Kamis, 27 Juni 2019

PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) Bakal Tambah Kapasitas Fasilitas Pemurnian dan Pengolahan SGA di Kalbar


Keterangan foto : Ilustrasi

 

Finroll.com – PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) bakal menambah kapasitas fasilitas pemurnian dan pengolahan Smelter Grade Alumina (SGA) di Kalimantan Barat.

 

PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW) sebagai entitas anak usahanya, CITA berencana membangun fasilitas pengolahan tahap dua dengan kapasitas produksi 1 juta ton SGA per tahun.

 

Hidayat Sugiarto selaku Direktur WHW mengatakan, pembangunan tahap dua pabrik SGA itu diestimasikan menelan biaya investasi sebesar US$ 400 juta. Dana tersebut rencananya akan dipenuhi dari pinjaman perbankan.

 

Lebihlanjut Hidayat menyebutkan, saat ini pihaknya sudah melakukan penjajakan dengan sejumlah bank, dan sudah mencapai tahap finalisasi perjanjian. “Kita sekarang sedang tahap closing, mungkin satu atau dua bulan lagi bisa kita dapatkan,” katanya dalam public expose, Kamis (27/6/2019).

 

CIMB NIAGA

Apabila proses pendanaan tersebut berjalan lancar, sambung Hidayat, proses kontruksi bisa segera dilakukan pada penghujung tahun ini. Hidayat menargetkan, pabrik SGA tahap dua ini sudah mulai bisa beroperasi pada Januari 2021. “(Konstruksi) akan segera mulai setelah dana dari bank masuk. Kita targetkan Januari 2021 berproduksi,” ungkapnya.

 

WHW saat ini mengoperasikan fasilitas pemurnian dan pengolahan Metallurgical Grade Bauxite (MGB) menjadi SGA dengan kapasitas produksi 1 juta ton per tahun. Pada tahun 2017-2018, Hidayat mengatakan bahwa pihaknya bisa mengoptimalkan kapasitas produksi.

 

Pada tahun 2017, produksi SGA dari smelter WHW berkisar di angka 970.000 ton. Sementara pada tahun 2018 produksinya mencapai 990.000 ton.

 

WHW pada tahun ini juga menargetkan bisa mempertahankan produksi di kapasitas yang optimal. Hingga Mei, SGA yang diproduksi HWH sudah mencapai 413.000 ton. “Asumsi sampai Juni bisa mencapai 500.000 ton. Produksi kita sangat baik, full capacity, hanya kan kadang ada maintenance,” terangnya.

 

Lebih lanjut, Hidayat mengatakan bahwa sebagian besar penjualan SGA masih dipasok ke pasar ekspor, terutama India dan Malaysia. Meski tak mendetailkan porsinya, namun ia memberikan gambaran bahwa dalam sebulan, WHW bisa memproduksi sekitar 90.000 ton SGA, yang dijual dengan pembagian tiga kali pengapalan.

 

Pengapalan pertama sekitar 30.000 ton SGA dipasarkan ke pasar India, lalu 30.000 ton SGA dikapalkan ke pasar Malaysia. “Sisa satu kargo kita jual secara spot,” ujar Hidayat.

 

Belum banyak industri domestik yang menyerap SGA. Ia menuturkan, PT Inalum (Persero) menjadi penyerap SGA di pasar domestik,” ulasnya.

 

Adapun, bahan baku untuk pabrik SGA WHW dipasok dari CITA sebagai entitas induk. CITA sendiri memiliki saham sebesar 30% di WHW. Sedangkan 56% dimiliki oleh China Hongqiao Group Limited, Winning Invesment Company Ltd. sebesar 9% dan Shandong Weiqiao Aluminium and Electric Co. Ltd yang menggenggam 5% saham WHW.

 

Sementara pada kesempatan yang sama PT CITA juga telah menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 180 miliar. Dana tersebut digelontorkan untuk menunjang kinerja perusahaan yang tengah mengerek produksi Metallurgical Grade Bauxite (MGB).

 

Seperti dijelaskan Direktur CITA Yusak Lumba Pardede, sebagian besar capex tersebut akan digunakan untuk perbaikan dan pengembangan infrastruktur pertambangan. “Alokasinya untuk maintenance operasional, jalan dan infrastruktur di area pertambangan kami,” kata Yusak.

 

“Hingga bulan Mei, CITA sudah menyerap capex sebesar 53,06% atau sekitar 95 miliar. Adapun, sumber pendanaan capex ini berasal dari kas internal. “Masih bisa dari internal, kinerja (keuangan) kami tahun lalu kan baik,” sambung Yusak.

 

Sebagai informasi, pada tahun lalu penjualan bersih CITA melonjak hingga 176,4% menjadi Rp 2 triliun dibandingkan tahun 2017 yang berada di angka Rp 724,5 miliar. Sejalan dengan itu, laba bersih CITA pada tahun 2018 meroket menjadi Rp 661,3 miliar dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencatatkan laba bersih sebesar Rp 47,5 miliar.

 

Lonjakan penjualan dan laba bersih CITA tambah Yusak, dikarenakan produksi dan penjualan MGB yang lebih optimal. Pada tahun 2017, penjualan CITA baru intensif pada Kuartal IV, sementara pada tahun 2018 terjadi di sepanjang tahun.

 

Kinerja CITA berlanjut sepanjang Kuartal-I tahun ini. Sepanjang kuartal I-2019, CITA mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 894,5 miliar, naik 93,8% dibandingkan Kuartal I tahun lalu yang berada di angka Rp 461,5 miliar. Laba bersih CITA pun meroket 136,6% menjadi Rp 331,5 miliar dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 140,1 miliar.

 

Pada tahun ini menargetkan bisa memproduksi MGB hingga 9 juta ton di sepanjang tahun ini. Jumlah itu nyaris dua kali lipat dari realisasi produksi tahun lalu yang berada di angka 4,6 juta ton.

 

“Porsi penjualan MGB yang diproduksi CITA masih dominan diserap ke pasar ekspor dengan porsi 80%. Sedangkan 20% lainnya dipasok ke entitas anak, yakni fasilitas pemurnian dan pengolahan milik PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW) untuk diolah menjadi Smelter Grade Alumina (SGA) dengan produksi sekitar 1 juta ton per tahun.” pungkas Yusak.(red)

BACAAN TERKAIT