Senin, 10 Februari 2020

Benarkah Bilderberg Group, Organisasi Paling Kontroversi Pencipta Krisis Keuangan Global?


Pada pertengan juni 2019 lalu, organisasi yang barangkali paling klandestin dan paling kontroversial di dunia – Bilderberg Group – melakukan pertemuan tertutup selama empat hari di sebuah resor mewah di Montreux, Swiss. Sekitar 130 elite politik dan tokoh senior dari industri, keuangan, akademisi, tenaga kerja, dan media diundang.

Kaum elite global

Para tamu dari Amerika saja meliputi menantu Presiden Trump Jared Kushner, CEO Microsoft Satya Nadella, mantan pimpinan eksekutif Google Eric Schmidt, miliarder pendiri Paypal Peter Thiel dan mantan Sekretaris Negara Henry Kissinger.

Para peserta dari negara lain juga tidak kalah terkenal.

Dan yang diundang setiap tahun tidak hanya mereka yang telah berada di puncak, tapi juga mereka yang sedang naik.

Ketika Bill Clinton hadir pada tahun 1991, saat itu bahkan belum jelas apakah ia akan memenangkan nominasi Demokrat untuk pemilihan presiden tahun berikutnya, apalagi menggantikan George H.W. Bush di Gedung Putih.

Tony Blair hadir pada 1993, ia baru menjadi pemimpin partai Buruh pada tahun berikutnya setelah John Smith meninggal dunia, dan terpilih sebagai perdana menteri Inggris tiga tahun kemudian.

Diplomasi atau konspirasi?

Tapi apakah Bilderberg Group sekadar kesempatan bagi kalangan elite dunia untuk berbicara dengan satu sama lain secara pribadi dan santai, atau apakah ini, seperti yang diklaim para pengkritik terbesarnya, komplotan rahasia tertutup yang berupaya merusak demokrasi global?

Para penganut teori konspirasi, yang sangat memegang pandangan yang kedua, menuduh Bilderberg Group melakukan segala kejahatan mulai dari sengaja menciptakan krisis keuangan hingga menyusun rencana untuk membunuh 80% populasi dunia.

Pembawa acara bincang-bincang radio di Amerika Serikat, Alex Jones, yang terkenal suka meracau, telah mencela pertemuan ini melalui megafon: “Kami tahu Anda kejam. Kami tahu Anda jahat. Kami menghormati kekuatan gelap Anda.”

Dari abu peperangan

Mengingat sejarah Bilderberg Group yang panjang dan misterius, agaknya wajar bila ia menarik banyak tuduhan ngawur.

Pertemuan pertama diadakan pada 1954, dengan tujuan memperkuat AS dan Eropa serta mencegah konflik global terjadi lagi setelah Perang Dunia II.

CIMB NIAGA

Metode kerjanya selalu rahasia.

Tidak ada jurnalis yang diundang, tidak ada siaran pers yang dikirim setelah pertemuan berakhir, dan organisasi hanya memelihara situs web berisi informasi seadanya yang tampaknya dirancang pada tahun ’90-an.after the meetings conclude and the organisation maintains only a bare bones website which looks like it was designed in the 1990s.

Cuma tempat nongkrong?

Namun meskipun Bilderberg Group tampak seperti klub eksklusif bagi para penjahat di cerita James Bond, para pengamat yang lebih mainstream mengatakan ia tidak sejahat kelihatannya.

David Aaronovitch, seorang kolumnis untuk surat kabar The Times di Inggris, mengatakan ribut-ribut soal Bilderberg itu konyol.

“Ini sebenarnya cuma klub perjamuan makan yang diadakan sesekali untuk orang-orang kaya dan berkuasa,” ujarnya.

Hal yang, menurut beberapa orang, bermanfaat bagi kita semua..

Denis Healey, yang merupakan salah satu pendiri grup dan menteri keuangan Inggris pada tahun 1970-an, mengatakan kepada jurnalis Jon Ronson dalam bukunya Them, bahwa orang mengabaikan manfaat praktis dari jejaring informal.

“Bilderberg adalah kelompok internasional paling berguna yang pernah saya hadiri,” katanya.

“Kerahasiaan memungkinkan orang untuk berbicara dengan jujur tanpa takut akan akibatnya.”

Para pendukung Kelompok Bilderberg mengatakan kerahasiaannya memungkinkan orang untuk secara jujur mengutarakan kebenaran terhadap satu sama lain, tanpa perlu khawatir bagaimana apa yang mereka katakan akan berdampak secara politik atau bagaimana itu akan ‘digoreng’ oleh media.

Kekuatan nyata

Tapi bukan berarti mereka tidak berkuasa.

Para penganut teori konspirasi mungkin terlalu bersemangat, tapi mereka ada benarnya, kata Profesor Andrew Kakabadse, kopengarang buku Bilderberg People.

Kelompok ini memegang kekuatan nyata yang jauh melebihi Forum Ekonomi Dunia, yang menggelar pertemuan rutin di Davos, katanya. Dan tanpa transparansi, mudah untuk mengerti kenapa orang khawatir akan pengaruhnya.

“Ini jauh lebih cerdas daripada konspirasi,” kata Prof. Kakabadse. “Ini membentuk cara orang berpikir sehingga sepertinya tidak ada alternatif dari apa yang terjadi.”

Agenda kelompok ini ialah menyatukan para elit politik di kanan dan kiri, membiarkan mereka berbaur dalam lingkungan yang santai dan mewah dengan para pemimpin bisnis dan membicarakan ide-ide.

Ini mungkin kedengaran seperti pesta makan malam yang dibesar-besarkan, tapi bukan itu poinnya.

“Kalau Anda cukup sering datang ke pesta makan malam, Anda melihat ada tema yang muncul,” katanya.

Tema di Bilderberg ialah mendukung konsensus tentang pasar bebas kapitalisme Barat dan kepentingannya di seluruh dunia, katanya.

“Apakah ini semua mengarah ke awal gagasan menguasai dunia? Dalam arti tertentu, iya. Ada langkah yang sangat kuat untuk mewujudkan Pemerintahan Dunia dalam cetakan pasar bebas kapitalisme Barat.”

Rasa takut

James McConnachie, kopenulis Rough Guide to Conspiracy Theories, mengatakan sifat rahasia kelompok-kelompok semacam itu memungkinkan para pemrotes memproyeksikan ketakutan mereka sendiri kepada mereka.

Di AS, ketakutan paling ekstrem terhadap Bilderberg Group adalah ketakutan akan komplotan rahasia yang dijalankan oleh Uni Eropa dan mengancam kebebasan Amerika.

Di Eropa, pandangannya seringkali berupa elite pasar bebas yang berusaha memajukan agenda sayap-kanan mereka.

Kritik konvensional tentang orang-orang teralienasi yang mencari semacam keteraturan di dunia yang kacau mungkin benar. Tetapi ada lebih dari itu, menurut McConnachie.

“Penjelasan lainnya lebih berbahaya. Bahwa mereka benar — mereka hanya mengartikulasikannya secara berlebihan.”

Bilderberg Group cocok dengan bagaimana cara kerja suatu konspirasi global — sebuah lembaga rahasia yang berusaha menentukan arah dunia, ia berpendapat.

“Satu-satunya perbedaan adalah tingkat kejahatannya,” katanya. “Mereka cenderung melihat komplotan rahasia ini sebagai kejahatan terang-terang. Padahal kenyataannya lebih bernuansa dari itu.”

Untuk semua kisah ekstrem tentang kelompok bayangan yang menguasai dunia, yang kadang-kadang di titik ekstrem berubah menjadi teori konspirasi anti-Semit yang kental dan tak berdasar tentang orang Yahudi, kita semua berhutang pada beberapa pencetus teori konspirasi, menurut McConnachie.

“Kadang-kadang Anda harus memuji pencetus teori konspirasi yang mengangkat isu yang diabaikan media arus utama. Baru belakangan ini media meliput tentang para Bilderbergers (anggota Bilderberg Group). Apakah media akan menayangkan berita jika tidak ada tuduhan-tuduhan liar seperti ini di mana-mana?”

Irasional

Tapi Aaronovitch tidak setuju. Keyakinan akan keberadaan suatu asosiasi rahasia menyebabkan kelompok-kelompok tertentu menjadi korban dan menghalangi pandangan dunia yang rasional.

“Memiliki keyakinan yang kuat pada Grup Bilderberg berarti percaya pada fantasi,” katanya. “Ini menunjukkan bahwa ada orang – seperti Tuhan – yang bertindak sebagai kekuatan yang lebih tinggi. Dan itu menggantikan pemikiran yang tidak dapat ditoleransi bahwa tidak ada yang bekerja sama sekali, bahwa dunia kacau”.

“Ini mungkin semacam bentuk terapi, tapi ini membuat orang-orang percaya pada pesan yang anti-ilmiah.”

Sumebr Berita : BBC

BACAAN TERKAIT