Kamis, 25 Juli 2019

Juni 2019, Neraca Perdagangan Mencatat  Surplus Sebesar USD 196,0 Juta


Finroll.com — Surplus neraca perdagangan Juni 2019 sebesar USD 196,0 juta memperbaiki defisit neraca perdagangan pada Januari-Juni 2019. Neraca perdagangan nonmigas pada Juni 2019 mencatatkan surplus USD 1,2 miliar, sedangkan neraca migas defisit USD 966,8 juta,” ungkap Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dalam siaran pers, du Jakarta, Rabu (24/7/2019).

Mendag mengatakan, penurunan defisit neraca perdagangan migas menjadi penyebab surplus neraca perdagangan Juni 2019. Surplus ini memperbaiki neraca perdagangan selama Januari-Juni 2019.

Namun, lanjut Mendag, secara kumulatif defisit selama Januari-Juni 2019 masih cukup besar yaitu USD 1,9 miliar. Defisit tersebut disebabkan besarnya defisit pada neraca perdagangan migas yang mencapai USD 4,8 miliar. Sementara, pada periode yang sama, neraca perdagangan nonmigas menyumbang surplus sebesar USD 2,8 miliar.

Adapun negara-negara mitra dagang penyumbang surplus perdagangan nonmigas terbesar selama Juni 2019 yaitu Amerika Serikat, India, Filipina, Belanda, dan Malaysia yang mencapai USD 12,9 miliar.

Sementara itu, China, Thailand, Australia, Jepang, dan Argentina menjadi negara mitra yang menyumbang defisit perdagangan nonmigas terbesar yang secara total mencapai USD 14,3 miliar.

“Perolehan ekspor nonmigas pada semester I 2019 ini mendorong Kemendag untuk kembali merumuskan strategi peningkatan ekspor produk bernilai tambah tinggi dan berdaya saing guna mencapai target ekspor nonmigas 2019,” lanjut Mendag.

Sementara itu, kinerja ekspor Juni 2019 mencapai USD 11,8 miliar atau turun 9,0 persen dibandingkan ekspor Juni 2018 (YoY). Penurunan tersebut disebabkan penurunan ekspor migas sebesar 54,7 persen (YoY) dan penurunan ekspor nonmigas sebesar 2,3 persen (YoY). Secara kumulatif, ekspor nonmigas semester pertama 2019 sebesar USD 80,3 miliar atau turun 8,6 persen dibanding periode yang sama tahun 2018.

Penurunan ini sedikit lebih dalam dibanding pertumbuhan ekspor periode Januari-Mei 2019 yang turun 7,3 persen.

Selama semester I 2019, ekspor seluruh sektor juga mengalami pelemahan. Ekspor sektor pertambangan turun 15,4 persen, sementara tahun lalu naik 36,2 persen; sektor industri turun 4,6 persen, sementara tahun lalu naik 5,4 persen; dan sektor pertanian turun 1,0 persen, sementara tahun lalu juga turun 7,8 persen.

Sektor migas menjadi sektor yang mengalami penurunan ekspor terbesar, yaitu turun 27,7 persen (YoY); sementara semester I tahun lalu ekspornya meningkat 11 persen (YoY).

Jababeka industrial Estate

Pelemahan kinerja ekspor Januari-Juni 2019 disebabkan faktor tekanan harga beberapa komoditas utama Indonesia di pasar internasional, seperti batu bara dan CPO, meskipun volume ekspornya mengalami peningkatan.

“Kondisi global masih menekan kinerja ekspor nonmigas selama Januari-Juni 2019,” jelas Mendag.

Secara keseluruhan, penurunan ekspor nonmigas selama semester I 2019 juga dipicu melemahnya ekspor ke 10 besar negara tujuan utama, kecuali Malaysia, Filipina, dan Vietnam yang naik masing-masing sebesar 0,3 persen, 0,1 persen, dan 23,1 persen.

Adapun, kinerja impor Juni 2019 tercatat USD 11,6 miliar atau naik 2,8 persen dibandingkan Juni 2018 (YoY), dan turun 20,7 persen dibandingkan Mei 2019 (MoM).

Selama Januari-Juni 2019, total impor Indonesia mencapai USD 82,3 miliar atau menurun 7,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar USD 89,1 miliar.

“Penurunan impor Januari-Juni 2019 dipicu menurunnya permintaan impor migas yang cukup signifikan, yaitu sebesar 22,6 persen dan impor nonmigas yang turun 4,8 persen,” jelas Mendag.

Penurunan impor tersebut disebabkan turunnya permintaan impor seluruh golongan barang. Impor barang konsumsi turun sebesar 9,3 persen, impor bahan baku/penolong turun 7,7 persen, dan impor barang modal turun 6,2 persen.

Barang Konsumsi yang impornya mengalami penurunan signifikan antara lain berupa bahan bakar dan pelumas olahan (turun 29,9 persen), makanan dan minuman olahan (turun 20,3 persen), dan alat angkutan bukan untuk industri (turun 19,1 persen).(red)

BACAAN TERKAIT