Rabu, 15 September 2021

Ekspansif karena Hutang, Evergrande Kini Terancam Bangkrut


Developer properti asal China, China Evergrande Group, dikabarkan terancam gagal membayar utang. Evergrande terlilit utang sebesar USD300 miliar atau sekitar Rp4.275 triliun (kurs Rp14.256 per dolar AS).

Diketahui, saat ini Evergrande dan dua anak usahanya tengah mengumpulkan dana untuk melunasi pinjaman dari pemasok dan kreditur. Dua anak perusahaannya gagal memebayar utang senilai 934 juta yuan atau sekitar Rp2 triliun atas produk pengelolaan kekayaan yang dikeluarkan pihak ketiga. Kegagalan pelunasan utang tersebut bisa memicu cross default yang akan berdampak material yang merugikan terhadap bisnis grup, prospek, kondisi keuangan, dan hasil operasi.

Dilansir dari bursa saham Hong Kong, Selasa (14/9), perusahaan telah menggandeng Houlihan Lokey (China) Limited dan Admiralty Harbour Capital Limited untuk mengevaluasi likuiditas perusahaan. Saham perusahaan juga merosot sehingga Bursa Shanghai menghentikan perdagangan obligasi yang terdaftar.

Pada awal bulan September, Evergrande berencana untuk menjual aset tertentu, termasuk saham di unit Evergrande New Energy Vehicle dan Evergrande Property Service yang terdaftar di Hong Kong.

Evergrande memiliki tekanan dengan total kewajiban 1,97 triliun yuan atau lebih dari Rp4.355 triliun, meningkat dalam hitungan minggu. Kekhawatiran pasar atas kemampuan Evergrande untuk melalukan pelunasan dapat memicu gelombang protes yang akan mengguncang Beijing.

Selain itu, investor sempat mengepung kantor perusahaan di Shenzen. Ada 100 investor memadati lobi gedung Evergrande untuk menuntut perusahaan membayar kembali pinjaman dan produk keuangan yang mereka tanamkan.

Siapa Evergrande?

Evergrande didirikan pada tahun 1996 oleh Hui Ka Yan di selatan kota Guangzhou, dan mempercepat pertumbuhannya dalam dekade terakhir untuk menjadi pengembang properti terbesar kedua di China dengan penjualan USD110 miliar pada tahun lalu.

Perusahaan yang terdaftar di Hong Kong pada tahun 2009, memberikan lebih banyak akses ke pasar modal dan utang untuk meningkatkan ukuran asetnya menjadi USD355 miliar.

Dengan pertumbuhan penjualan nasional yang melambat dalam beberapa tahun terakhir, Evergrande telah bercabang ke bisnis yang tidak terkait dengan real etsate, seperti mobil listrik, sepak bola, asuransi, dan air minum kemasan.

CIMB NIAGA

Sumber : Propertiindonesia.id

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT