Jumat, 19 Februari 2021

Berharap Kebangkitan Sektor Properti di 2021


BTN menaruh harapan target pertumbuhan kredit di 2021 bisa mencapai sekitar 7 – 8 persen yang didorong untuk penyaluran KPR.

Sempat tertahan penyaluran kredit di triwulan 11/2020 akibat pandemi. BTN akhirnya bisa mencatatkan laba bersih di semester I/2020. Ada harapan makin membaik di 2021.

Bank BTN sebagai bank plat merah di sektor perumahan menjadi ujung tombak dalam penyediaan kebutuhan rumah masyarakat. Mulai dari perumahan subsidi hingga real estate berusaha dipasok setiap tahunnya oleh bank yang core business-nya di sektor perumahan ini.

Tetapi malang tak bisa ditolak, untung tak bisa diraih. Bank BTN yang sudah ancang-ancang running di tahun 2020 pasca pilpres di 2019, harus menghadapi pukulan akibat pandemi Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia, yang hingga di awal 2021 ini belum juga berakhir. Kondisi ini tentu bukan hanya menimpa Bank BTN, bank-bank lain pun menghadapi hal yang sama. Termasuk sektor-sektor lainya seperti industri properti sama terpukulnya.

Hal ini diakui sendiri oleh Suryanti Agustinar, Executive Vice President Bank BTN. Menurutnya, pandemi Covid-19 memiliki dampak yang signifikan terhadap berbagai sektor perekonomian di Indonesia termasuk perbankan. Bank BTN pun turut merasakan dampaknya. Penyaluran kredit sempat tertahan pada triwulan II 2020 karena adanya kebijakan PSBB dan keharusan Work From Home (WFH).

Di tengah kesulitan ini, ternyata Bank BTN tetap mencatatkan laba bersih di semester I/2020 sebesar Rp 768 milliar. Hal ini tidak lepas dari adanya tambahan kuota KPR SSB yang diberikan pemerintah ditengah pandemi Covid-19, khusus BTN pemerintah memberikan tambahan kuota 146.000 unit rumah secara nasional.

Tercatat laba BTN masih positif naik 39,72 persen year on year (yoy) atau senilai Rp1,12 triliun di Kuartal III 2020, naik dari Rp 801 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya.

Disamping itu pada kuartal III 2020, kredit dan pembiayaan yang disalurkan BTN untuk KPR senilai Rp196,51 triliun atau naik 1,39 persen (yoy ) dari Rp193,8 triliun di Kuartal III 2019. KPR Subsidi masih menjadi penopang utama penyaluran kredit BTN yakni senilai Rp116,32 triliun atau naik 4,19 persen (yoy) dari sebelumnya Rp111,64 triliun di tahun yang sama. Sedangkan untuk KPR Non Subsidi BTN juga telah menyalurkan senilai Rp80,18 triliun per kuartal III 2020.

Terkait bank-bank masih ketat dalam memberikan kredit KPR, termasuk BTN, ini tidak ditampik oleh Suryanti. Menurutnya, ini tidak lepas dari dampak Covid-19 yang dirasakan perusahaan-perusahaan sehingga memunculkan PHK atau gajinya dipotong. Inilah yang masih menjadi konsen BTN dalam menyalurkan kredit.

“Kami sedikit ketat di Tahun 2020 lalu dan saat ini pun masih berjalan, terhadap persetujuan pemberian kredit. Sebisa mungkin kami lakukan seleksi pada status tempat bekerja calon konsumen apakah terdampak langsung pandemi Covid-19 atau tidak,” ujar Yanti.

CIMB NIAGA

Walaupun ketat, BTN tidak pelit-pelit juga memberi kemudahan bagi konsumen KPR/KPA yang mengajukan kredit. Ini ditegaskan oleh Suryanti. Di awal tahun ini misalnya, BTN menawarkan suku bunga yang murah, proses cepat dan mudah. Banyak program-program kerjasama dengan developer yang di antaranya memberikan gimmick spesial seperti bebas biaya provisi, bebas biaya administrasi, dan bebas biaya appraisal. “Sangat menarik untuk dilewatkan oleh calon konsumen,” ucapnya.

Tidak ada yang lebih penting kecuali berharap ada kebangkitan properti di tahun 2021. Ini juga yang jadi harapan BTN.

“Kita semua berharap akan ada geliat pertumbuhan ekonomi khususnya di sektor properti di tahun 2021,” ujar Suryanti. Harapan ini tidak bertepuk sebelah tangan karena di awal 2021 pemerintah sudah mendistribusikan vaksin ke seluruh Indonesia. Maklum, vaksin adalah barang yang ditunggu-tunggu masyarakat dan pelaku dunia usaha. Bahkan, ada yang mengatakan vaksin lancar, bisnis pun jadi lancar.

Faktor lain adanya optimisme pemerintah yang mematok pertumbuhan ekonomi dapat berkisar 4 hingga 5 persen di tahun 2021. Ditambah lagi Bank Indonesia yang di awal tahun tetap menahan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate di 3,75 persen per Januari 2021 membuat tren penurunan suku bunga kredit perbankan masih akan terus berlanjut di Tahun 2021 termasuk BTN.


“Hal ini akan semakin mempermudah pihak developer memperoleh pinjaman untuk mengembangkan proyek-proyek baru dengan suku bunga kredit yang rendah. Juga bagi calon pembeli rumah atau apartemen dimana semakin membantu mereka dalam memperoleh fasilitas pinjaman KPR/KPA di bank,” ungkap Suryanti.

Cukup wajar kalau kemudian BTN menaruh harapan target pertumbuhan kredit di 2021 bisa mencapai sekitar 7 – 8 persen yang didorong untuk penyaluran KPR. Sederet faktor siap meyakinkan optimisme ini.

Di antaranya anggaran KPR Subsidi FLPP meningkat menjadi Rp16,63 triliun untuk 157.500 rumah pada Tahun 2021. Untuk KPR non subsidi, BTN fokus menyalurkan kredit dengan rentang harga properti Rp300-750 juta atau segmen mass dan emerging affluent. Faktor Kerjasama BTN dengan para developer juga akan mendorong pertumbuhan realisasi KPR/KPA BTN. “Kami buat program khusus dan menarik dengan developer dan kami tawarkan kepada konsumen,” ujar Suryanti mengakhiri. (Dru/As)

BACAAN TERKAIT