Selasa, 24 Agustus 2021

Tiga Korporasi Asal Singapura Inbreng Saham Diamond Citra Propertindo


Tiga perusahaan investasi yang berbasis di Singapura menukar guling (inbreng) saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) dengan perusahaan properti baru miliknya senilai Rp 450 miliar. Transaksi dilakukan melalui skema penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Berdasarkan prospektus, Diamond Citra Propertindo akan menerbitkan maksimal 14,35 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 20 per saham. Setiap pemegang satu saham lama berhak atas satu saham baru.

Dalam pelaksanaan penawaran umum terbatas (PUT) I ini, Universal Headway System Pte. Ltd (UHS), Global Modern Investasia Pte. Ltd (GMI), dan Asian Growth Company Pte. Ltd (AGC) akan bertindak sebagai pembeli siaga.

Ketiga perusahaan akan membeli secara non-tunai (inbreng) sisa saham yang diterbitkan perusahaan maksimal 9 miliar saham baru pada harga penawaran Rp 50 per saham. Saham baru DADA tidak dibayar secara tunai, melainkan ditukar dengan 99,99% saham PT Cipta Diamond Property (CDP), perusahaan properti milik UHS, GMI, dan AGC.

“Setelah transaksi berlangsung, Diamond Citra Propertindo akan memiliki 99,99% saham CDP dengan nilai Rp 450 miliar,” demikian tertulis dalam prospektus yang terbit Senin (16/8). Berdasarkan informasi perusahaan, UHS, GMI, dan AGP merupakan perusahaan investasi yang berbasis di Singapura. Uniknya, ketiga perusahaan berdiri pada waktu yang sama, yakni oktober 2020. Sementara itu, CDP merupakan perusahaan properti yang berdomisili di Jalan Raya Bogor, Depok, Jawa Barat. Secara rinci, 62,7% dana hasil rights issue digunakan untuk mengakuisisi saham CDP. Sisanya, 37,3% dana akan digunakan untuk modal kerja perusahaan dan anak usaha, antara lain untuk membayar gaji karyawan dan tunjangan, serta biaya operasional. Penambahan modal untuk memperkuat struktur permodalam sehingga perusahaan bisa berinvestasi dan mengembangkan usaha properti, meningkatkan jumlah saham beredar sehingga dapat meningkatkan likuiditas saham.

Saat ini, PT Karya Permata Inovasi Indonesia (KPII) merupakan pemegang saham pengendali DADA dengan porsi 69,6%. Sementara sisanya Tjandra Tjokrodiponto 0,49% dan publik 29,91%. Pada 5 Maret 2021, KPII dan Tjandra Tjokrodiponto telah memberi pernyataan tidak akan melaksanakan haknya membeli saham baru. Dengan demikian, struktur permodalan akan berubah menjadi, KPII 24,4% saham, Tjandra Tjokrodiponto 0,16%, publik 31,46%. Sementara itu, UHS, GMI, dan AGC masing-masing memiliki 14,66% saham.

Bersamaan dengan penerbitan saham baru, emiten berkode saham DADA ini juga akan menerbitkan maksimal 897,12 juta waran seri II atau setara dengan 12,56% dari modal perusahaan. Setiap 16 saham hasil pelaksanaan HMETD melekat satu waran seri II. Waran seri II adalah efek yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli saham biasa atas nama dengan nominal Rp 20. Setiap pemegang satu waran berhak membeli satu saham perusahaan dengan harga pelaksanaan Rp 300 per saham, sehingga seluruhnya berjumlah maksimal Rp 269,13 miliar. Waran seri II dapat dilaksanakan selama periode pelaksanaan waran yaitu mulai tanggal 18 April 2022 – 18 Oktober 2022. Pemegang waran tidak mempunyai hak sebagai pemegang saham, termasuuk hak atas dividen selama waran seri II belum diubah menjadi saham. Bila waran tidak dilaksanakan sampai habis periode pelaksanaannya, maka waran menjadi kedaluwarsa dan tidak berlaku.

Sumber : Katadata.co.id

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT