Senin, 9 Maret 2020

Permintaan Minyak Global Turun pada 2020 Terkena Dampak Virus – EIA


Permintaan minyak global diperkirakan akan turun tahun ini untuk pertama kalinya selama lebih dari satu dekade akibat penyebaran cepat virus covid-19 di seluruh dunia yang membatasi sektor perjalanan dan kegiatan ekonomi yang lebih luas, menurut perkiraan pasar minyak terbaru dari Badan Energi Internasional (EIA).

FINROLL,Com — IEA kini memperkirakan permintaan minyak global sebanyak 99,9 juta barel per hari pada tahun 2020, turun sekitar 90.000 barel per hari dari tahun 2019. Ini adalah penurunan besar dari perkiraan IEA pada bulan Februari, yang memperkirakan permintaan minyak global akan tumbuh sebesar 825.000 barel per hari di 2020. Pada awal tahun, IEA telah memperkirakan pertumbuhan lebih dari 1 juta bph.

“Krisis virus mempengaruhi berbagai pasar energi – termasuk batubara, gas dan energi terbarukan – tetapi dampaknya pada pasar minyak sangat parah karena menghentikan pergerakan orang-orang dan barang-barang, menghadapi pukulan berat terhadap permintaan bahan bakar transportasi,” kata Dr Fatih Birol, Direktur Eksekutif IEA.

“Ini utaman benar (berdampak) di Cina, konsumen energi terbesar di dunia, yang menyumbang lebih dari 80% pertumbuhan permintaan minyak global tahun lalu. Sementara dampak virus menyebar ke bagian lain dunia, apa yang terjadi di Cina akan berdampak besar bagi energi global dan pasar minyak.”

Laporan itu muncul ketika harga minyak kehilangan nilainya lebih dari seperempat pada hari Senin dan akan mencatatkan kejatuhan harian terbesar sejak Perang Teluk pertama setelah Arab Saudi memangkas harga minyak ekspor di pasar yang sudah lemah akibat dampak virus covid-19.

Arab Saudi memangkas harga jual resminya dan berencana untuk meningkatkan produksi minyak mentah pada bulan depan setelah Rusia menolak melakukan penurunan produksi besar yang diusulkan oleh Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) guna menstabilkan pasar minyak.

Minyak mentah berjangka Minyak Brent Berjangka turun $8,99, atau sebesar 20%, di $36,2 per barel pada pukul 05:21 ET (09.22 GMT), setelah sebelumnya melemah ke $31,02, level terendah sejak 12 Februari 2016. Brent berjangka berada dalam jalur penurunan harian terbesar sejak 17 Januari 1991, ketika itu harga juga turun pada awal Perang Teluk pertama.

Minyak mentah West Texas Intermediate (Minyak Mentah WTI Berjangka) AS anjlok $8,57, atau 21%, di $32,66 per barel, setelah menyentuh $27,34, juga titik terendah sejak 12 Februari 2016. Minyak acuan AS itu berpotensi menuju penurunan terbesar dalam catatan, melampaui penurunan 33% pada Januari 1991.

BACAAN TERKAIT