Rabu, 27 Februari 2019

Timnas U22, Bukti Shahih Indonesia Bisa Mencari 11 Pemain Bertalenta


Sebagai pecinta sepakbola dalam negeri khususnya Tim Nasional Indonesia yang (dulu) tak kunjung berprestasi sering saya mendengar pertanyaan, apakah dengan jumlah rakyat hampir 265 juta, Indonesia kesulitan untuk mencari 11 pemain sepakbola berbakat yang bisa membawa harum nama Indonesia di ajang internasional?

Kini pertanyaan itu telah terjawab. Tidak!

Indonesia tidak kesulitan untuk mencari pemain sepakbola berbakat yang mampu memberikan trophy juara di ajang internasional. Keberhasilan Timnas Indonesia U-22 yang baru saja juara Piala AFF 2019 usai kalahkan Thailand menjadi bukti sahih.

Sebelumnya, tahun 2018 di ajang yangg sama Piala AFF namun di level umur yang berbeda under 16, Timnas juga berhasil keluar sebagai juara setelah lagi-lagi menaklukan Thailand lewat drama adu pinalti.

Dan, jauh sebelum itu pada tahun 2013 ditangan pelatih yang sama Indra Sjarfie, Timnas U19 berhasil merebut gelar juara. Kemenangan di partai pamungkas ini seakan menjawab kutukan yang selalu gagal di final.

Keberhasilan torehan pretasi di level umur junior ini memang membanggakan, bahkan tidak berlebihan jika dikatakan sebagai oase penyejuk saat liga sepakbola domestik kita dirudung masalah pengaturan skor, dan minimnya pretasi di level Timnas senior.

Yah, perbandingan terbalik bisa dilihat dari statistik prestasi di level senior.

Timnas Indonesia seperti kesulitan jadi yang terbaik di level persaingan level senior. Di ajang Piala AFF, Tim Merah-Putih jadi spesialis runner-up (lima kali), tak pernah mengangkat trofi kampiun.

Terakhir di level senior, Timnas Indonesia jadi jawara di SEA Games 1991. Selepas itu publik sepak bola Tanah Air sering dibuat kecewa karena Tim Garuda selalu gagal di final. Terakhir, di Piala AFF 2016, saat Timnas Indonesia digasak Thailand dengan agregat 2-3.

Kenapa Timnas Indonesia terbukti sangat jago untuk kejuaraan kelompok umur di Asia Tenggara, sementara melempen di level senior?

CIMB NIAGA

Sudah menjadi rahasia umum, prestasi timnas Indonesia ketika memasuki usia senior alias matang sebagai pesepak bola justru melempem. Tengok saja kisah timnas Primavera era Kurniawan Dwi Julianto dan timnas Baretti era Uston Nawawi. Langkah instan menjurus panik pun dilakukan. Menaturalisasi puluhan pemain asing adalah salah satu contoh bentuk kepanikan itu.

PSSI, yah PSSI, meski saat ini kita tidak percaya dengan organisasi ini, tapi suka atau tidak suka PSSI adalah induk cabang olahraga sepakbola tanah air yang punya wewenang untuk ambil bagian dalam pembinaan pemain usia dini, karena pembinaan usia dini adalah sebuah keniscayaan. PSSI sebagai pemegang otoritas harus membuat kompetisi usia dini yang sampai sekarang masih terbilang minim.

Pembinaan adalah fondasi timnas senior dan di Indonesia pembinaan tidak berjalan dengan baik dan sistematis. Alhasil, kegilaan rakyat Indonesia pada sepak bola dan jumlah penduduk Indonesia yang begitu banyak tidak akan menghasilkan apa-apa.

Bibit-bibit muda, tunas-tunas yang menjanjikan, atau talenta-talenta unggul, hanya akan menjadi hebat dengan perawatan yang baik pula. Bibit yang bagus, jika tidak pernah mendapat pupuk atau perawatan, tentu akan menuai hasil yang tak memuaskan.

Potensi pemain muda Indonesia yang sebenarnya dan sejujurnya luar biasa pada akhirnya menguap. Hal ini dikarenakan pemain sepak bola yang unggul bukan hanya dilahirkan alias memiliki bakat alam, sebagaimana begitu banyak pemain di Indonesia.

Namun juga diciptakan melalui latihan yang berkualitas dan sistematis, pendidikan dalam hal kepribadian dan ilmu pengetahuan, serta kompetisi dan turnamen yang dilakukan dengan konsisten, jujur, dan sportif.

BACAAN TERKAIT