Jumat, 5 Februari 2021

Geger Investasi Bodong Rp25 T, Skandal Ponzi Terbesar ke-2 AS


Investasi bodong dengan skema Ponzi kembali terjadi di Amerika Serikat (AS). Setelah kasus Madoff Investment Securities yang membuat geger Amerika tahun 2008 dan mencoreng nama Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) AS, Securities and Exchange Commission/ SEC, kali ini penipuan modus serupa kembali terjadi.

Pendiri sebuah perusahaan pengelola uang di New York dan dua rekannya didakwa secara pidana pada Kamis (4/2/20201), akibat menjalankan penipuan dengan skema Ponzi senilai US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 25,3 triliun (asumsi Rp 14.072/US$). Ia adalah David Gentile (54), kepala eksekutif GPB Capital Holdings LLC.

Ia dituduh menipu lebih dari 17.000 investor ritel. Dirinya menjanjikan pengembalian investasi stabil tahunan 8% bahkan ketika perusahaan itu mengalami kerugian.

Pihak berwenang mengatakan GPB yang berbasis di Manhattan ini menjanjikan kepada investor bahwa pembayaran mereka akan didanai oleh pendapatan dari kepemilikan perusahaan, termasuk sekelompok dealer mobil. Padahal sebenarnya porsi tersebut berasal dari uang investor baru.

Para terdakwa juga diduga menyedot jutaan dolar untuk diri mereka sendiri. Termasuk untuk barang-barang mewah seperti Ferrari untuk Gentile dan tagihan American Express sebesar US$ 29.837 untuk perayaan ulang tahun Gentile ke-50.

Selain Gentile, sejumlah mantan mitra pengelola GPB juga dikenai dakwaan yang sama. Ia adalah Jeffrey Lash (51) dari Naples, Florida dan Jeffry Schneider (52) dari Austin, Texas, yang memiliki agen penempatan GPB, Ascendant Capital LLC.

Masing-masing didakwa dengan penipuan sekuritas dan konspirasi. Gentile dan Lash juga didakwa dengan wire fraud, yakni kejahatan yang melibatkan pengiriman surat atau transmisi elektronik sesuatu yang terkait dengan penipuan.

Tuntutan perdata terkait diajukan oleh Jaksa Agung New York Letitia James, yang mengatakan korban kehilangan lebih dari US$ 700 juta (Rp 9,8 triliun). Serta oleh beberapa regulator federal dan negara bagian lainnya.

Menurut dokumen pengadilan, GPB mengklaim hanya mengelola US$ 239 juta per Desember. Meskipun perusahaan ternyata mengumpulkan US$ 1,8 miliar.

Keluhan dari Komisi Sekuritas dan Bursa AS termasuk tuduhan bahwa GPB membungkam pelapor yang diketahui dan melarang mantan karyawan untuk berbicara dengan agensi. Dalam pernyataannya, GPB membantah tuduhan tersebut dan mengatakan akan membela diri.

Jababeka industrial Estate

Dilaporkan oleh CNBC International, Kamis (4/2/2021), hingga kini pengacara Gentile tidak menanggapi komentar dan pengacara Schneider tidak bisa dihubungi. Sementara pengacara Lash, mengatakan kliennya akan mengaku tidak bersalah.

Skema ponzi diambil dari nama Charles Ponzi. Ponzi sendiri dulunya mendirikan ‘The Security Exchange Company’ pada 26 Desember 1919, yang menjanjikan investasi dengan balas jasa 40% dalam 90 hari.

Padahal kala itu bunga bank pada saat itu hanya 5% per tahun. Tidak sampai satu tahun, diperkirakan sekitar 40,000 orang mempercayakan sekitar US$ 15 juta atau sekarang senilai US$ 140 juta dalam perusahaannya.

Namun untung yang dijanjikan Ponzi ternyata hasil tambal sulam. Pada pertengahan Agustus 1920, audit oleh pemerintah terhadap usaha Ponzi menemukan bahwa Ponzi sudah bangkrut.

Total aset yang dimilikinya sekitar US$ 1,6 juta, jauh di bawah nilai utangnya kepada investor. Skema ponzi hanya memutar uang investor baru untuk membayar hasil investor lama.

Kasus investasi bodong dengan skema Ponzi bukan pertama kali terjadi di AS. Kasus Ponzi terbesar di AS terjadi di firma milik Bernard Madoff, Madoff Investment Securities, tahun 2008.

Korbannya bukan kelas teri. Melainkan investor kalangan perbankan besar seperti lembaga investasi Spanyolm Nomura Holdings, hingga HSBC.

Penipuan terungkap saat investor hendak mengambil dana sehubungan dengan krisis finansial kala itu. Namun sayangnya Madoff sudah kehabisa dana.

Kasus ini kemudian mencoreng citra Bapepam AS, SEC. Para investor mempertanyakan bagaimana bisa SEC kebobolan oleh penipuan yang sudah berlangsung hingga bertahun-tahun.

Sumber Berita : CNBCINDONESIA.COM

BACAAN TERKAIT