Connect with us

Science & Technology

Garmin Luncurkan Jam Pintar Tenaga Surya, Harganya?

Published

on


Finroll.com – Garmin meluncurkan serangkaian jam tangan baru, seri Fenix 6 yang terdiri dari beberapa model. Salah satu yang paling menarik adalah Fenix 6X Pro Solar yang merupakan jam tangan pintar pertama menggunakan tenaga surya.

Fenix 6X Pro Solar hadir dengan sel surya berupa lapisan transparan di atas layar. Panel surya yang dijuluki Power Glass menyediakan daya baterai hingga 3 hari atau 6 jam penggunaan GPS.

Smartwatch ini memiliki layar tampilan 1,4 inci dengan resolusi 280 x 280 piksel. Layar ini juga memiliki lapisan transflektif yang terlihat oleh sinar matahari menggunakan teknologi memory-in-pixel hemat daya.

Ponsel ini dilengkapi peta topografi, fitur Pace Pro baru yang menawarkan panduan disesuaikan selama Anda berlari. Ponsel ini juga dilengkapi dengan perencana pendakian ClimbPro. Ada juga GPS, GLONASS dan Galileo yang digunakan untuk melacak lokasi Anda

Untuk perangkat keras, bodi titanium arloji ini memiliki diameter 51mm dan tebal 14.9mm. Ada dua pilihan band: QuickFit silikon atau titanium (26mm). Versi titanium beratnya 82g.

Garmin Fenix 6X Pro Solar Edition juga dilengkapi dengan altimeter untuk data ketinggian. Barometer dapat memberikan peringatan cuaca dan ada deteksi kecelakaan otomatis. Selain itu, ada detak jantung dan monitor kadar oksigen-darah. Arloji ini diberi peringkat untuk ketahanan air 10ATM.

Arloji ini dilengkapi dengan penyimpanan 32GB yang dapat Anda isi dengan musik dari Spotify, Deezer dan Amazon Music dan dengarkan di headphone Bluetooth Anda. Anda juga dapat melihat notifikasi dari ponsel Anda dan menggunakan aplikasi tertentu. Anda juga dapat menggunakan Garmin Pay. Ada juga konektivitas Wi-Fi dan peta onboard.

Garmin versi sel surya ini ditawarkan seharga $ 1.000 atau sekitar Rp 14 jutaan, sedangkan Fenix 6 ditawarkan US$ 800 atau Rp 11 jutaan.

Science & Technology

Fakta Pesawat MV-22 Osprey AS yang Mau Dibeli Indonesia

Published

on

By

Ilustrasi pesawat MV-22 Osprey. (AFP/STR)

Finroll.com, Jakarta – Pemerintah Indonesia bakal membeli delapan unit pesawat militer jenis MV-22 Block C Osprey dan sejumlah alat militer dari Amerika Serikat (AS). Pemerintah Indonesia diperkirakan akan menggelontorkan uang sebanyak US$2 miliar atau setara Rp28,8 triliun untuk seluruh pembelian tersebut.

Terbang dan Mendarat Vertikal

Melansir Military, MV-22 Osprey dikenal sebagai pesawat yang unik karena memiliki kemampuan vertical takeoff and landing (VTOL) layaknya helikopter. Kemampuan itu berkat dukungan teknologi tilrotor. Meski demikian, MV-22 Osprey memiliki kecepatan dan radius misi seperti pesawat fixed-wing.

Pesawat yang diproduksi oleh manufaktur Boeing dan Bell Textron itu juga memiliki kemampuan short takeoff and landing (STOL).

Alami Puluhan Kecelakaan

Melansir Aviation Safety Network, jumlah kecelakaan yang melibatkan MV-22 Osprey sudah mencapai 30 kali sejak tahun 1991. Sedangkan dalam lima tahun terakhir, insiden yang melibatkan MV-22 Osprey mencapai 16 kali.

Insiden terbaru terjadi pada 30 Mei 2020 di Bandara Brown Field Municipal, fasilitas penerbangan umum yang dikelola kota San Diego dekat perbatasan AS-Meksiko.

Saat itu, pesawat sipil Twin Otter berguling dan menabrak rotor sebelah kiri MV-22B Osprey milik Korps Marinir AS yang sedang diparkir. Tidak ada yang terluka akibat kejadian itu.

Pada 1 April 2019, MV-22B Osprey milik militer AS menyampaikan keadaan darurat saat melakukan penerbangan dari Iwakuni ke Atsugi, Jepang. Pesawat itu kemudian melakukan pendaratan darurat di Bandara Internasional Osaka dan menyebabkan penerbangan koersial tertunda selama 20 menit.

Pada 2018, empat insiden milik militer AS juga terjadi Jepang. Tiga insiden terjadi di Bandara Amami dan satu di sekitar pulau Ikei, Prefektur Okinawa. Selain gangguan mesin saat penerbangan, salah satu insiden terkait lepasnya penutup mesin. Namun, tidak ada korban jiwa dalam insiden sepanjang tahun 2018.

Pada tahun 2017, jumlah insiden yang melibatkan MV-22 Osprey sebanyak tujuh kali. Insiden tersebut terjadi pada bulan Agustus 2017 di sekitar pantau Shoalwater, Queensland, Australia.

Kala itu, MV-22 Osprey milik marinir AS tenggelam beberapa saat setelah mendarat di kapal amfibi USS Green Bay. Tiga penumpang tewas dan 23 penumpang diselamatkan.

Pada tahun 2016, dua insiden yang melibatkan MV-22 Osprey juga terjadi. Salah satu insiden terjadi ketika sedang melakukan operasi pengisian bahan bakar udara dari pesawat tanker MC-130J di atas laut.

Kala itu, baling-baling menghantam selang pengisian bahan bakar dan merusak pesawat. Tidak ada korban jiwa, akan tetapi pesawat melakukan pendaratan darurat dan sejumlah kru dikabarkan mengalami luka.

Pada tahun 2015, MV-22 Osprey milik militer AS mengalami kerusakan akibat menghantam landasan ketika melakukan pendaratan vertikal di Waimanalo, AS. Meski tidak ada korban jiwa, 18 personel termasuk kru dikabarkan mengalami luka serius.

Selain itu, bagian sayap di dekat kabin utama, bagian ekor , dan semua rotorblade hancur. Api juga sempat  terlihat sebelum akhirnya dipadamkan.

Dilengkapi senapan mesin

Melansir Aeroweb, V-22 Osprey dapat dilengkapi dengan senapan mesin M240 7,62 mm atau senapan mesin M2 Browning kaliber 50 (12,7 mm). MV-22 Osprey juga dikabarkan bakal menggunakan kembali belly turret Interim Defensive Weapon System (IDWS) dari BAE Systems yang memiliki minigun tiga laras GAU-17 kaliber 7,62mm.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Science & Technology

Spotify Resmi Luncurkan Fitur Lirik Lagu di Indonesia

Published

on

Finroll – Jakarta, Spotify resmi meluncurkan fitur lirik lagu dalam aplikasi di beberapa negara. Indonesia menjadi negara yang langsung kebagian fitur tersebut.

Pada November 2019, Spotify mengatakan sedang menguji coba lirik real time di dalam aplikasi untuk pasar tertentu. Pada 1 Juli, Spotify resmi meluncurkan fitur tersebut.

Saat dicoba CNNIndonesia.com, fitur ini bisa langsung digunakan pengguna pada Now Playing di aplikasi seluler. Lirik akan berada di bagian bawah Now Playing dan diberi label LYRICS.

Untuk mengakses fitur ini, pengguna tinggal memutar lagu yang diinginkan. Kemudian di Now Playing, pengguna langsung scrolling ke bawah.

Lirik menyerupai fitur karaoke yang akan menyoroti teks yang dinyanyikan dalam lagu tersebut. Akan tetapi, tidak semua lagi memiliki fitur lirik ini.

CNNIndonesia.com juga mencoba fitur ini di aplikasi desktop Spotify maupun di web player Spotify. Akan tetapi, CNNIndonesia.com tidak menemukan fitur lirik di kedua versi tersebut.

Dilansir dari TechCrunch, selain Indonesia, negara-negara yang akan mendapatkan fitur ini adalah Singapura, Kolombia, Argentina, Brasil, Kolombia, Chili, Meksiko, Taiwan, Hong Kong, Thailand, Vietnam, hingga Malaysia.

Spotify sesungguhnya telah bekerja sama dengan Musixmatch untuk menghadirkan fitur lirik, sebelum dihentikan pada 2016. Setelah menghentikan kerja sama dengan Musixmatch, Spotify bekerja sama dengan Spotify untuk menghadirkan fitur ” Behind the Lyrics”.



Akan tetapi, fitur ini tidak seutuhnya menampilkan seluruh lirik. Fitur ini fokus dengan menjelaskan latar belakang dari lagu ini bersama beberapa penggalan lirik.

Uniknya, dilansir dari The Verge, fitur ini tak tersedia di Amerika Serikat.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Science & Technology

TikTok Mundur Dari Hong Kong, Kenapa ?

Published

on

By

Firoll.com – Aplikasi TikTok yang merupakan sebuah aplikasi berbagi video yang sangat banyak diminati berbagai kalangan, kini akan berhenti beroperasi dari pasar Hong Kong dalam beberapa hari mendatang, ini alasanya !

Dikutip dari reuters, keputusan TikTok untuk berhenti beroperasi dari Hong Kong terjadi setelah pemerintah China mengeluarkan undang-undang keamanannya yang kontroversial di kota semi-otonom. Dalam upaya untuk melakukan kontrol lebih besar atas internetnya, memaksakan penyensoran, serta memaksa perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut untuk menyerahkan data pengguna.

Aplikasi TikTok sendiri dimiliki oleh ByteDance yang berbasis di China. Namun, perusahaan mengatakan data pengguna aplikasi tersebut tidak disimpan di China. Pernyataan itu diungkapkan perusahaan TikTok setelah pemerintah India mengeluarkan pernyataan mengenai larangan 59 aplikasi lainnya termasuk TikTok di negara Asia Selatan, seperti yang dikutip dari GSMArena, Rabu, (8/7).

Sementara itu, TikTok mengatakan bahwa data pengguna belum diberikan kepada pemerintah sebelumnya dan tidak akan melakukan hal itu. Banyak sekali yang resah terkait masalah privasi data pengguna tersebut.

Terlepas dari itu semua, apakah aplikasi berbagi video dapat bertahan dengan keputusan kontroversial seperti ini atau malah bernasib sama seperti yang lainnya yang terjadi di India dan kehilangan keuntungan miliaran dolar sebagai hasilnya.

Foto : Inetdetik|GoogleSearch

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending