Connect with us

Business

Indonesia Masih jadi Surganya Barang Impor

Published

on


BPS: Impor RI Periode Februari 2019 Turun Menjadi US$ 12,20 Miliar

Finroll.com – Presiden Joko Widodo mengakui adanya defisit besar dalam transaksi berjalan dan neraca perdagangan. Ini diakuinya sebagai persoalan besar yang dihadapi.

“Yang namanya defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan itu memang persoalan besar kita, bolak balik saya sampaikan,” kata Jokowi usai menebar benih ikan di Bendungan Rotiklot Kabupaten Belu, NTT, Senin (20/5/2019).

Jokowi pada Senin ini meresmikan Bendungan Rotiklot di Dusun Rotiklot, Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, NTT. Usai meresmikan bendungan itu, Jokowi didampingi Mensesneg Pratikno, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Gubernur NTT Viktor Leiskodat, Wagub NTT Josef A Nai Soi, menebar benih ikan dan dan menanam pohon di kawasan bendungan tersebut.

Jokowi bilang, rumus untuk mengatasi defisit neraca perdagangan adalah meningkatkan ekspor dan memproduksi barang-barang substitusi impor.
“Kalau ekspor tidak meningkat, kemudian barang subtitusi impornya tidak diproduksi sendiri di dalam negeri, mau sampai kapan ini akan rampung,” katanya.

Lebih rinci Presiden Jokowi menyebutkan kunci menyelesaikan masalah itu adalah industrialisasi dan hilirisasi. “Jangan sampe ngirim barang mentah, raw material, ke luar negeri, semuanya harus ada nilai tambah di dalam negeri, kuncinya di situ aja,” katanya.

Ia menyebutkan pemerintah sudah berupaya mengurangi defisit neraca perdagangan. “Contohnya avtur, nanti mulai bulan depan, udah gak ada impor avtur dan solar karena sudah dikerjakan dalam negeri,” katanya.

Ia menyebutkan pemerintah juga mendorong tumbuhnya industri petrokimia di dalam negeri karena impor produk itu cukup besar. “Semua kok impar-impor, sampai kapanpun defisit pasti terjadi kalau impor terus,” katanya.

Sebelumnya BPS merilis hasil ekspor dan impor pada April 2019 serta laporan neraca perdagangan. Pada periode tersebut, ekspor tercatat US$12,6 miliar, atau turun 13,1% (year on year/yoy). Sedangkan impor mencapai US$15,10 miliar, atau turun 6,58%. Dengan hasil tersebut neraca perdagangan pada April 2019 mencatatkan defisit hingga US$2,5 miliar.

Advertisement Valbury

Keuangan

Didorong Penguatan Aset Berisiko Rupiah Menguat ke Rp14.465

Published

on

Finroll – Jakarta, Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.465 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Senin (6/7) pagi. Mata uang Garuda menguat 0,40 persen dibandingkan perdagangan akhir pekan lalu di level Rp14.378 per dolar AS.

Penguatan rupiah terhadap dolar diikuti oleh mayoritas mata uang di kawasan Asia pagi ini. Terpantau dolar Singapura menguat 0,13 persen, dolar Taiwan menguat 0,23 persen, won Korea Selatan menguat 0,17 persen, dan peso Filipina menguat 0,21 persen.

Rupee India juga tercatat menguat 0,50 persen, diikuti yuan China yang menguat 0,13 persen, ringgit Malaysia menguat 0,10 persen dan baht Thailand menguat 0,03 persen.

Sementara itu, mayoritas mata uang di negara maju masih bergerak variatif di hadapan dolar AS. Poundsterling Inggris menguat 0,02 persen, dolar Kanada menguat 0,01 persen dan franc Swiss menguat 0,18 persen. Sebaliknya, dolar Australia melemah 0,29 persen.

Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan pergerakan rupiah hari ini akan dipengaruhi aset-aset berisiko yang menguat, seperti indeks-indeks saham Asia dan indeks saham berjangka Amerika Serikat (AS).

Tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga terlihat kembali menguat yang mengindikasikan pasar melepas aset aman ini dan masuk ke aset berisiko.

“Rupiah bisa terbantu menguat mengikuti penguatan aset berisiko regional hari ini dengan potensi ke area kisaran Rp14.450 dan potensi resisten di kisaran Rp14.570,” ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Pasar, lanjut Ariston, mulai merespons positif membaiknya data-data ekonomi yang positif di tengah pandemi yang dirilis di akhir pekan lalu.

Misalnya, data tenaga kerja AS bulan Juni yang menunjukkan perbaikan melebihi ekspektasi dan data indeks aktivitas sektor jasa dan manufaktur AS-Tiongkok-Eropa pada Juni yang juga menunjukkan peningkatan melebihi ekspektasi.

“Tapi di sisi lain, pasar masih akan mempertimbangkan peningkatan laju penularan covid-19 global yang berisiko menurunkan kembali aktivitas ekonomi, seperti yang dilaporkan WHO dan ketegangan AS-Tiongkok yang makin memanas,” pungkasnya.

Sumber : CNN Indonesia
Continue Reading

Ekonomi Global

OPEC+ Pangkas Produksi, ICP Juni Naik ke US$36,68 per Barel

Published

on

By

Harga minyak Indonesia (ICP) naik ke level US$36,68 per barel pada Juni 2020. Ilustrasi. (iStock/bomboman).

Finroll.com, Jakarta – Kementerian ESDM mencatat harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) sebesar US$36,68 per barel pada Juni 2020. Angka itu melonjak US$11,01 per barel atau 42 persen dibandingkan Mei, US$25,67 per barel.

Peningkatan juga dialami ICP SLC sebesar USD 11,60 per barel, dari USD 27,44 per barel menjadi USD 39,04 per barel.

Tim Harga Minyak Indonesia Kementerian ESDM menilai kenaikan ICP mengikuti perkembangan harga-rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional.

Bulan lalu, harga minyak internasional menanjak antara lain disebabkan oleh kesepakatan Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) untuk melanjutkan pemangkasan produksi sebesar 9,7 juta barel per hari (bph) hingga Juli 2020.

Berdasarkan laporan OPEC Juni lalu, produksi minyak mentah dari negara-negara non OPEC tahun ini diperkirakan sebesar 61,8 juta bph atau menurun sebesar 3,8 ribu bph dibandingkan perkiraan Mei 2020.

Kondisi itu seiring dengan penurunan produksi beberapa negara, seperti Rusia, Oman, Meksiko, Kazakhstan dan Azerbaijan. Bulan lalu, ekspor minyak mentah Rusia mencapai angka terendah dalam 10 tahun terakhir.

“Disampaikan pula bahwa terjadi penurunan penggunaan oil rig di AS sebesar 71 persen (690 unit) selama tahun 2020, menjadi 279 oil rig, seiring dengan tidak diproduksikannya sumur-sumur minyak akibat rendahnya harga minyak, penurunan permintaan minyak dan keterbatasan tangki penyimpanan minyak mentah,” imbuh Tim Harga Minyak.

Selain itu, laporan Badan Energi Internasional (EIA) pada Juni lalu memperkirakan permintaan minyak mentah tahun ini sebesar 91,7 juta bph atau lebih tinggi 500 ribu bph dibandingkan perkiraan Mei 2020. Kenaikan itu berasal dari peningkatan permintaan BBM di beberapa kota besar dunia yang telah kembali mencapai level permintaan 2019, seiring dengan pelonggaran kebijakan penutupan wilayah (lockdown) di sejumlah negara.

Kenaikan harga minyak mentah internasional juga disebabkan laporan Energy Information Administration (EIA) mengenai penurunan stok produk gasoline AS pada Juni 2020 sebesar 2,5 juta barel menjadi sebesar 255,3 juta barel dibandingkan Mei 2020.

Terakhir, peningkatan Purchasing Managers’ Index (PMI) AS dan beberapa negara Eropa yang meningkatkan sentimen positif pasar terkait perbaikan ekonomi global.

Untuk kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga minyak mentah juga dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan minyak Arab Saudi dan Irak di Asia seiring peningkatan kepatuhan anggota OPEC+ atas kesepakatan pemangkasan produksi.

Tak hanya itu, peningkatan harga minyak di Asia Pasifik juga dipengaruhi oleh kenaikan tingkat pengolahan kilang di Cina dan Korea Selatan, perbaikan permintaan minyak mentah yang cukup signifikan di Cina dan India, serta sejumlah negara di Asia mulai melonggarkan kebijakan lockdown untuk menggerakkan kembali perekonomian.

Berikut perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional pada Juni 2020 dibandingkan Mei 2020:

– Dated Brent naik 38,3persen menjadi US$40,07 per barel

– WTI (Nymex) naik 34,3 persen menjadi US$38,31 per barel

– Basket OPEC naik 46,9 persen menjadi US$36,99 per barel

– Brent (ICE) naik 25,79 persen menjadi US$40,77 per barel.

Sumber : Cnnindonesia.com

Continue Reading

Keuangan

Jelang New Normal, OJK Sebut Restrukturisasi Kredit Melandai

Published

on

Finroll – Jakarta, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat permintaan restrukturisasi kredit melandai seiring pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menuju fase normal baru (new normal).

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK  Heru Kristiyana mengungkapkan total restrukturisasi disalurkan perbankan tercacat sebesar Rp695,34 triliun hingga 22 Juni 2020. Rinciannya, restrukturisasi kepada UMKM sebesar Rp 307,8 triliun dan non-UMKM sekitar Rp387,52 triliun.

“Di minggu-minggu terakhir ini, kami lihat bahwa permintaan restrukturisasi kredit itu mulai melandai, artinya para debitur dengan agak dilontarkannya PSBB itu sudah mulai percaya diri,” ujarnya dalam diskusi virtual Mendorong Pemulihan Ekonomi Melalui Perbankan, Kamis (2/7).

Penurunan permintaan restrukturisasi kredit tersebut juga tercermin dari banyaknya pemohon yang membatalkan restrukturisasi kredit karena bisa memenuhi kewajibannya.



Menurut Heru hal tersebut memberikan sinyal bahwa PSBB telah menggerakkan kembali roda perekonomian. “Itu artinya pelonggaran PSBB kan memberikan nilai positif,” imbuhnya.

Lantaran itu pula lah, kata Heru, perbankan kian optimistis bahwa kredit akan tetap tumbuh positif bahkan mencapai 4 persen.

“Kami juga mendapati data bahwa perbankan kita itu masih optimistis kreditnya untuk tetap bisa tumbuh positif bahkan mencapai 4 persen. Nah ini kan bagus sekali. Jadi kita optimistis memandang perbankan kita ke depan dalam menghadapi covid-19 ini,” pungkas Heru.

 

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending