Connect with us

Ekonomi Global

Gara-gara Virus Corona, Ekonomi Indonesia Terancam Lesu

Published

on


Finroll.com, Jakarta – Menyebarnya virus corona ke 16 negara mengakibatkan setidaknya 106 orang meninggal dunia, menimbulkan berbagai sentimen negatif di dunia. Adapun dampak virus corona bukan hanya dari sisi kesehatan melainkan juga merembet ke aktivitas ekonomi seperti harga komoditas.

Untuk mencegah dampak virus Corona dan memperluas penyebaran, pemerintah China pun melakukan isolasi kota Wuhan. Hal ini semakin membawa ketidakpastian bagi China. Pasalnya penyebaran virus bertepatan dengan liburan Tahun Baru Imlek – yang biasanya akan mendorong perjalanan, belanja, dan pemberian hadiah.

Stasiun kereta api dan bandara menjadi sepi. Karena para penumpang langsung merubah rencana perjalanan meskipun ada libur selama sepekan. Selain itu, pemerintah China pun mengisolasi kota Wuhan untuk mencegah penyebaran virus.

Hal ini juga berdampak pada penutupan penerbangan ke kota tersebut, sehingga ada beberapa maskapai yang harus membatalkan rute penerbangan ke Wuhan.

Presiden Joko Widodo pun telah menginstruksikan kepada Menteri Kesehatan Dokter Terawan Agus Putranto untuk mengantisipasi penyebaran wabah tersebut.

“Sebagai langkah preventif, pemerintah telah memperketat pengawasan di bandara untuk mendeteksi dan memantau penumpang yang datang, terutama dari negara yang diperkirakan telah mengonfirmasi kehadiran virus baru ini,” jelasnya.

Selain itu, untuk mencegah penyebaran dan dampak virus corona sebanyak 135 thermo scanner telah diaktifkan di 135 pintu masuk negara baik darat, laut, maupun udara.

Tidak hanya itu, pemerintah juga menyiapkan 100 rumah sakit rujukan dengan fasilitas ruang isolasi terhadap pasien dengan gejala penyakit paru-paru dan saluran pernapasan lain, seperti RSPI Sulianto Saroso di Jakarta dan rumah sakit lainnya.

Dampak Ekonomi

Bahkan, dampak virus corona bisa sampai memicu krisis ekonomi global. Dampak virus corona paling krusial sebenarnya adalah bagaimana nasib ekonomi China, dan imbasnya kepada Indonesia.

Pasalnya ekonomi China selama bertahun-tahun menjadi salah satu mesin pertumbuhan paling kuat di dunia. Kehancuran di negara tersebut bisa membuat pekerjaan terhambat dan pertumbuhan di tempat lain.

Dampak virus corona pun bisa sampai ke Indonesia, dan mengancam pertumbuhan ekonomi bisa di bawah 5%. Riset S&P menyebutkan, virus Corona akan memangkas pertumbuhan ekonomi China sekitar 1,2 poin persentase. Jadi kalau pertumbuhan ekonomi China tahun ini diperkirakan 6%, maka virus Corona akan membuatnya melambat menjadi 4,8%.

Kalau ekonomi China melambat sebagai dampak virus corona, maka Indonesia pasti bakal kena getahnya. Sebab, hubungan Indonesia dengan China begitu erat. Berdasarkan kajian Bank Dunia, setiap perlambatan ekonomi China sebesar 1 poin persentase bakal mengurangi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,3 poin persentase.

Bukan hanya itu, dampak virus corona juga meluas pada anjloknya harga batu bara, karena pasar yang masih waspada. Kemarin (27/1/2020) harga komoditas batu bara kontrak acuan ICE Newcastle ditutup di level US$ 67,55/ton, melemah 0,81% dibanding posisi penutupan pekan lalu.

Selain batu bara, dampak virus corona juga meluas ke jatuhnya harga minyak mentah. Jika terus menerus terjadi dan meluas, apa yang dikhawatirkan pelaku pasar adalah dapat mengganggu permintaan minyak. Harga minyak mentah terus melorot sebagai dampak virus corona yang terus menelan korban jiwa.(bola.com)

Ekonomi Global

Harga Emas Hari Ini 4 Agustus, Naik ke Rp1,029 Juta per Gram

Published

on

By

Finroll.com, Jakarta – Harga emas PT Aneka Tambang (Persero) atau Antam berada di level Rp1,029 juta per gram pada Selasa (4/8). Posisi itu naik Rp1.000 dari Rp1,028 juta per gram pada Senin (3/8).

Sementara harga pembelian kembali (buyback) naik Rp2.000 per gram dari Rp927 ribu menjadi Rp929 ribu per gram pada hari ini.

Berdasarkan data Antam, harga jual emas berukuran 0,5 gram senilai Rp544,5 ribu, 2 gram Rp1,99 juta, 3 gram Rp2,97 juta, 5 gram Rp4,92 juta, 10 gram Rp9,78 juta, 25 gram Rp24,33 juta, dan 50 gram Rp48,59 juta. Kemudian, harga emas berukuran 100 gram senilai Rp97,11 juta, 250 gram Rp242,51 juta, 500 gram Rp484,82 juta, dan 1 kilogram Rp968,6 juta.

Harga jual emas tersebut sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) 22 atas emas batangan sebesar 0,45 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi pembeli yang tidak menyertakan NPWP memperoleh potongan pajak lebih tinggi sebesar 0,9 persen.

Sementara harga emas di perdagangan internasional berdasarkan acuan pasar Commodity Exchange COMEX berada di posisi US$1.994,1 per troy ons atau naik 0,39 persen. Sedangkan harga emas di perdagangan spot justru terkoreksi 0,03 persen ke US$1.976,44 per troy ons pada pagi ini.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra memperkirakan harga emas di pasar internasional bergerak di kisaran US$1.960 sampai US$1.990 per troy ons pada hari ini. Harga emas masih berpotensi meningkat, meski tren pemulihan ekonomi global mulai muncul.

Tren pemulihan berasal dari membaiknya indeks manufaktur di beberapa negara menurut survei Markit. Mulai dari AS, Jepang, China, Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, Inggris, dan negara-negara kawasan Uni Eropa lainnya, serta Indonesia.

“Data indeks manufaktur beberapa negara mengalami perbaikan yang mengindikasikan pemulihan ekonomi. Tapi harga emas masih dalam tren penguatan karena kondisi pandemi covid-19 belum membaik,” ujar Ariston kepada CNNIndonesia.com, Selasa (4/8).

Hal ini, sambungnya, masih memberi sentimen kekhawatiran bagi pelaku pasar keuangan. Selain itu, prospek stimulus fiskal senilai US$1 triliun dari pemerintah AS juga menambah dukungan bagi penguatan harga emas.

Pasalnya, investor masih gencar menempatkan dana ke instrumen investasi aman alias safe haven, seperti emas. Dengan begitu, harga emas masih bisa meningkat.

Sumber : CNN INdonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Ditopang Perbaikan Data Ekonomi Harga Minyak Menguat

Published

on

Finroll – Jakarta, Harga minyak mentah global menguat tipis pada akhir perdagangan Jumat (24/7) lalu. Kenaikan harga minyak ditopang perbaikan data ekonomi.

Mengutip Antara, Senin (27/7), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September naik tiga sen menjadi US$43,34 per barel. Sedangkan, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk penyerahan September bertambah 22 sen menjadi US$41,29 per barel.

Dalam sepekan, minyak Brent naik 0,5 persen, sedangkan minyak mentah AS, WTI naik 1,7 persen.

Berdasarkan Indeks Manajer Pembelian (PMI) IHS Markit, aktivitas bisnis di zona Euro tumbuh pada Juli untuk pertama kalinya sejak pandemi virus corona. Kondisi ini menjadi katalis positif di pasar.

“Data ekonomi di Eropa jauh lebih baik daripada yang diperkirakan, menunjukkan bahwa kehancuran permintaan dalam beberapa bulan terakhir karena Covid-19 mungkin tidak seburuk yang dipikirkan orang,” kata Analis Senior Price Futures Phil Flynn.

Sementara itu, aktivitas bisnis AS meningkat ke level tertinggi dalam enam bulan pada Juli. Namun, perusahaan-perusahaan AS melaporkan penurunan pesanan baru karena kasus baru Covid-19 masih meningkat.

Tambahan kasus baru telah membuat suram prospek ekonomi AS. Beberapa negara bagian memberlakukan kembali pembatasan sosial sehingga mengurangi konsumsi bahan bakar.

Di sisi lain, jumlah orang Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran mencapai 1,416 juta pada minggu lalu. Jumlah ini naik tidak terduga naik untuk pertama kalinya dalam hampir empat bulan.

Namun, penguatan harga minyak dibayangi sentimen perseteruan AS-China. Seperti diketahui, China memerintahkan AS untuk menutup konsulatnya di kota Chengdu, sebagai respons permintaan AS minggu bahwa bahwa China harus menutup konsulatnya di Houston.

Ketegangan terbaru dua konsumen minyak terbesar dunia itu memicu kekhawatiran tentang permintaan bahan bakar.

“Hubungan perdagangan internasional yang lancar diperlukan agar permintaan minyak tetap tidak terganggu dalam jangka panjang, sehingga ketegangan antara AS dan China bukan merupakan pertanda baik,” kata Kepala Pasar Minyak Rystad Energy Bjornar Tonhaugen.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Harga Minyak Dunia Melemah Akibat Lonjakan Kasus Baru Covid-19

Published

on

Finroll – Jakarta, Harga minyak mentah dunia melemah pada perdagangan akhir pekan lalu. Hal ini terjadi karena peningkatan jumlah kasus baru virus corona (covid-19) di dunia.

Dikutip dari Antara, Senin (20/7), minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus turun 26 sen menjadi US$40,59 per barel.

Sementara, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September turun 23 sen menjadi US$43,14 per barel.

Lonjakan jumlah kasus virus corona membuat pasar khawatir akan permintaan minyak dunia kembali turun. Pemerintah AS mencatatkan ada 75 ribu kasus penularan virus corona baru pada Kamis (16/7). Ini merupakan rekor baru di AS.

Sementara, Australia dan Spanyol melaporkan kenaikan penularan virus corona secara harian yang cukup signifikan. Peningkatan jumlah kasus corona juga terus terjadi di India dan Brazil.

Hal ini membuat pembelian bahan bakar kembali turun. Anggota parlemen di Amerika Serikat dan Uni Eropa akan membahas sejumlah stimulus lebih banyak dalam beberapa hari mendatang.

Sebelumnya, harga minyak mentah dunia turun satu persen pada perdagangan Kamis (16/7). Pelemahan terjadi setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu-sekutunya yang dikenal dengan OPEC+ memutuskan mengurangi pemangkasan pasokan mulai Agustus.

Tercatat, minyak mentah berjangka WTI untuk pengiriman Agustus turun 45 sen atau 1,1 persen ke US$40,75 per barel.

Sementara minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September turun 42 sen atau 1,0 persen ke US$43,37 per barel.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending