia menjadi lebih profesional. Bahkan ada yang membuat petisi dukung Erick Thohir sebagai ketum PSSI di situs change.org.

Perjalanan sukses Erick dalam mengelola olahraga, baik di Indonesia maupun di beberapa klub olahraga mancanegara, memunculkan opini di kalangan peserta kongres dan juga warganet bahwa pria yang menjabat Ketua Umum Komite OLimpiade Indonesia (KOI) ini punya kapasitas menjadi ketua umum PSSI.

Erick sendiri, pada Oktober lalu, pernah menyatakan, dirinya lebih tertarik dengan mengelola liga sepak bola nasional. Hal itu didasari atas alasan dirinya memiliki latar belakang profesional yang lebih kuat ketimbang seorang birokrat.

Nama ketiga yang tidak kalah keren adalah Krishna Murti. Sebagai jebolan kepolisian, ketegasan dan profesional dalam bekerja sangat melekat dalam diri Krishna Murti dan mungkin akan tertular ke tubuh PSSI jika ia terpilih Sebagai Ketua Umum. Hal tersebut bahkan sangat terlihat dalam tugas yang ia emban saat ini, menjabat sebagai Wakil Ketua Satgas Antimafia Sepak Bola tersebut langsung bergerak cepat dan menangkap sejumlah pelaku.

Tiga nama diatas datang dari kalangan birokrat, pengusaha maupun Polri, sebenarnya ada satu kalangan lagi dianggap cocok untuk memimpin induk organisasi sepakbola ini, yakni dari kalangan mantan pemain. Mantan pemain dianggap sebagai figur yang telah menyesap bau keringat perjuangan di atas lapangan.

Mereka merasakan betul kebijakan yang berada di bawah naungan federasi.Pengalaman merasakan pahit-manis sepak bola Indonesia bisa diperjuangkan melalui sistem organisasi. Lewat PSSI, para mantan pemain tentu sudah paham betul akar permasalahan sepak bola Indonesia.

PSSI pernah mencatatkan sejarah pernah punya ketum mantan pemain Timnas Indonesia antara lain Maulwi Saelan dan Kardono. Maulwi Saelan pernah membawa Timnas Indonesia menembus empat besar Asian Games 1954 dan meraih perunggu Asian Games 1958. Sementara itu, Kardono merupakan salah satu penggawa Timnas Indonesia yang berhasil menyabet emas SEA Games 1987 dan 1991.

Berkaca dari pengalaman dua ‘pahlawan’ bangsa itu, mantan pemain Timnas Indonesia saat ini bisa didorong untuk maju mencalonkan diri sebagai ketua umum PSSI. Kurniawan Dwi Yulianto sempat mencoba peruntungannya, tetapi gagal terpilih. Namun perlu diingat yang namanya sepakbola ternyata tak bisa lepas dari politik. Mantan pesepakbola sekalipun perlu menguasai ilmu politik untuk bisa menjadi ketum.

  • Bagikan
-->