Senin, 1 Februari 2021

Donald Trump Diduga Jadi Mata-mata Rusia Selama 40 Tahun


Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diduga dimanfaatkan jadi mata-mata Uni Soviet dan Rusia selama 40 tahun.

Keterangan dari mantan anggota Badan Intelijen Uni Soviet (KGB) Yuri Shvets menyatakan Trump ikut andil dalam propaganda anti-Barat.

Mengutip The Guardian, Minggu (31/1), Shvets menyatakan posisi Trump sama dengan jaringan mata-mata Inggris yang biasa disebut dengan ‘The Cambridge Five’.

Jaringan mata-mata Inggris itu memberikan informasi rahasia ke Uni Soviet selama Perang Dunia II dan awal Perang Dingin.

Shvets mengaku dikirim ke Washington DC oleh Uni Soviet pada 1980 silam. Saat itu, ia menyamar menjadi koresponden untuk kantor berita Rusia, Tass.

Kemudian, Shvets pindah secara permanen dan memperoleh kewarganegaraan AS pada 1993. Lalu, ia bekerja sebagai penyelidik keamanan perusahaan dan mitra mendiang mata-mata Rusia bernama Alexander Litvinenko.

Pernyataan Shvets soal Trump dituliskan oleh jurnalis Craig Unger dalam buku American Kompromant. Unger juga menceritakan Trump pertama kali menarik perhatian Rusia pada 1977.

Buku itu merinci upaya dinas rahasia Uni Soviet (KGB) merekrut puluhan pengusaha AS sebagai aset tanpa mereka sadari.

Kepada The Guardian, Shvets menuturkan KGB sudah mengidentifikasi Trump, saat itu pebisnis real estate menjanjikan, sejak 1980-an.

“Ada contoh bagaimana orang yang direkrut saat masih mahasiswa kini berada di posisi penting. Ini yang terjadi pada Trump,” kata Shvets.

Jababeka industrial Estate

Dalam buku yang ditulis Unger, si eks presiden sudah ditarget sejak 1977, atau saat dia menikahi istri pertamanya, Ivana Zelnickova.

Shvets berujar, mantan presiden berusia 74 tahun adalah target. “Bukan rencana cerdik kami membesarkannya dan 40 tahun kemudian, dia jadi presiden.”

Dilansir Business Insider Jumat (29/1/2021), presiden ke-45 AS itu dipilih karena sombong dan begitu narsis akan dirinya.

Pada buku The Art of the Deal yang ditulis pada 1987, Trump mengaku berkunjung ke “Negeri Beruang Merah”.

Pada 1987, Trump dan Ivana mengunjungi Moskow dan St. Petersburg untuk pertama kali. Shvets mempengaruhi Trump dengan memberikan arahan dari poin-poin yang telah dirumuskan KGB.

Saat itu dia membujuk Trump harus terjun ke politik.

“Bagi KGB perangai menarik perhatian. Mereka mengumpulkan banyak informasi tentang kepribadiannya sehingga mereka tahu siapa dia secara pribadi. KGB melihat dia (Trump) sangat rentan secara intelektual, psikologis, dan dia cenderung menyukai sanjungan,”

Yuri Shvets

Setelah kunjungan ke Moskow, Trump kemudian mencari cara supaya dia dilirik untuk menjadi kandidat bakal calon presiden.

Dia juga memasang iklan di sejumlah surat kabar terkemuka yaitu New York Times, Washington Post dan Boston Globe. Isinya adalah pendapat yang meragukan keikutsertaan AS di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) hingga menuduh Jepang mengeksploitasi AS.

Setelah iklan itu muncul, Shvets pulang ke Rusia dan dipanggil menghadap pimpinan KGB saat itu. Para petinggi KGB menyatakan terkesan karena rencana mereka membina Trump untuk memojokkan pihak Barat membuahkan hasil.

“Sulit dipercaya seseorang mau menerbitkan iklan semacam itu dengan memajang namanya, dan iklan itu mengesankan sejumlah kalangan di Barat, dan akhirnya orang ini menjadi presiden,” kata Shvets.

Shvets menambahkan, KGB kemudian mengeksploitasi Trump dengan berpura-pura tersanjung dengan sikap Trump.

“Mereka memainkan permainan seolah-olah mereka sangat terkesan dengan kepribadiannya dan percaya bahwa dialah yang akan menjadi presiden Amerika Serikat suatu hari nanti. Orang-orang seperti dia yang dapat mengubah dunia, ” terangnya.

Permainan itu berhasil dan menjadi pencapaian besar bagi KGB. Kemenangan Trump dalam pemilu 2016 kembali disambut oleh Rusia.

Rusia mempunyai proyek sebuah inisiatif dari Center for American Progress Action Fund, dan menemukan bahwa tim kampanye dan transisi Trump memiliki setidaknya 272 kontak dan melakukan 38 pertemuan dengan agen Rusia.

Unger yang merupakan penulis tujuh buku dan mantan editor kontributor untuk majalah Vanity Fair, ikut memberikan pandangan soal Trump.

“Dia adalah aset. Bukan rencana besar dan cerdik bahwa kami akan memelihara orang ini dan 40 tahun kemudian dia akan menjadi presiden. Pada saat dimulai, yaitu sekitar 1980, Rusia mencoba merekrut seperti orang gila dan mengejar puluhan dan puluhan orang,” kata Unger.

“Trump adalah target sempurna dalam banyak hal: kesombongan, narsisme membuatnya menjadi target alami untuk direkrut. Dia dibina selama 40 tahun, sampai pemilihannya,” ujar Unger.

BACAAN TERKAIT