Connect with us

Komoditi

Harga Emas Naik Jadi Rp944 Ribu per Gram

Published

on


Harga jual emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam berada di posisi Rp944 ribu per gram pada perdagangan Jumat (3/4) atawa naik Rp26 ribu dari Rp918 ribu per gram pada Kamis (2/4).

Sementara, harga pembelian kembali (buyback) naik Rp23 ribu per gram dari Rp822 ribu menjadi Rp845 ribu per gram pada hari ini.

Berdasarkan data Antam, harga jual emas berukuran 0,5 gram senilai Rp496,5 ribu, 2 gram Rp1,83 juta, 3 gram Rp2,73 juta, 5 gram Rp4,54 juta, 10 gram Rp9,01 juta, 25 gram Rp22,43 juta, dan 50 gram Rp44,78 juta.

Kemudian, harga emas berukuran 100 gram senilai Rp89,5 juta, 250 gram Rp223,5 juta, 500 gram Rp446,8 juta, dan 1 kilogram Rp893,6 juta.

Harga jual emas tersebut sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) 22 atas emas batangan sebesar 0,45 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi pembeli yang tidak menyertakan NPWP memperoleh potongan pajak lebih tinggi sebesar 0,9 persen.

Di perdagangan internasional berdasarkan acuan pasar Commodity Exchange COMEX, harga emas berada di posisi US$1.632,7 per troy ons atau melemah 0,31 persen. Sedangkan harga emas di perdagangan spot turun 0,24 persen ke US$1.610,18 per troy ons pada pagi ini.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan harga emas di pasar internasional berbalik meguat berkat prospek kenaikan harga minyak mentah. Kenaikan harga minyak dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang telah membujuk Arab Saudi dan Rusia untuk mengurangi produksi.

Trump berharap kedua negara mau mengurangi produksi minyak sekitar 10 juta hingga 15 juta barel. Hal ini langsung membuat harga minyak mentah berjangka Brent menguat 21 persen menjadi US$29,94 per barel dan minyak mentah berjangka WTI naik 24,7 persen menjadi US$25,32 per barel.

“Prospek kenaikan harga minyak mentah dunia mengangkat harga saham big cap perusahaan minyak. Penguatan indeks saham AS ini ikut mendorong kenaikan harga emas mendekati kisaran US$1.620 per troy ons,” ujar Ariston kepada CNNIndonesia.com.

Kendati begitu, ia memperkirakan penguatan harga emas tidak akan berjalan lama. Sebab, ada sentimen lain yang membayangi harga, misalnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap penyebaran penyakit covid-19 hingga turunnya data-data ekonomi dunia.

Dari sisi pandemi virus corona, kasus positif terus meningkat di dunia. Berdasarkan data Johns Hopkins University, setidaknya sudah ada 1,01 juta kasus positif corona di dunia.

Saat ini, kasus terbanyak tak lagi berada di China, namun menyebar ke beberapa negara, seperti AS mencapai 245 ribu kasus, Italia 115 ribu kasus, Spanyol 112 ribu kasus, dan Jerman 84 ribu kasus.

Masalahnya, kenaikan kasus corona membuat kewajiban fiskal pemerintah berupa tunjangan bagi pengangguran meningkat.

“AS melaporkan jumlah orang yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran mingguan meningkat tajam menembus rekor di angka 6,65 juta klaim. Padahal, rata-rata hanya di kisaran 250 ribu klaim,” katanya.

Sementara, untuk penurunan data ekonomi, pelaku pasar memperkirakan data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis malam ini menunjukkan penurunan orang yang dipekerjakan di sektor pertanian dan pemerintahan.

Pasar mengestimasi setidaknya ada penurunan jumlah orang bekerja mencapai 100 ribu orang dan tingkat pengangguran bertambah menjadi 3,8 persen. “Harga emas spot hari ini berpotensi bergerak di kisaran US$1.580 sampai US$1.630 per dolar AS,” pungkasnya. (CNN/GPH)

Advertisement Valbury

Business

Tahun Ini Pemerintah Taksir Kebutuhan Garam 4,5 Juta Ton

Published

on

Finroll – Jakarta, Pemerintah menengarai kebutuhan garam terus meningkat dari tahun ke tahun. Tahun ini, kebutuhan garam diperkirakan mencapai 4,5 juta ton atau lebih tinggi dari tahun lalu di kisaran 3 juta ton.

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Maritim dan Investasi Safri Burhanuddin mengungkapkan Indonesia sebenarnya telah mencapai swasembada garam karena sudah bisa memproduksi hingga 3,5 juta ton garam, tapi kebutuhan komoditas tersebut terus meningkat.

Menurut Safri, peningkatan kebutuhan garam sejalan dengan terus meningkatnya kebutuhan industri.

Untuk itu, upaya untuk meningkatkan produksi garam juga terus dilakukan. Dengan luas lahan yang meningkat hampir 30 ribu hektare lebih, ia mengatakan pemerintah juga terus mendorong intensifikasi lahan garam.

Pemerintah juga telah meminta PT Garam (Persero) untuk mendorong metode pergaraman yang lebih modern sehingga produktivitas bisa meningkat.

“Kami sudah sampaikan ke PT Garam, umur mereka sudah lebih dari 75 tahun, kami minta pergaraman tidak lagi dilakukan secara tradisional,” ujar Safri seperti dikutip dari Antara, Minggu (31/5).

Ia mengungkapkan, dengan proses tradisional hasilnya 50-60 ton per ha per tahun. Kalau intensif, bisa 100-150 ton per ha.

“Kalau punya 30 ribu ha, dengan produksi 100-150 ton, seharusnya kita bisa swasembada,” jelasnya.

Lebih lanjut, meski kebutuhannya cukup tinggi, pemerintah tetap memasang target produksi di kisaran 3,5 juta ton hingga 4 juta ton tahun ini.

Pemerintah juga terus berupaya untuk menekan impor garam dengan mendorong produksi tanpa lahan garam seperti dengan metode memanfaatkan PLTU batu bara di Cilegon, Banten.

“Semua cara mengurangi impor, bagaimana mengurangi seoptimal mungkin, kami lakukan,” pungkasnya.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Rencana Pelonggaran Lockdown Terbangkan Harga Minyak

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Harga minyak mentah dunia melonjak pada perdagangan Selasa (5/5). Penguatan harga minyak ditopang rencana sejumlah negara di Eropa, Asia, dan negara bagian AS melonggarkan penguncian wilayah (lockdown).

Mengutip Antara, Rabu (6/5), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juli naik US$3,77 atau 13,86 persen ke posisi US$30,97 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni naik US$4,17 atau 20,45 persen ke US$24,56 per barel.

Reli ini memperpanjang kenaikan minyak mentah Brent menjadi enam hari berturut-turut. Sementara patokan WTI kini menguat selama lima sesi perdagangan berturut-turut. Italia, Spanyol, Nigeria, India, serta beberapa negara bagian AS termasuk Ohio, mulai mengizinkan sejumlah orang untuk kembali bekerja, membuka konstruksi, taman, dan perpustakaan. Namun, para pakar kesehatan memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat menyebabkan infeksi virus corona meningkat kembali.

“Pasar mulai menyadari bahwa kehancuran permintaan mengerikan, tetapi sejumlah pemerintahan membuka kembali (lockdown) dan permintaan akan menjadi lebih baik,” kata analis senior di Price Futures Group Phil Flynn.

Presiden AS Donald Trump memuji langkah-langkah sejumlah negara bagian untuk membuka kembali ekonomi mereka. Lalu lintas kendaraan di sebagian besar AS, telah meningkat. Termasuk, negara bagian yang belum mencabut perintah tinggal di rumah.

Pelonggaran itu sejalan dengan pengurangan produksi. Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu seperti Rusia atau OPEC+ memangkas produksi 9,7 juta barel per hari di Mei dan Juni. Imbasnya, ekspor minyak mentah Arab Saudi pada Mei diperkirakan turun menjadi sekitar 6 juta barel per hari. Jumlah itu merupakan terendah dalam hampir satu dekade.

Namun, Kepala Eksekutif Vitol Russell Hardy memprediksi permintaan puncak minyak akan terkikis secara permanen. Permintaan minyak global merosot 26 juta menjadi 27 juta barel per hari pada April.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Komoditi

Cara Pertamina Bertahan Hidup dari Tekanan Virus Corona

Published

on

By

PT Pertamina (Persero) melakukan berbagai upaya untuk menjaga kondisi perusahaan dari tekanan pandemi virus corona (Covid-19). Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan salah satu upaya yang dilakukan adalah memangkas belanja operasional (operational expenditure/opex) secara signifikan.

Upaya ini dilakukan guna menyeimbangi pemasukan yang anjlok akibat berkurangnya permintaan.

“Opex kami potong 30 persen untuk grup, baik anak, cucu, hingga cicit perusahaan. Investasi juga lebih selektif kami potong 25 persen sehingga banyak investasi baru di hulu tidak dulu,” jelasnya dalam video conference, Kamis (30/4).

Ia mengungkapkan kebijakan dilakukan karena secara nasional, permintaan BBM jatuh 25 persen. Bahkan di kota-kota besar permintaan BBM morosot di atas 50 persen. Kota tersebut antara lain, DKI Jakarta yang turun 50 persen dan Bandung 57 persen.

“Ini penjualan terendah sepanjang sejarah PT Pertamina, baru kali ini Pertamina mengalami kondisi luar bisa,” ucapnya.

Selain itu, perseroan juga memutuskan untuk mengurangi kapasitas produksi pada sejumlah kilang pada periode April-Mei. Kesempatan tersebut, digunakan perseroan untuk melakukan pemeliharaan kilang.

Lebih lanjut, Pertamina memanfaatkan harga minyak mentah yang murah untuk memenuhi kapasitas penyimpanan (storage). Ia menuturkan perseroan telah memborong 10 juta barel minyak mentah, 9,3 juta barela BBM, dan 2,2 juta metrik ton elpiji.

Bahkan, lanjutnya, persediaan Pertamina mencukupi untuk dua bulan dari biasanya 16-18 hari. “Kami beli sekitar 2-3 minggu lalu, tapi kami tidak bisa tambah lagi karena sudah penuh storagenya,” paparnya.

Guna menggenjot pembelian, Pertamina juga memberikan layanan pengiriman kepada konsumen bekerja sama dengan ojek online. Ia mengaku Pertamina juga tengah melirik pasar ekspor baru untuk solar di tengah pandemi.

Sebab, beberapa perusahaan yang biasanya memasok solar mengalami kebangkrutan akibat pandemi tersebut.

Nicke menuturkan Pertamina mengalami tiga tekanan sekaligus. Selain anjloknya permintaan, pelemahan nilai tukar rupiah juga ikut membebani kinerja perseroan.

Sebab, 93 persen pengeluaran Pertamina dalam denominasi dolar AS. Tapi, di sisi lain, pendapatan perusahaan justru berbentuk rupiah. Imbasnya, ia memprediksi pendapatan perseroan turun 38 persen hingga 40 persen tahun ini.

“Sehingga ini timbulkan mismatch, baik dalam laporan keuangan maupun arus kas,” ujarnya.

Selanjutnya, anjloknya harga minyak dunia juga membebani perseroan. Pasalnya, meskipun harga minyak jatuh namun aktivitas di sektor hulu Pertamina tetap berjalan.

“Triple shock ini jalan bersamaan, dalam kondisi normal kalau ICP turun ini menurunkan Harga Pokok Produksi (HPP), tapi dengan catatan demand (permintaan) sama, tapi ketika demand turun ini jadi tidak imbang,” jelasnya. (ulf/agt)

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending