Connect with us

Property

Gandeng APL, BTN Tawarkan Bunga KPR 5 Persen

Published

on


PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN kian agresif menyalurkan kredit. Berbagai kerjasama dengan para pengembang properti nasionalbaik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun swasta terus dijalin demi mengerekangka penyaluran kredit.

Kali ini, bank fokus di pembiayaan sektor properti tersebut menjalin kerjasama bisnis (business collaboration) dengan PT Agung Podomoro Land(APL), Tbk salah satu pengembang besar terkemuka di Indonesia.

Executive Vice President Nonsubsidized Mortgage & Consumer Lending Division (NSLD) Bank BTN Suryanti Agustinar mengatakan BTN berharap, melalui kolaborasi bisnis ini realisasi penyaluran pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah maupun Apartemen (KPR/KPA) akan meningkat signifikan seiring dengan kebutuhan akan hunian yang masih cukup besar.

Seperti diketahui, hingga saat ini angka kesenjangan antara supply dan demand (backlog)hunian masih cukup lebar, yakni 11,4 juta unit.

Dengan kolaborasi ini Bank BTN optimis dapat menambah angka relaisasi KPR/KPA, sedikitnya sebesar Rp 1 triliun per bulan. Apalagi, Bank Indonesia baru-baru ini sudah memberikan stimulus berupa pelonggaran loan to value (LTV) bagi KPR kedua dan seterusnya hanya 5 persen untuk yang berkawasan Go Green.

“Ini artinya, masyarakat dipastikan semakin mudah memiliki hunian impiannya karenasecara otomatis baik down payment (DP) maupun bunga KPR yang ditawarkanperbankan juga menjadi lebih rendah dibanding sebelumnya,” papar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (26/9/2019).

Lebih jauh dia memamparkan, bagi masyarakat yang melakukan KPR/KPA untuk kepemilikan hunian pada sejumlah proyek properti besutan APL akan mendapatkan berbagai keringanan serta diskon khusus dari Bank BTN. Diantaranya adalah Podomoro Park Bandung, Podomoro Golf View Cimanggis di Depok, Grand Taruma, dan VimalaHills Ciawi di Bogor.

“Kami memberikan bunga KPR spesial mulai dari 5 persen fixed 2 tahun, uang muka (downpayment/DP) sebesar 5 persen, bebas biaya administrasi, bebas biaya provisi danadministrasi, serta diskon asuransi jiwa sebesar 10%. Program ini berlaku hingga 31Desember 2019,” terang Suryanti.

Optimisme yang sama diungkapkan Assistant Vice President Residential Marketing PT Agung Podomoro Land Tbk Zaldy Wihardja. Menurutnya, pasar properti kian bergairah setelah relaksasi loan to value (LTV) digulirkan pekan lalu. Sektor hunian menengah bawah dinilai menjadi segmen yang menggerakkan roda bisnis properti.

“Sejak Agustus 2019 sebenarnya sudah terasa adanya peningkatan penjualan. Namun,ditambah adanya relaksasi pelonggaran LTV, kami optimistis penjualan properti pada2020 kian membaik,” ungkap dia.

Untuk menjaga momentum peningkatan pasar tersebut, pihaknya menjalin kolaborasi bisnis bersama Bank BTN, dengan manawarkan berbagai kemudahan transaksi KPR/KPA.

“Hal ini dilakukan bertepatan dengan hari jadi APL ke-50 yang jatuh pada September 2019,” pungkas Zaldy.

Advertisement

Property

Co-working Space Kian Diminati, Bagaimana Nasib Perkantoran?

Published

on

By

Ruang kerja bersama atau co-working space diramal bakal terus berkembang pesat sepanjang 2020 mendatang, mengingat fleksibilitas yang ditawarkannya.

“Karena kebutuhan terhadap co-working space itu memang ada, salah satunya adalah masalah fleksibilitas yang ditawarkan, dengan kondisi itu, banyak pelaku usaha berminat ke sana, terutama start-up baru,” ujar Senior Associate Director Colliers Ferry Salanto di Gedung World Trade Center I, Jakarta Selatan, Rabu (8/1/2020).

Tak hanya menarik bagi pelaku usaha baru, menurut Ferry, co-working space bahkan cukup diminati bagi pelaku usaha yang sudah matang sekalipun.

“Company yang sudah mapan pun cukup berminat, terutama saat mereka masih perlu satu space yang bisa dikembangkan tapi nggak mau juga terlalu investasi besar-besaran ke sana atau mungkin kebutuhannya untuk short-term saja, daripada buat leasing office itu kan bisa tahunan, 3 tahun harus bayar, terikat di situ, dan harus feed out, dan itu kan juga mahal,” paparnya.

Lantas, bagaimana nasib perkantoran dengan perkembangan kebutuhan tersebut?

Berdasarkan Laporan Pasar Properti Jakarta Kuartal IV-2019 dari Colliers International, tingkat okupansi atau hunian perkantoran di Jakarta sepanjang 2020 mendatang diperkirakan bakal turun menjadi 82,5% dari keterisian hingga akhir 2019 sebanyak 83,4%.

“Perkirakan okupansi akan turun, walaupun jumlahnya tidak terlalu tinggi terutama di kawasan CBD (central business district) di angka sekitar 82,5% dari 83,5%. Sementara di luar kawasan CBD penurunan akan lebih tinggi,” katanya.

Hal ini lah yang menurut Ferry membuat pembangunan segmen properti ini di sepanjang 2019 tak juga mengalami kenaikan signifikan.

“Kalau kita lihat di sini memang, pasokan tahunannya baik dalam CBD maupun di luarnya, memang secara umum, pengembang itu sudah mulai hati-hati karena selama tahun 2019 kita belum mendengar lagi ada gedung perkantoran baru yang akan di-launching (di 2020) jadi mereka sudah mulai meredam,” imbuhnya.

Dengan demikian, wajar bila harga sewa perkantoran di Jakarta pun sudah mulai diturunkan sejak pertengahan tahun lalu.

“Sewa yang ditawarkan juga sudah diturunkan, sudah mulai realistis, tidak lagi memasang harga tinggi, dan bisa dinego,” tutupnya.

Sebagaimana dicatat Colliers International, rata-rata tarif sewa perkantoran yang ditawarkan sepanjang 2019 turun 2,7% (year on year/yoy) menjadi sebesar Rp 276.456 per meter persegi. Tren penurunan harga sewa ini diprediksi bakal berlanjut hingga 2020 mendatang menjadi Rp 270.000 per meter persegi.

Continue Reading

Property

Lippo Jual Pejaten Village dan Binjai Supermall, Siapa Pembelinya?

Published

on

By

LMIRT Management Ltd, pengelola Lippo Malls Indonesia Retail Trust (LMIR Trust) memutuskan untuk melepas dua aset mal yakni Pejaten Village dan Binjai Supermall. Kedua mal itu dibeli oleh PT Nirvana Wastu Pratama (NWP Retail).

Melansir CNBC Indonesia, Minggu (5/1/2019) transaksi itu tertuang dalam perjanjian jual beli bersyarat (conditional sales and purchase agreement/CSPA) yakni mencapai US$ 92 juta atau Rp 1,30 triliun (asumsi kurs Rp 14.200/US$).

MWP Retail sendiri merupakan perusahaan yang memiliki beberapa mal di Indonesia. Perusahaan ini merupakan perusahaan patungan antara Warburg Pincus dan PT City Retail Developments Tbk (NIRO).

Penjualan aset mal dilakukan melalui REITs (real estate investment trust) atau DIRE (dana investasi real estate). Hal itu resmi diinformasikan perusahaan dalam situs resmi NWP Retail pada 31 Desember lalu.

LMIR Trust adalah satu-satunya produk REITs (real estate investment trust) atau DIRE (dana investasi real estate) milik perusahaan Indonesia yang tercatat di Bursa Singapura (SGX) sejak 19 November 2007.

Dengan REITs ini, perusahaan properti dan real estate dapat menjual aset yang dimilikinya kepada publik melalui skema penerbitan instrumen ini.

Pejaten Village di Kemang (Jakarta Selatan) memiliki luas 89.157 meter persegi dan Binjai Supermall dengan luas 36.000 meter persegi berlokasi di Binjai (Sumatera Utara) yang merupakan kota satelit kedua terbesar di luar Pulau Jawa. Kedua mal ini memiliki tingkat hunian lebih dari 90%.

Presiden Direktur dan CEO NWP Retail Timothy Daly mengatakan akuisisi ini memperkuat pengembangan bisnis perusahaan di lokasi kota tier-1 dan tier-2 di Indonesia.

“Akuisisi ini merupakan tonggak dalam ekspansi cepat NWP Retail. Ini akan memperkuat kehadiran perusahaan di pasar-pasar utama di kota Tier-1 dan Tier-2 di Indonesia dan memperluas pasar lebih jauh posisi terdepan sebagai platform pusat perbelanjaan ritel independen terbesar di Indonesia,” kata Timothy.

Continue Reading

Property

Rumah Khusus Milenial Lagi Disiapkan, Begini Bentuknya

Published

on

By

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menggodok konsep hunian bagi milenial. Dirjen Perumahan PUPR Khalawai Abdul Hamid menyatakan konsepnya berupa rumah vertikal alias rumah susun sewaan.

Yang jelas hunian bagi milenial ini akan berada di pusat kota.

“Kita sedang siapkan seperti rumah kos-kosan, rumah singgah di pusat kota. Kan kalau milenial dia nggak mau di pinggiran. Itu yang lagi dikonsepkan sama kita,” ucap Khalawi, di Kantor Ditjen SDA PUPR, Jakarta Selatan, Rabu (11/12/2019).

Selain berbentuk vertikal, hunian ini dipatok dengan sewa murah. Khalawi menegaskan konsep ini juga bisa mensukseskan klusterisasi alias penggolongan milenial.

Dia menjelaskan bahwa konsep hunian vertikal tengah kota ini cocok bagi generasi milenial yang baru meniti karir dan belum punya banyak uang untuk memulai KPR.

“Ini rumahnya vertikal, dengan sewa yang ringan. Masih digodok ya, yang jelas ini upaya klusterisasi milenial. Jadi bagi milenial yang baru kerja belum cukup uang, maka sewa dulu dengan harga murah,” ucap Khalawi.

Khalawi menambahkan pihaknya akan meminta pengembang swasta untuk melakukan KPBU dalam pembangunan hunian vertikal pusat kota ini. Nantinya, akan dicari lahan pemerintah di pusat kota untuk pembangunannya.

“Jadi nanti mungkin ada tanah pemerintah kita bangunkan rumah vertikal minta KPBU sama swasta. Kemudian kita sewakan dengan harga murah,” papar Khalawi.

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending