Rabu, 25 Agustus 2021

Taliban Rayu Dunia: Lirik China dan Rusia


Setelah merengkuh Afghanistan usai Amerika Serikat hengkang, Taliban terus mendekati sejumlah negara agar dunia menerima kekuasaannya. Kini, mereka mulai tebar pesona demi menggaet China dan Rusia.
Sebagian pengamat menganggap manuver Taliban ini bakal gagal, sementara yang lain optimistis. Sebagian pengamat menganggap Taliban penuh daya tarik dengan sumber daya alam, sementara yang lain khawatir bayang-bayang citra teroris.

Iming-iming investasi memang menggiurkan, apalagi tanah Afghanistan penuh dengan SDA yang diincar dunia. Meski miskin, warga Afghanistan sebenarnya tinggal di atas tanah yang menyimpan kekayaan mineral hingga senilai US$1 triliun berdasarkan perkiraan Pentagon.

Ketua Program Studi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam SKSG Universitas Indonesia, Yon Machmudi, pun menganggap kekayaan sumber daya itu dapat menjadi pintu masuk untuk China ke Afghanistan.

“Dengan adanya kemungkinan rezim baru, Taliban dan China sudah bernegosiasi untuk membicarakan investasi sumber daya Afghanistan yang memang cukup besar. Itu bisa menjadi pintu masuk,” ujar Yon kepada CNNIndonesia.com.

Meski demikian, sejumlah pengamat menganggap China kemungkinan kapok akan kegagalan sederet investasi mereka di Afghanistan di era Presiden Ashraf Ghani. Salah satu tambang batu bara China di Afghanistan, Aynak, kini bahkan berhenti beroperasi.

Direktur Program China di Stimson Center, Yun Sun, dalam artikel opininya di War on the Rocks menuliskan bahwa aral dalam proyek-proyek ini sebenarnya terkait dengan ketidakstabilan politik dan ancaman keamanan.

“Selama lingkungan keamanan masih belum stabil, China tampaknya tak akan meluncurkan proyek-proyek ekonomi besar di Afghanistan,” tulis Yun Sun.

Lebih jauh, peneliti dari Quincy Institute, Adam Weinstein, juga menekankan bahwa meski keamanan nantinya sudah terjamin, masih banyak kesulitan lain yang menanti.

“Walaupun kekerasan berkurang, upaya terkait kekayaan mineral negara itu akan masih terhalang kekurangan infrastruktur dan tantangan besar dari medan lokasinya yang sulit,” tulis Weinstein di situs Foreign Policy.

Kendati demikian, Yon Machmudi menganggap China mungkin akan tertarik untuk kembali berinvestasi jika Taliban bisa menjamin stabilitas.

Jababeka industrial Estate

Kini, Taliban terlihat membangun citra bahwa mereka bakal menciptakan stabilitas dengan berbagai janji, termasuk pemerintahan yang inklusif, dan terbuka ke dunia luar.

“Janji Taliban menjadi penting untuk memastikan stabilitas itu sehingga investasi ekonomi dan pembangunan infrastruktur itu bisa dilakukan,” tutur Yon.

Selain itu, Yon mengakui kualitas sumber daya manusia Afghanistan memang masih jauh tertinggal. Namun, ia yakin China bisa mencari cara lain untuk menambal kekurangan tersebut.

“Walaupun SDM Afghanistan sangat rendah, tapi itu bisa dipenuhi dengan SDM-SDM dari China untuk masuk dan melatih mereka, misalnya,” kata Yon.

Ia kemudian berkata, “Itu tidak menjadi kendala untuk China karena pengalaman China kan banyak berinvestasi dengan negara-negara yang underdeveloped, negara-negara Afrika dan lain-lain. Jadi, itu bukan tantangan besar bagi China.”

Meski bersilang pendapat menyoal investasi, beberapa pengamat sepakat bahwa Negeri Tirai Bambu dapat jatuh ke pelukan Taliban jika kelompok itu dapat menjamin tak mendukung separatis bernapas Islam di Xinjiang, wilayah China yang berbatasan langsung dengan Afghanistan.

Saat bertemu dengan perwakilan Taliban di Tianjin pada bulan lalu, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, membawa agenda itu ke meja diskusi. Menurut Yon, China kemungkinan membahas kesepakatan atau komitmen Taliban mengenai perkara separatis ini.

“Kesepakatan itu meminta agar Taliban tidak ikut campur dan menolak wilayah Afghanistan dijadikan tempat persembunyian kelompok-kelompok bersenjata yang dianggap mengganggu di Uighur, dalam hal ini separatis, yang itu menjadi kekhawatiran keamanan China,” kata Yon.

Berangkat dari pemikiran ini, Yon memprediksi nantinya Taliban kemungkinan bakal bungkam dan tak akan mengintervensi urusan Muslim di Xinjiang.

“Dari sisi itu saya kira mereka bisa ketemu dan artinya ada perubahan-perubahan dari Taliban untuk mendapatkan kerja sama dengan negara besar, terutama dengan China,” katanya.

“Nampaknya Taliban akan lebih pragmatis karena tantangannya terlalu besar yang dihadapi sehingga mereka akan lebih memilih jalan untuk bekerja sama dengan negara-negara yang bisa mendatangkan manfaat, terutama dalam sisi ekonomi Afghanistan.”

Bicara soal negara bermanfaat bagi Afghanistan, citra Taliban sebagai pelindung teroris ini pula yang dianggap menjadi batu ganjalan untuk menjalin relasi dengan Rusia.

Negeri Beruang Merah berulang kali menegaskan agar Afghanistan tak lagi menjadi “surga” bagi pemberontak-pemberontak Asia Tengah yang hingga kini masih menjadi ancaman buat Rusia, layaknya di medio 1990-an hingga 2000-an.
“Pembicaraan dengan Taliban saya kira seharusnya salah satunya fokus dengan itu, memastikan Afghanistan tidak lagi digunakan sebagai tempat pelatihan bagi kelompok-kelompok yang akan membahayakan keamanan di Rusia,” kata Yon.

Di samping pemberontak-pemberontak itu, kehadiran kelompok ISIS di perbatasan Afghanistan juga menjadi momok serius bagi Rusia.

Wakil Direktur Program Asia di Woodrow Wilson Center, Michael Kugelman, bahkan mengatakan bahwa ancaman ISIS itu lebih besar ketimbang kelompok pemberontak Asia lainnya bagi Rusia.

“Mereka ingin memastikan Taliban, meski memang mereka rival ISIS, sangat memperhatikan ancaman ISIS ini,” ucap Kugelman saat berbincang dengan CNBC.

Yon melihat Taliban sudah menunjukkan gelagat ingin menarik perhatian Rusia dan negara-negara lain dengan mengeksekusi mati mantan pentolan ISIS di Asia Selatan, Abu Omar Khorasani.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa Taliban menghabisi nyawa Khorasani di penjara pemerintah Afghanistan tak lama setelah mereka merebut kekuasaan di Kabul pekan lalu.

“Kerja sama itu [dapat] dilakukan mungkin dengan ketegasan Taliban seperti mengeksekusi pimpinan ISIS dan mungkin nantinya kelompok-kelompok lain yang dianggap bermasalah oleh negara-negara tetangga,” tuturnya.

Di spektrum lain, sejumlah pengamat juga menganggap Rusia pasti tertarik dengan kesempatan mereka untuk memperkuat dominasi di kawasan bersama China setelah AS hengkang dari Afghanistan.

Penasihat pemerintah China mengenai Asia pusat, Zhu Yongbiao, menilai Beijing memang sangat diuntungkan dengan penarikan pasukan AS dari Afghanistan.

“China mendapatkan manfaat dari sikap tak bertanggung jawab [AS], yang sangat mencoreng citra internasional AS dan hubungan Washington dengan sekutu-sekutunya,” katanya kepada Financial Times.

Analis politik Asia di Moskow, Arkady Dubnow, pun berkata, “Kami dapat menyatukan kepentingan kami [dengan China] dalam menentang AS. Yang baik untuk kami tentu buruk buat AS. Yang buruk bagi kami tentu baik untuk Amerika. Sekarang, situasinya buruk bagi AS, jadi baik untuk kami.”

Terlepas dari urusan geopolitik, Yon Machmudi menganggap yang terpenting saat ini adalah Taliban benar-benar menepati janjinya untuk membentuk pemerintahan lebih inklusif demi menjaga stabilitas.

“Yang paling krusial menurut saya adalah segera tercipta pemerintahan yang ada di Afghanistan dengan melibatkan kelompok-kelompok yang ada di sana karena Taliban juga tidak bisa berkuasa sendiri,” ujarnya.

Ia lantas berkata, “Dengan mempercepat negosiasi dengan berbagai kelompok yang ada, bisa membentuk pemerintahan yang segera diumumkan, saya kira itu akan menjadi lebih baik sehingga dunia internasional akan melihat apakah Taliban akan banyak mendapatkan pengakuan atau malah sebaliknya.”

Sumber : cnnindonesia.com

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT