Connect with us

Komoditi

Indeks Harga Saham Gabungan Diprediksi Kembali Diperdagangkan di Zona Hijau

Published

on


Indeks Harga Saham Gabungan

Indeks Harga Saham Gabungan diprediksi kembali akan diperdagangkan di zona hijau pada perdagangan Selasa (19/3/2019) seiring menguatnya bursa saham di Asia menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).

Kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan ditutup dengan penguatan sebesar 0,75% ke level 6.509,45. Kinerja IHSG selaras dengan bursa saham utama kawasan Asia yang juga ditransaksikan menguat: indeks Nikkei naik 0,62%, indeks Shanghai naik 2,47%, indeks Hang Seng naik 1,37%, indeks Straits Times naik 0,38%, dan indeks Kospi naik 0,16%.

Mega Capital Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan kemarin, penguatan IHSG ditopang oleh penguatan dengan sektor infrastruktur 1,90% naik paling tinggi sedangkan sektor pertambangan mengalami koreksi terbesar, 0,55%.

“Kenaikan IHSG tersebut seiring dengan menguat-nya bursa regional menjelang pertemuan FOMC,” tulis Mega Capital Sekuritas, dalam risetnya, Selasa (19/3/2019) yang dikutip dari laman CNBCIndonesia.

Seperti yang terlihat di CNBCINdonesia, Mega Capital memperkirakan, bank sentral AS diproyeksikan akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan namun pasar menantikan pandangan The Fed mengenai ekonomi AS. Selain itu, pasar juga berfokus pada perkembangan negosiasi dagang antara AS dan China. Kedua negara diharapkan dapat mencapai kesepakatan pada akhir Maret atau awal April 2019.

Panin Sekuritas, dalam riset-nya menyampaikan, IHSG berpotensi menguat kembali menuju resistance 6.520 melanjutkan aksi beli pelaku pasar asing.

“Resistance ini sulit sekali ditembus, maka jika hari ini tidak ditopang oleh penguatan bursa Asia dan net buy asing maka IHSG akan gagal kembali menembus level ini. Penguatan yang sudah terjadi selama 4 hari juga memungkinkan untuk terjadi aksi profit taking,” jelas Panin Sekuritas.

Dengan demikian, Panin Sekuritas memperkirakan, hari ini IHSG berpotensi menguat dalam kisaran 6.450 – 6.520.

Business

Kemendag Tetapkan Harga Referensi Produk Minyak Sawit US$571,3

Published

on

Finroll.com — Dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 85 Tahun 2019 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar. Kementerian Perdagangan (Kemendag) menetapkan harga referensi produk minyak mentah (crude palm oil/CPO) sebagai acuan Bea Keluar (BK) pada November 2019 sebesar US$571,13 per ton. Harga referensi tersebut melemah 0,65 persen dibandingkan Oktober lalu, US$574,86 per ton.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Indrasari Wisnu Wardhana mengatakan, “Saat ini harga referensi CPO tetap berada pada level di bawah US$750 per ton. Untuk itu, pemerintah mengenakan BK CPO sebesar US$0 per ton untuk periode November 2019,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (10/11/2019).

Wisnu mengungkapkan BK CPO untuk November 2019 tercantum pada Kolom 1 Lampiran II Huruf C Peraturan Menteri Keuangan No. 13/PMK.010/2017 sebesar US$0 per ton.

Sementara itu, harga referensi biji kakao untuk November 2019 ditetapkan sebesar US$2.500,16 per ton atau menguat 10,01 persen dari Oktober 2019, US$2.272,74 per ton.

Hal ini berdampak pada peningkatan HPE biji kakao untuk bulan ini menjadi US$2.213 per ton, meningkat 11,2 persen dari periode sebelumnya yang ditetapkan sebesar US$1.991 per ton.

Wisnu kembali menjelaskan peningkatan harga acuan dan HPE biji kakao disebabkan oleh menguatnya harga internasional.

Kendati demikian, peningkatan tersebut tidak berdampak pada BK biji kakao yang tetap 5 persen. Hal tersebut tercantum pada kolom 2 Lampiran II Huruf B Peraturan Menteri Keuangan No. 13/PMK.010/2017.

Lebih lanjut, untuk HPE dan BK komoditas produk kayu dan produk kulit tidak ada perubahan dari periode bulan sebelumnya. BK produk kayu dan produk kulit tercantum pada Lampiran II Huruf A Peraturan Menteri Keuangan No. 13/PMK 010/2017.(red)

Continue Reading

Komoditi

Angin Damai ‘Perang Dagang’ Angkat Harga Minyak

Published

on

By

Harga minyak mentah dunia bangkit (rebound) pada perdagangan Kamis (7/11). Penguatan terjadi setelah China memberikan sinyal positif terkait kesepakatan perang dagang dengan Amerika Serikat (AS).

Mengutip Antara, harga minyak mentah Brent menguat US$US$0,55 atau 0,9 persen ke level US$62,29 per barel. Kemudian, harga minyak AS West Texas Intermediate (WTI) naik US$0,8 atau 1,4 persen ke level US$57,15.

Pasar merespons positif isyarat yang diberikan oleh pemerintah China terkait perang dagang. Isyarat ini menjadi harapan untuk mengakhiri konflik AS dan China yang terjadi sejak 2018 lalu.

Diketahui, perang dagang dua negara itu telah membebani ekonomi dunia beberapa waktu terakhir. Kemudian, permintaan minyak global pun ikut terseret akibat perlambatan ekonomi.

Sejumlah analis sempat menurunkan prediksi permintaan minyak dalam beberapa waktu ke depan. Akibatnya, ada kelebihan pasokan yang semakin menggunung pada 2020 mendatang.

Sebelumnya, harga minyak amblas lebih dari 1 persen pada perdagangan Rabu (6/11). Tercatat, harga minyak berjangka AS WTI melemah US$0,88 atau 1,54 persen ke level US$56,35 dan Brent merosot US$US$1,22 atau 1,94 persen ke level US$61,74 per barel.

Pelemahan ini disebabkan kekhawatiran pasar terhadap mundurnya kesepakatan perang dagang AS dan China menjadi Desember 2019 dari yang sebelumnya direncanakan diteken bulan ini.

“Hari ini dimulai dengan serangkaian berita utama yang berbeda bahwa mereka mencapai kesepakatan tentang kerangka kerja,” kata Analis Minyak di Petromatrix Olivier Jakob.

Continue Reading

Komoditi

Tensi Perang Dagang Mengendur, Harga Emas Terkoreksi

Published

on

By

Harga jual emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam berada di posisi Rp763 ribu per gram pada Senin (4/11). Harga emas tercatat turun Rp1.000 dari perdagangan Jumat (1/11) yang berada di level Rp764 ribu per gram.

Sementara, harga pembelian kembali (buyback) juga ikut terkoreksi Rp1.000 dari semula Rp684 ribu menjadi Rp683 ribu per gram pada hari ini.

Berdasarkan data Antam, harga jual emas berukuran 0,5 gram senilai Rp406 ribu, 2 gram Rp1,47 juta, 3 gram Rp2,19 juta, 5 gram Rp3,63 juta, 10 gram Rp7,2 juta, 25 gram Rp17,9 juta, dan 50 gram Rp35,73 juta. Kemudian, harga emas berukuran 100 gram senilai Rp71,4 juta, 250 gram Rp178,25 juta, 500 gram Rp356,3 juta, dan 1 kilogram Rp701,6 juta.

Harga jual emas tersebut sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) 22 atas emas batangan sebesar 0,45 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi pembeli yang tidak menyertakan NPWP memperoleh potongan pajak lebih tinggi sebesar 0,9 persen.

Sementara itu, harga emas di perdagangan internasional berdasarkan acuan pasar Commodity Exchange COMEX berada di posisi US$1.515,2 per troy ons atau menguat 0,25 persen. Di perdagangan spot, harga emas turun tipis 0,1 persen ke level US$1.512,84 per troy ons pada pagi ini.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra memperkirakan harga emas sepanjang hari ini berada dalam rentang US$1.490 per troy ons sampai US$1.515 per troy ons.

Menurutnya, harga emas rentan melemah dipengaruhi kelanjutan perundingan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang hampir mencapai kesepakatan.

“Ada potensi pelemahan harga emas dari sinyal positif penandatanganan perjanjian dagang antara AS dan China pada November ini,” ungkap Ariston kepada CNNIndonesia.com.

Penandatanganan itu akan menjadi kesepakatan tahap pertama antara AS dan China mengenai perang dagang antar keduanya. Salah satu pejabat AS sebelumnya memastikan pihaknya akan meneken perjanjian tersebut bulan ini.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending