Rabu, 4 November 2020

Menanti Banjir Dana ke Pasar Keuangan Indonesia dari Hasil Pilpres AS


FINROLL.COM – Amerika Serikat bersiap menggelar pemilihan presiden pada hari ini, 3 November 2020 dengan dua kandidat, Presiden Donald Trump dan mantan Wakil Presiden Joe Biden. Pesta politik yang digelar negara dengan ekonomi terbesar dunia ini akan berdampak ke ekonomi Indonesia, salah satunya pada pasar keuangan.

Hasil jajak pendapat yang digelar berbagai lembaga di AS mengunggulkan Biden dibandingkan Trump. Survei yang digelar Reuters dengan lembaga riset pasar, Ipsos secara mingguan sejak pertengahan September salah satunya. Hasilnya, Biden selalu memimpin Trump di tiga negara bagian.

Kepala ekonom di Renaissance Capital, Charles Robertson mengatakan pasar negara berkembang berpotensi lebih baik jika Biden terpilih. Dia berargumen pasar ekuitas dan obligasi belum memasukkan perhitungan terkait kemungkinan Biden menang lantaran pernah gagal mengantisipasi kemenanganan Trump pada Pilpres 2016.

“Saya tidak berpikir investor bertaruh besar-besaran. Guncangan tahun 2016 begitu signifikan sehingga para investor tidak terlalu mempercayai jajak pendapat. Namun, saya yakin investor akan banyak mengalokasikan uang ke emerging market,” ujar Robertson mengutip Financial Times.

Ada persepsi bahwa pasar emerging market akan bernasib lebih baik jika bukan karena Trump. Analis di BlueBay Asset Management Timothy Ash menyebut, kepresidenan Trump tidak baik untuk pertumbuhan perdagangan global karena sikap proteksionis pemerintah.

“Emerging market adalah proksi untuk pertumbuhan global dan kemenangan Biden berarti lebih banyak pertumbuhan dan perdagangan global,” katanya.

Pasar negara berkembang mengalami tekanan sejak pandemi Covid-19 menyebar dan ketidakpastian global, salah satunya terkait pilpres AS. Namun, volatilitas di pasar negara berkembangan sudah mulai mereda, lebih baik dari kondisi negara maju.

Mengutip Reuters, Citigroup Inc mengatakan pada pekan lalu bahwa kondisi terburuk pada pasar keuangan negara berkembang telah berakhir. Morgan Stanley juga memperkirakan gejolak akan terus mereda karena hasil pemungutan suara sudah semakin jelas.

Ekuitas dan mata uang pasar negara berkembang naik ke level tertinggi dalam delapan bulan terakhir pada Jumat (30/10). Sementara pasar surat utang dengan denominasi mata uang lokal mengalami minggu terbaik sejak Mei.

IMF pada Oktober merevisi proyeksi pasar dan ekonomi negara berkembang (Emerging Markets and Developing Economies/EMDEs) menjadi negatif 1,7% pada 2020, lebih baik dari proyeksi April yang negatif 2,7% seperti terlihat dalam databoks di bawah ini.

CIMB NIAGA

Pasar negara berkembang mengalami tekanan sejak pandemi Covid-19 menyebar dan ketidakpastian global, salah satunya terkait pilpres AS. Namun, volatilitas di pasar negara berkembangan sudah mulai mereda, lebih baik dari kondisi negara maju.

Mengutip Reuters, Citigroup Inc mengatakan pada pekan lalu bahwa kondisi terburuk pada pasar keuangan negara berkembang telah berakhir. Morgan Stanley juga memperkirakan gejolak akan terus mereda karena hasil pemungutan suara sudah semakin jelas. Ekuitas dan mata uang pasar negara berkembang naik ke level tertinggi dalam delapan bulan terakhir pada Jumat (30/10).

Sementara pasar surat utang dengan denominasi mata uang lokal mengalami minggu terbaik sejak Mei. IMF pada Oktober merevisi proyeksi pasar dan ekonomi negara berkembang (Emerging Markets and Developing Economies/EMDEs) menjadi negatif 1,7% pada 2020, lebih baik dari proyeksi April yang negatif 2,7% seperti terlihat dalam databoks di bawah ini.

Rupiah Paling Diuntungkan

Riset yang dibuat Bloomberg menunjukkan rupiah bersama won Korea Selatan akan memperoleh manfaat terbesar jika arus investor asing kembali ke Asia usai Pilpres AS. Studi skor-Z mengukur jumlah bergulir 12 bulan dari aliran modal asing masuk portofolio dan membandingkannya dengan rerata lima tahun, memperhitungkan penilaian mata uang dan fundamental ekonomi.

Arus masuk portofolio saham Korea Selatan memiliki skor Z negatif 2,3. Sedangkan dalam kasus Indonesia, aliran masuk obligasi memiliki skor-S minus 2,9%. Dengan demikian, rebound kembali ke rata-rata lima tahun akan bernilai 1,5% terhadap PDB Korea Selatan, sedangkan 1,1% dari PDB untuk Indonesia.

Pasar keuangan negara berkembang hampir tidak menerima arus masuk portofolio bersih sejak pandemi Covid-19 menghantam karena investor mengejar pengembalian ekuitas AS, saham teknologi global, dan pasar Tiongkok.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan arus masuk hampir US$ 100 miliar untuk periode yang sesuai setelah krisis keuangan global 2008. Tanda-tanda bahwa Korea Selatan pulih dari resesi yang dipicu pandemi serta lonjakan ekspor terbesar sejak 1986 adalah di antara penarik aset negara.

“Mengingat kekuatan dalam ekonomi Korea dan pasar saham dan kurangnya arus masuk sejauh ini, permulaan jangka panjang karena arus masuk asing dapat memberikan won Korea dorongan lagi,” kata Nader Naeimi, Kepala Pasar dinamis di AMP Capital Investors Ltd. di Sydney. (katadata.com)

BACAAN TERKAIT