Kamis, 11 Juni 2020

PBB Desak Tindakan Cegah Krisis Pangan Ketika Pandemi


Finroll – Jakarta, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, pada Selasa (9/6) kemarin menyerukan supaya negara-negara bertindak cepat untuk menghindari kesulitan pangan akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Guterres mengatakan lebih dari 820 juta orang mengalami kelaparan di dunia. Sedangkan sekitar 144 juta anak di bawah 5 tahun terhambat pertumbuhannya, dan pandemi Covid-19 semakin memperburuk keadaan.

Dia menambahkan ada lebih dari cukup stok pangan untuk memberi makan 7,8 miliar orang di dunia, tetapi sistem tersebut dinilai gagal.

Guterres mengadakan taklimat kebijakan tentang dampak Covid-19 pada Keamanan Pangan dan Nutrisi pada Selasa kemarin. Ia mengatakan, sebelum pandemi, lebih dari 820 juta orang tidak mempunyai ketahanan pangan. Kemudian 135 juta orang di dunia berada dalam kondisi krisis pangan.

“Jumlah itu hampir bisa dua kali lipat sebelum akhir tahun karena dampak Covid-19,” katanya dalam taklimat, seperti dilansir Associated Press, Rabu (10/9).

Guterres mengatakan, sekitar 49 juta orang kemungkinan akan jatuh dalam kemiskinan ekstrem sebagai dampak dari pandemi.

Jika memperhatikan ramalan penurunan ekonomi global tahun ini, Guterres memperingatkan setiap penurunan persentase poin dalam pendapatan domestik bruto global berarti ada penambahan 700.000 anak yang pertumbuhannya terhambat.

Menurut taklimat itu, langkah-langkah untuk mengatasi pandemi Covid-19 juga mempengaruhi rantai pasokan pangan global.

“Pembatasan perbatasan dan penguncian wilayah, misalnya, memperlambat panen di beberapa bagian (negara) di dunia, menelantarkan jutaan pekerja musiman tanpa mata pencaharian, sementara juga membatasi transportasi makanan ke pasar,” kata Guterres.

Keterangan ini merujuk pada penutupan paksa pabrik pengolahan daging dan pasar makanan di banyak lokasi karena wabah Covid-19.

Jababeka industrial Estate

Utusan Khusus PBB untuk KTT Sistem Pangan, Agnes Kalibata, mengatakan, “Dari AS ke India, produk membusuk di ladang akibat lockdown sehingga orang tidak bisa panen dan menanam tumbuhan”.

“Itu berarti lebih sedikit pendapatan bagi orang-orang yang kelaparan untuk membeli makanan dan lebih sedikit makanan yang tersedia, dengan harga yang lebih tinggi. Dan ini terjadi di seluruh dunia,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Kalibata juga mengatakan jutaan liter susu terbuang di Inggris karena kekurangan pembeli, sementara di Kolombia para keluarga di sana menggantung bendera merah di luar jendela untuk menunjukkan bahwa mereka kelaparan.

Tingginya tingkat pengangguran, hilangnya pendapatan, dan kenaikan biaya makanan akan bertambah dengan sulitnya akses mendapatkan makanan.

Untuk mengatasi masalah pangan selama pandemi, Guterres mengatakan layanan makanan dan gizi harus ditetapkan sebagai prioritas penting dan pekerja pangan harus dilindungi.

Dia mengatakan negara-negara harus memastikan akses makanan yang aman dan bergizi bagi orang-orang paling rentan terutama anak-anak, wanita hamil, dan menyusui, orang tua, dan kelompok berisiko lainnya.

Dia mendesak investasi yang lebih baik bagi sistem pangan untuk memenuhi kebutuhan produsen dan pekerja pangan, serta menyediakan akses yang lebih terbuka ke makanan sehat dan bergizi sehingga dapat mengatasi kelaparan.

Guterres juga menyerukan untuk menyeimbangkan kembali hubungan antara sistem pangan dan lingkungan.

“Kita tidak bisa melupakan bahwa sistem pangan berkontribusi hingga 29 persen dari semua emisi gas rumah kaca, termasuk 44 persen metana, dan memiliki dampak negatif pada keanekaragaman hayati,” katanya.

“Negara-negara menghadapi pertukaran yang menyakitkan antara menyelamatkan nyawa atau mata pencaharian atau, dalam skenario terburuk, menyelamatkan orang-orang dari Covid-19 agar mereka mati kelaparan,” kata Kalibata.

Sumber : CNN Indonesia

BACAAN TERKAIT