Connect with us

Peristiwa

Gempa, Antara ‘Hukuman Tuhan’ dan Penjelasan Ilmu Pengetahuan

Published

on


Sikap sebagian Muslim di Kota Palu dan sekitarnya yang mengaitkan gempa dengan ‘hukuman Tuhan’ harus diimbangi dengan pemahaman bahwa beragama itu memerlukan ilmu pengetahuan, kata pemikir keislaman.

Finroll.com  — Akbar, warga kampung Kabonena, Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang kehilangan putranya akibat likuifaksi di perumahan Balaroa, meyakini bahwa gempa di Palu dan sekitarnya tidak terlepas dari “hukuman Tuhan” akibat ulah manusia.

“Katanya sih ada lempengan (bumi) yang melalui Palu. Tapi, menurut saya, salah-satu faktor utama adalah (praktik) mistis (yang digelar dalam Festival Nomoni di Kota Palu),” ungkapnya seperti di kutip BBC News Indonesia, Kamis (17/10).

Akbar tidak memungkiri bahwa bencana itu akibat pergeseran patahan Palu Koro, tetapi dia mengaku tidak dapat melepaskan dari keyakinannya dalam menafsir ajaran Islam dalam melihat bencana itu.

Dia kemudian merujuk kepada acara yang digelar pemerintah Kota Palu di pinggir pantai, Festival tidak lama sebelum gempa mengguncang wilayah itu, yaitu Festival Nomoni, yang disebutnya ada praktik syirik – menyekutukan Tuhan – di dalamnya.

Palu
Umat Islam melaksanakan doa dan zikir bersama di lokasi terjadinya gempa dan tsunami di anjungan Pantai Talise, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (12/10). Ini dilakukan untuk memohon pengampunan kepada Allah. 

“Karena sudah beberapa kali diadakan (Festival) Palu Nomoni, selalu ada kejadian buruk yang menimpa warga,” ungkapnya.

Apa yang diutarakan Akbar ini juga diyakini oleh sebagian warga kota Palu, walaupun tak sedikit pula yang mempertanyakannya.

Apa komentar pegiat dan pendidik asal Sulteng?

Chalid Muhammad, yang berusia 52 tahun, aktivis LSM yang dilahirkan di Parigi, Sulawesi Tengah, mengaku dirinya juga banyak mendengar asumsi di sebagian masyarakat Kota Palu yang menautkan bencana alam itu dengan persoalan agama.

“Sebagian besar yang saya temui (di Palu dan sekitarnya) menyalahkan ini kaitannya dengan perbuatan syirik,” kata Chalid kepada BBC News Indonesia, Kamis (17/10).

PaluANTARA FOTO/SAHRUL MANDA TIKUPADANG
Sejumlah personil Polisi membersihkan reruntuhan sekitar masjid pascagempa dan tsunami Palu-Donggala di Masjid Ar Rahmat, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (14/10). 

Namun demikian, sambungnya, sebagian masyarakat Islam di wilayah itu ada pula yang bersikap “moderat” yaitu tidak menautkannya dengan masalah agama, tetapi murni melihatnya sebagai masalah alam semata.

“Ada yang mencoba melihatnya lebih moderat dengan mengatakan bahwa di Palu sendiri ada beberapa sesar, salah satunya yang paling aktif adalah Palu Koro,” papar mantan Ketua LSM Walhi dan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) ini.

PaluFoto :SATELLITE IMAGE ©2018 DIGITALGLOBE, A MAXAR COMPAN
Peta satelit Kota Palu setelah gempa mengguncang wilayah itu. 

Adanya dualisme pandangan di kalangan umat Islam di Palu dan sekitarnya, menurutnya, membuktikan “agak sulit” untuk menghilangkan salah-satu diantaranya.

“(Karena) sekarang menjadi keyakinan di tingkat masyarakat,” ungkap Chalid, yang saat ini terlibat dalam jaringan relawan Koalisi Sulteng Bergerak untuk membantu pemulihan Palu dan sekitarnya pasca gempa.

PaluFoto : ANTARA FOTO/YUSRAN UCCANG
Pekerja beraktivitas di salah satu toko variasi mobil kota Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (13/10), sepekan setelah gempa meluluhlantakkan sebagai wilayah di Sulteng. 

Dia kemudian mengusulkan agar digelar dialog rutin untuk mempertemukan “sudut pandang” berbeda di kalangan masyarakat Palu itu agar tidak terjadi “benturan nilai” di antara orang-orang yang menjalani keyakinan itu.

“Harus ada pendekatan antropologis, ada pendekatan religius, ada dialog-dialog yang harus dibuka dengan tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh adat, sehingga persoalan ini lebih jernih,” katanya.

Menurutnya, ini bisa dilakukan setelah Palu dan sekitarnya “pulih”.

Palu Foto : USGS
Posisi Palu dan kepulauan di Indonesia oleh para ahli dikatakan rentan gempa. 

Sementara, seorang pengajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, program studi Biologi, Universitas Tadulako, Palu, Sulteng, Nadjamuddin Ramly, mengatakan, dirinya sebagai penganut Islam, meyakini adanya teks di Alquran dan Sunnah yang menyebutkan “syirik mempercepat datangnya musibah”.

“Bagi saya, keyakinan orang Palu (yang Muslim) itu meyakini ada unsur-unsur ritus budaya, khususnya ritus pengobatan orang sakit yang namanya Balia. Balia ini mengundang roh-roh di luar akal sehat kita,” ungkapnya memberi contoh.

PaluFoto : ANTARA FOTO/MOHAMAD HAMZAH
Sejumlah relawan membangun hunian sementara (huntara) bantuan Pemerintah Daerah Jawa Tengah yang diperuntukkan bagi korban gempa di Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (17/10/2018). 

Namun demikian, Nadjamuddin mengaku, dirinya juga meyakini fenomena pergeseran sesar Palu Koro yang disebutnya menjadi penyebab gempa di Sulteng. Dia menekannya adanya “kompabilitas” dua faktor tersebut.

“Secara saintifik rasional, dipercepat dengan perbuatan-perbuatan yang memang mengundang murka Allah SWT,” ungkap Nadjamudin yang juga Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud.

Sementara, mantan anggota Komnas HAM yang dilahirkan dan tumbuh besar di Kota Palu, Sulteng, Ridha Saleh, mengatakan, sebagian besar masyarakat Muslim di Palu tidak bisa melepaskan persoalan gempa dengan “kekuasaan Tuhan”.

PaluFoto ANTARA FOTO/MOHAMAD HAMZAH
Seorang warga Sulteng berdoa di anjungan Pantai Talise, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (12/10) untuk memohon pengampunan dan meminta kekuatan kepada Allah SWT. 

“Walaupun secara sainstifik ada faktor Palu Koro, tapi secara subnatural, ada kelaziman lain yang oleh masyarakat dibenarkan,” kata Ridha.

“Saya kira antara faktor sainstifik dan kelaziman masyarakat menganggap bencana itu datang kepercayaan agama, itu tidak perlu dipertentangkan, karena dua-duanya fakta. Ada fakta sainstifik dan fakta sosiologi yang mereka percayai, yaitu dari Tuhan,” jelasnya.

Pengamat keislaman: ‘Harus dicounter, karena berbahaya sekali’

Pendapat berbeda ditunjukkan pemikir masalah keislaman, Budhy Munawar Rachman, yang menganggap cara berpikir yang menautkan gempa, tsunami dan likuifaksi di Kota Palu dan sekitarnya, dengan apa yang disebut sebagai “hukuman Allah” sangat “berbahaya”.

“Kalau ada pendapat-pendapat seperti itu, saya kira pendapat itu harus di-counter, karena itu berbahaya sekali,” kata Budhy Munawar, pendiri Nurcholish Madjid Society, kepada BBC News Indonesia, Kamis (17/10) malam.

PaluFoto : ULET IFANSASTI/GETTY IMAGES
Sejumlah warga Palu menggelar doa bersama untuk memohon ampunan dan kekuatan, Jumat (12/10), setelah gempa mengguncang wilayah Palu dan sekitarnya. 

Dia mengkhawatirkan, apabila cara berpikir seperti itu dibiarkan, akan dijadikan alasan untuk menyerang kelompok-kelompok yang mempraktikkan “tradisi-tradisi lokal”.

Menurutnya, siapapun tidak bisa menghubungkan antara gempa bumi dengan hukuman atau peringatan dari Tuhan karena umat Islam dianggap sudah mempraktikkan syirik.

Palu

“Saya kira itu narasi itu harus ditolak, karena kita sudah mengerti lewat ilmu pengetahuan bahwa gempa bumi dan tsunami itu ada penyebab alaminya,” jelas pendiri dan pimpinan Project on Pluralism and Religious Tolerance, Center for Spirituality and Leadership (CSL) ini.

Budhy menjelaskan, di dalam Alquran memang ada narasi tentang peringatan atau hukuman Tuhan di balik bencana yang menimpa manusia, tetapi semuanya ada konteks atau latar kejadiannya.

“Memahami kitab suci atau memahami narasai agama tentang hukuman Allah itu selalu ada konteksnya. Dan yang penting itu adalah pesannya, yaitu apa yang ingin disampaikan narasi keagamaan itu,” jelas Budhy.

Lebih lanjut dia mengatakan: “Beragama itu tidak cuma dengan narasi, atau teologi keagaamaan, tapi juga memerlukan ilmu pengetahuan.”

PaluFoto : ULET IFANSASTI/GETTY IMAGES
Seorang warga Sulteng terlihat berdoa di anjungan Pantai Talise, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (12/10) untuk memohon pengampunan dan meminta kekuatan kepada Allah SWT. 

Agama memerlukan pemahaman, dan agama yang tanpa pemahaman sebenarnya dia bukan agama yang sejati, kata Budhy.

“Agama yang sejati itu harus dimengerti. Tidak ada agama tanpa akal, begitu bunyi sebuah hadis,” tandasnya.

Dalam konteks inilah, menurutnya, masyarakat muslim perlu diberi pemahaman agar lebih mengkorelasikan semua gejala alam itu dengan ilmu pengetahuan, yang bisa “dimengerti”.

“Di sini tempatnya pendidikan di mana orang dalam beragama itu memerlukan pengertian, memerlukan ilmu pengetahuan.

“Jadi pendidikan agama itu, saya kira, harus memberi perhatian tentang pentingnya ilmu pengetahuan, dalam mengerti persoalan bencana,” tandasnya. (Red)

Ditulis Oleh :
Sumber Berita : BBC News Indonesia

Nasional

Corona 19 Maret: 309 Kasus, 25 Meninggal, 15 Sembuh

Published

on

Jumlah pasien positif Virus Corona, per Kamis (19/3), bertambah menjadi 309 orang, dengan 25 orang di antaranya meninggal dunia. ujar juru bicara pemerintah khusus penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers, di Jakarta, Kamis (19/3).

FINROLL.COM — Kasus-kasus itu berasal dari Bali (1 kasus), Banten (27), DIY (5), DKI Jakarta (210), Jawa Barat (26), Jawa Tengah (12), Jawa Timur (9), Kalimantan Barat (2), Kalimantan Timur (3), Kepulauan Riau (3).

Selain itu, Sulawesi Utara (1), Sumatera Utara (2), Sulawesi Tenggara (3), Sulawesi Selatan (2), Lampung (1), Riau (2).

Dari angka itu, Yuri menyebut ada pula peningkatan jumlah korban yang meninggal dunia. Korban terbanyak berasal dari DKI, yakni 17 orang.

Di samping itu, Jateng menyumbang 3 kasus, serta Bali, Banten, Jabar, Jatim, dan Sumut masing-masing satu kematian.

“Total kematian 25 person, atau 8 persen dari kasus yang kita rawat,” ungkapnya.

Ia juga menyebut ada 15 orang yang sembuh dari Corona setelah menjalani dua kali tes Corona.

“Total yang sudah sembuh keseluruhan 15 orang,” tandasnya.

Sehari sebelumnya, Pemerintah menyebut kasus positif Corona mencapai 227 orang, dengan 19 orang meninggal dunia, dan 11 pasien sembuh.

Sumber Berita : CNN INDONESIA

Continue Reading

Nasional

Pasien Positif Corona Indonesia Bertambah Jadi 134 Orang

Published

on

Juru Bicara Penanganan Corona COVID-19 Achmad Yurianto menjelaskan perkembangan terkini wabah virus Corona COVID-19 di Indonesia. Dia mengatakan bahwa orang positif Corona bertambah hingga total menjadi 134 orang.

Per hari ini, bertambah 17 orang yang kena Corona.

“Ada penambahan kasus sebanyak 17,” kata Achmad Yurianto di Jakarta, Senin 16 Maret 2010.

“Dari DKI 14 dan rincian lain silakan dilihat lebih lengkap di website yang ada di www.kemenkes.go.id,” kata Achmad Yurianto lagi.

Rinciannya, pasien terbaru positif Corona dari Jawa Barat 1 orang dari Banten 1 orang, dari Jawa Tengah 1 orang dan 14 orang dari DKI Jakarta.

Spesimen yang didapatkan dari kemarin hingga siang tadi. Pemerintah kata dia akan terus memperbaharui data mengenai virus Corona.

Sementara hari ini diumumkan bahwa pasien 01, pasien 02 dan pasien 03 sudah sembuh. Tiga pasien itu adalah orang pertama dengan virus Corona di Indonesia dan dinyatakan sembuh. (VIVA.co.id)

Continue Reading

Peristiwa

Kisah Marsda TNI DR. Umar Sugeng Hariyono Orang Pertama Yang Menerbangkan Pesawat CN-235 Buatan Indonesia

Published

on

Finroll.com — Asisten Operasional Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Asops Kasau) Marsekal Muda TNI DR. Umar Sugeng Hariyono menjadi orang pertama yang dipercaya untuk menerbangkan pesawat Sandi Tetuka atau yang lebih dikenal dengan pesawat CN-235.

Ditemui diruang kerjanya Marsekal Muda TNI DR. Umar Sugeng Hariyono menyampaikan serta bercerita seputar pengalamannya selama menjadi penerbang di TNI AU. Beliau merupakan salah satu penerbang pertama yang menerbangkan pesawat CN-235 bermesin turboprop yang dirancang bersama antara IPTN Indonesia dan CASA Spanyol yang memiliki type glass cocpit,” ungkapnya di Gedung Pimpinan Mabes AU, Cilangkap, Jakarta (Jumat 13/3/2020).

Umar menjelaskan, CN-235 adalah sebuah pesawat penumpang sipil (airline) angkut turboprop kelas menengah bermesin dua, Pesawat ini diberi nama sandi Tetuka dan menjadi pesawat paling sukses dan canggih dari sisi pemasaran dan tekhnologi dikelasnya pada zamannya.

Dari kurun waktu tahun 1994 sampai dengan 2007, Asops Kasau ini memulai mengawaki pesawat yang dikenal ekpensive dalam hal perawatan ini,

”Awalnya tahun 1994 saat itu kita punya Fokker 27 tapi diperintahkan untuk mengambil pesawat CN-235 dan dikirimlah saya ke Bandung tepatnya PT DI ( PT Dirgantara Indonesia) untuk sekolah mempelajari bagaimana mengawaki pesawat itu, waktu zaman itu pesawat CN 235 termasuk pesawat paling canggih,” jelasnya.

Lanjut Umar, ” Pria yang pernah menjabat sebagai Danlanud Halim dan Panglima Komando Operasinal TNI AU ll Makasar (Pangkoopsau ll) serta dari pengalamannya yang banyak menerbangkan jenis pesawat angkut seperti Fokker 27 yang terkenal sangat binal dan sulit lalu diberi kesempatan untuk mengawaki pesawat CN-235 dirasa sangat mudah sekali.

“Dengan mengikuti training hanya dengan 10 jam, saya sudah bisa jadi kapten pilot lalu dari pengalaman saya itu kemudian saya terapkan juga kepada yunior yunior saya ketika saya jadi instruktur mereka,” jelasnya.

“Yang harus diperhatikan dan penting saat memberikan instruksi kepada junior Personil TNI AU, apa yang harus dipegang dan diperhatikan pada saat take off dan landing sehingga mereka bisa cepat sekali untuk bisa,” elas Umar.

Seperti diketahui pesawat CN-235 itu perawatan nya sangat mahal dari total 8 pesawat yang dimiliki TNI AU sekarang hanya tinggal 3 pesawat yang bisa beroperasi, sisanya 5 buah pesawat jenis ini tidak lagi berfungsi karena kondisinya rusak dan tidak ada anggaran untuk perawatannya dan Umar sangat menyayangkan hal itu karena selain pesawat CN-235 merupakan pesawat yang multifungsi, canggih juga sebagai kebanggaan bangsa karena hasil karya anak bangsa Indonesia.

Umar juga termasuk orang pertama yang menerbangkan CN-235 dan ikut mengirim pesawat ini ke Korea dan ke Pakistan saat negara-negara tersebut membeli pesawat jenis ini dari Indonesia.

Varian CN-235 dari sisi bahan bakarnya juga sangat panjang waktunya, bisa sampai 9 jam penerbangan, karena pernah Asops Kasau ini membawanya dari Ambon ke Halim nonstop dengan jarak tempuh 7,5 jam tidak ada masalah.

Sementara, Jenderal bintang dua yang sebentar lagi memasuki masa pensiun ini masih ingin memberikan pengabdiannya buat negara karena bagi dia apapun siap dilakukan buat NKRI “Pengabdian pantang surut ” disisa masa pengabdiannya Umar ingin mencoba untuk meningkatkan keterampilan personil TNi AU khususnya siswa-siswa Akmil AAU (Sekbang) dengan menambah program simulator, karena selain untuk menjaga Zero Accident harus ada program minimal melaksanakan satu tahun dua kali yang sebelumnya hanya dua tahun sekali ini siswa sekbang melaksanakan uji coba simulator pesawat di luar negeri sesuai negara produsen pesawat.

“Akhirnya saya bersyukur karena apa yang saya coba programkan untuk mereka mulai tahun 2020 dalam setahun dua kali wajib mengikuti program simulator,” pungkasnya.

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending