Rabu, 16 Juni 2021

Mewah di Ibu Kota, Nyatanya Fortuner dan Pajero yang Justru Jadi Angkot di Papua


Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero, kesan mewah pasti langsung terlintas di pikiran hampir sebagian besar orang begitu mendengar dua tipe mobil tersebut. Bukan tanpa alasan, keberadaan dua mobil yang memiliki tampilan besar nan gagah ini memang sering dijumpai di kota-kota besar terutama Ibu Kota sebagai kendaraan yang dimiliki oleh kalangan dengan kelas ekonomi ke atas.

Bahkan, kedua mobil ini tak jarang dijadikan sebagai transportasi khusus oleh berbagai instansi dan perusahaan untuk dijadikan kendaraan dinas bagi beberapa pihak yang memiliki kepentingan tertentu.

Menariknya, kesan dan citra mewah yang melekat pada kedua kendaraan tersebut justru berbanding terbalik dengan kondisi yang ditemui di wilayah Indonesia bagian paling timur, tepatnya di daratan Papua.

Alih-alih menjadi transportasi yang memiliki nilai prestise, kendaraan berbodi gagah layaknya Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero justru umum digunakan sebagai angkutan kota atau seringkali disebut angkot, yang faktanya tidak hanya digunakan untuk mengangkut penduduk atau masyarakat pendatang, tapi sering kali juga digunakan untuk mengangkut berbagai hal tak terduga lainnya, seperti babi hutan, kambing, hasil kebun, dan masih banyak lagi.

Transportasi antar kota dengan tarif ratusan ribu

pajero sport 2
pajero sport 2

Salah satu rute yang menjadikan Fortuner dan Pajero sebagai angkot di antaranya rute yang menghubungkan antara wilayah Nabire dan Paniai. Bukan tanpa alasan, kedua wilayah yang memiliki jarak kurang lebih sekitar 250 km ini memang dihubungkan dengan jalanan yang belum beraspal dan masih berlumpur.

Karena itu, masyarakat yang ingin bepergian dari satu wilayah ke wilayah lain harus melintasi medan terjal yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan biasa, sehingga muncul lah keberadaan angkutan yang umumnya membutuhkan kendaraan berbodi gagah dan disertai tenaga yang cukup besar.

Tarifnya sendiri bervariasi, ada yang mematok harga mulai dari Rp300 ribu sampai Rp500 ribu per orang untuk bisa menggunakan jasa transportasi satu ini saat ingin menuju wilayah tertentu, ada juga yang menyediakan sistem sewa untuk rombongan atau keperluan tertentu yang dipatok tarif mulai Rp1,5 juta sampai Rp3 juta untuk satu hari penuh, tergantung dari jarak dan sulitnya medan yang dilalui.

Jadi bisnis yang menguntungkan bagi masyarakat Papua

Dalam sebuah video YouTube yang dimuat dalam channel Teknologi Populer, salah seorang masyarakat Papua yang berprofesi sebagai sopir angkutan ini membagikan cerita dalam menggeluti usaha transportasi yang dijalankan.

Seorang sopir bernama Mardi mengatakan bahwa ia awal mulanya membeli mobil Toyota Fortuner keluaran tahun 2018 dengan harga Rp500 juta, pembelian pun dilakukan dengan mencicil sebesar Rp15 juta per bulan selama 3 tahun. Walau terdengar mahal, namun cicilan tersebut nyatanya tetap bisa terpenuhi mengingat hasil tarikan yang didapat bisa mencapai Rp1 juta sampai Rp3 juta setiap harinya.

Tapi di balik itu, ada modal besar yang harus dikeluarkan bagi mereka yang ingin menggeluti bisnis transportasi satu ini. Masih dijelaskan dalam video yang sama, bahwa mobil-mobil mewah yang sudah pasti dibeli di perkotaan harus diangkut menggunakan transportasi udara untuk lebih dulu bisa sampai ke pedalaman.

Jababeka industrial Estate

Dijelaskan kalau biaya sewa transportasi udara layaknya helikopter yang digunakan untuk bisa mengangkut mobil-mobil yang dibeli ke pedalaman saja bisa mencapai Rp500 juta. Tidak cukup sampai di situ, mobil yang dibeli juga tidak semata-mata langsung bisa digunakan untuk mengangkut penumpang di medan yang terjal, melainkan harus dimodifikasi terlebih dahulu untuk menyesuaikan dengan kondisi jalan.

Mobil-mobil layaknya Fortuner dan Pajero yang dipilih biasanya dilengkapi lagi dengan perangkat khusus demi menunjang performa, salah satunya mengganti roda mobil dengan roda cakar bergerigi agar mampu melewati medan yang keras berupa jalanan terjal, berbatu, dan berlumpur.

Mardi juga tidak menampik, kalau pekerjaan sebagai sopir angkutan ini mendatangkan penghasilan dan untung yang terbilang lumayan, tapi di balik itu juga ada risiko besar yang acap kali mengintai bagi mereka yang menggeluti pekerjaan ini, salah satunya keberadaan pemalangan atau rampok.

Disebutkan kalau para sopir angkutan tersebut sejatinya harus memiliki mental kuat karena sudah pasti akan sering menjumpai ancaman yang dimaksud, “Saya pernah dirampok dengan pistol di kepala dan parang di leher, tapi itu anggap saja bala (musibah) kalau tidak kuat tidak bisa,” ungkap Mardi, mengutip DetikOto, Senin, (16/8/18).

Mobil gagah andalan transportasi Papua

Selain Pajero dan Fortuner, sejatinya ada juga jajaran mobil lain dengan spesifikasi dan tampilan serupa yang dinilai mampu menerabas medan sulit di jalanan Papua, beberapa mobil yang sering kali dijadikan andalan dalam bisnis ini yaitu Mitsubishi Triton dan Toyota Hilux.

Bukan tanpa alasan, jajaran mobil yang memiliki kapasitas mesin di atas 2.000 cc tersebut memang dianggap mampu secara bersamaan mengatur tenaga mesin, transmisi, dan pengereman untuk mengontrol tingkat selip di bagian roda, sehingga mampu mengoptimalkan tenaga di berbagai medan terjal layaknya pedalaman Papua.

Menariknya, pihak Toyota di salah satu kesempatan pada awalnya mengaku tidak mengetahui soal keberadaan jajaran mobil mewahnya yang dimanfaatkan sebagai angkot di Papua.

“kaget dan bersyukur tau berita ini, artinya Toyota Fortuner bisa jadi solusi transportasi di Papua yang masih memiliki medan jalanan yang ekstrem di mana tidak setiap jenis mobil bisa melewatinya,” ujar PR Manager PT Toyota-Astra Motor, Rouli H Sijabat, pada acara pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018.

Sumber : goodnewsfromindonesia.id

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT