Connect with us

Pasar Modal

IHSG Dibuka Zona Merah ke Level 6.348

Published

on


Finroll – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pagi ini melanjutkan laju negatif yang sudah terjadi sejak penutupan perdagangan kemarin sore.

Pada pra perdagangan, IHSG melemah 0,36% ke 6.349,924. Sementara indeks LQ45 jjuga melemah 0,56% ke 999,328.

Membuka perdagangan Jumat (26/4/2019), IHSG melemah 23,82 poin (0,37%) ke 6.348,955. Indeks LQ45 melemah 5,317 poin (0,53%) ke 999,677.

Pada pukul 09.05 waktu JATS, IHSG masih melanjutkan pelemahan atau turun 34,712 poin (0,54%) ke 6.413,173. Indeks LQ45 turun 8,152 poin (0,80%) ke 1.011,443.

Sementara itu pada perdagangan semalam (25/04) bursa saham Wall Street ditutup mixed dengan kecenderungan melemah, Dow Jones turun 0.51%, S&P 500 melemah 0.04% sedangkan Nasdaq menguat 0.21%.

Bervariasinya pergerakan bursa saham Wall Street disebabkan oleh faktor negatif dan sentimen positif laporan keuangan emiten kuartal I 2019, rilisnya data ekonomi AS yang kurang memuaskan dimana data pengangguran AS yang tercatat naik menjadi 230 ribu orang dibandingkan sebelumnya 193 ribu orang menjadi salah satu pemberat.

Perdagangan bursa saham Asia mayoritas bergerak positif pagi ini. Berikut pergerakannya:

Indeks Nikkei 225 berkurang 157,609 ke 22.149,971
Indeks Hang Seng bertambah 20,500 poin ke 29.570,301
Indeks Komposit Shanghai turun 7,600 poin ke level 3.116,230
Indeks Strait Times naik 100,730 ke 10.939,130

Pasar Modal

Pemerintah Beberkan Hitungan Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan

Published

on

By

FINROLL.COM – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) membeberkan perhitungan kenaikan iuran BPJS Kesehatan untuk Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) dan Bukan Pekerja atau mandiri.

Ronald Yusuf, Kepala Bidang Program Analisis Kebijakan Pusat Sektor Keuangan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu mengatakan kenaikan iuran peserta mandiri itu telah memperhitungkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dari Badan Pusat Statistik (BPS). Data tersebut menggambarkan pengeluaran riil masyarakat.

“Kami memiliki data BPS, data Susenas lalu kami bagi menjadi desil 1-10. Lalu, real spending (pengeluaran riil) kami coba kelompokkan belanja non esensial setiap desil dan menyertakan rokok juga dalam analisis kami,” katanya melalui video conference, Jumat (29/5).

Dari data tersebut, Kemenkeu memprediksi kemampuan bayar kelas mandiri. Untuk desil 1-4 berdasarkan data Susenas, kata dia, telah tercover sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI).

Selanjutnya, untuk peserta mandiri kelas 1 berada di desil 7-9. Dalam data Susenas pengeluaran non esensial mereka di rentang Rp311.060 hingga Rp484.176. Lalu, Kemenkeu memasukkan kemampuan tambahan iuran sebesar 10-20 persen dari pengeluaran tersebut, yakni Rp31.106 hingga Rp96.835. Besaran kenaikan iuran tersebut dinilai masih bisa dijangkau oleh peserta mandiri kelas 1.

“Iuran untuk kelas 1 dinilai masih relatif terjangkau di kisaran Rp111.106-Rp176.835,” paparnya.

Untuk peserta mandiri kelas 2 berada di desil 6-7. Dalam data Susenas pengeluaran non esensial mereka di rentang Rp254.016 hingga Rp311.060. Lalu, Kemenkeu juga memasukkan kemampuan tambahan iuran sebesar 10-20 persen dari pengeluaran tersebut, yakni Rp25.402 hingga Rp62.212. Besaran kenaikan iuran tersebut dinilai masih bisa dijangkau oleh peserta mandiri kelas 2.

“Iuran untuk kelas 2 dinilai masih relatif terjangkau di kisaran Rp76.402-Rp113.212,” paparnya.

Iuran baru untuk peserta mandiri kelas 1 dan 2 memang lebih tinggi dari usulan Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), yaitu masing-masing Rp100 ribu dan Rp75 ribu. Seperti diketahui, dan kelas 2 menjadi Rp100 ribu per 1 Juli mendatang.

Menurutnya, perbedaan perhitungan antara DJSN dan pemerintah itu disebabkan pemerintah menggunakan perhitungan dalam lima tahun. Sementara DJSN menggunakan prediksi dua tahun.

“DJSN saat itu karena pandangan ini akan review dua tahun sekali maka horizon yang mereka lakukan adalah simulasi sampai dua tahun saja, sedangkan kami dapat arahan presiden waktu itu mau sampai lima tahu

Continue Reading

Pasar Modal

Pada Akhir Perdagangan Sesi I Hari Ini, IHSG pertahankan penguatan ke level 4.639

Published

on

Finroll – Jakarta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 41,97 poin atau 0,91% ke 4.639,40 pada akhir perdagangan sesi I hari ini, Senin (11/5).

Sebanyak 224 saham naik, 138 saham turun dan 146 saham stagnan.

Hanya satu sektor saham yang berada di zona merah yakni sektor pertambangan yang turun 0,13%. Sedangkan sembilan sektor saham lainnya berhasil menjadi penopang penguatan IHSG.

Sektor-sektor saham dengan kenaikan tertinggi adalah sektor konstruksi yang naik 2,62%, sektor aneka industri naik 2,14% dan sektor perkebunan naik 1,34%.

Total volume perdagangan saham di bursa hingga sesi I hari ini mencapai 3,33 miliar saham dengan total nilai Rp 2,92 triliun.

Top gainers LQ45 hingga sesi I hari ini adalah:

  • PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) naik 19,20%
  • PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) naik 7,05%
  • PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) naik 5,88%

Top losers LQ45 hingga sesi I hari ini adalah:

  • PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turun 0,97%
  • PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) turun 0,63%
  • PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) turun 0,56%

Investor asing mencatatkan penjualan bersih Rp 182,28 miliar di seluruh pasar.

Saham-saham dengan penjualan bersih terbesar asing adalah PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) Rp 50,9 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 47,9 miliar dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) Rp 26,4 miliar.

 

Sumber : Kontan

Continue Reading

Keuangan

Rupiah Unjuk Gigi di Tengah Pelonggaran Aktivitas Masyarakat

Published

on

By

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.912 per dolar AS pada pembukaan perdagangan pasar spot Senin (11/5). Mata uang Garuda ini menguat 7,5 poin atau 0,05 persen dari Rp14.912 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya.

Rupiah terlihat bergerak menguat bersama beberapa mata uang lainnya di Asia. Tercatat, Won Korea Selatan menguat 0,37 persen, baht Thailand 0,21 persen, dan peso Filipina 0,23 persen.

Sementara, sejumlah mata uang Asia lain berada di teritori negatif. Misalnya, Ringgit Malaysia terkoreksi 0,24 persen dan yuan China 0,03 persen.

Kemudian, mata uang utama negara maju kompak menguat dari mata uang Negeri Paman Sam. Dolar Australia menguat 0,38 persen, rubel Rusia 0,25 persen, poundsterling Inggris 0,17 persen, dolar Kanada 0,14 persen, euro Eropa 0,08 persen, dan franc Swiss 0,1 persen.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra memproyeksi rupiah bergerak di kisaran Rp14.800-Rp15.150 per dolar AS har ini.

Menurutnya, rupiah akan menguat lantaran pasar merespons positif kegiatan ekonomi yang kembali bergerak di sejumlah negara setelah kasus virus corona mulai melandai.

“Dengan aktifnya kembali perekonomian diharapkan kondisi ekonomi bisa segera membaik,” tutur Ariston kepada CNNIndonesia.com.

Walaupun begitu, bukan berarti situasi ini akan berlangsung permanen. Ariston menilai pasar masih terus mewaspadai perkembangan kasus penyebaran virus corona di global.

“Pasar juga melihat dampak buruknya terhadap kondisi ekonomi yang bisa kembali menekan harga aset berisiko,” pungkas Ariston.

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending