Kamis, 21 Oktober 2021

Lebih Dekat dengan Filosofi, Tipologi, dan Sejarah Arsitektur Islam


Arsitektur Islam telah lama diakui sebagai salah satu tipologi paling signifikan dan berpengaruh yang menerjemahkan ajaran dan keyakinan inti agama ke dalam struktur. Salah satu karakteristik arsitektur yang paling mencolok di dunia Islam adalah fokus pada ruang interior.

Tata letak interior mencakup pemanfaatan cahaya dan ventilasi alami, atau detail ornament yang rumit melalui ukiran dan lukisan, kontras antara eksterior dan interior sangat terasa. Namun, satu fitur arsitektur tertentu menentang norma-norma fasad sederhana, dan berdiri sebagai pernyataan visual yang kuat dari kehadiran Islam.

Struktur khas menara memperkuat kehadirannya sebagai titik fokus, membimbing orang menuju ruang paling suci. Di balik penggunaan menara dan bagaimana fungsinya telah berkembang secara budaya dan arsitektural.

Arsitektur khas masjid terdiri dari halaman terbuka, arcade (lorong beratap), ruang sholat, dan menara. Kemudian, struktur kubah termasuk dinding kiblat (menghadap Mekkah), mihrab, ceruk setengah lingkaran yang ditempatkan untuk Imam masjid untuk memimpin shalat dan mimbar, serta tempat duduk yang lebih tinggi untuk Imam. Di luar fungsi religiusnya sebagai tempat ibadah, masjid memiliki nilai budaya dan sosial, karena menyediakan tempat untuk pertemuan sosial, pendidikan, dan filantropi. Pada masa awal Islam, adzan, atau athan dilakukan di titik tertinggi masjid, dan karena orang tidak memiliki sarana teknologi untuk memperkuat jangkauan, arsitektur masjid dan lokasinya sangat berpengaruh pada bagaimana suara ditransmisikan ke seluruh negeri.

Terinspirasi menara pengawas Yunani, yang diyakini sebagai salah satu struktur mirip menara pertama yang dibangun, muadzin mendapat tempat yang lebih tinggi.

Beberapa ahli percaya bahwa inspirasi di balik struktur seperti menara masjid, berasal dari menara gereja kuno di Suriah. Sepanjang sejarah, menara masjid telah dibangun dalam berbagai bentuk dan ketinggian, mulai dari struktur persegi yang tebal hingga lereng spiral yang tipis. Di bagian bawah menara masjid terdapat fondasi berbentuk persegi yang menempel di sudut masjid. Dan ketika naik ke struktur bagian atas, berubah menjadi serangkaian tumpukan persegi, heksagonal, oktagonal, atau melingkar dengan balkon dan relung bangunan. Masjid dirancang memiliki hingga enam menara, tergantung pada ukuran dan keunggulan visualnya terhadap lingkungannya.

Dalam hal akses, muadzin dapat mencapai tingkat tertinggi melalui tangga eksternal atau internal. Menara masjid tertua Pada kasus tertentu, seperti Masjid Agung Samarra di Irak yang juga dikenal sebagai Malwiya, strukturnya sendiri merupakan menara besar yang dikelilingi jalan spiral yang dapat diakses oleh publik. Kendati demikian, sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa menara masjid tertua di dunia adalah menara persegi monolitik di Masjid Kairouan Tunisia. Dibangun pada 670-675 M, terletak di kota Warisan Dunia UNESCO Kairouan, Tunisia.

Masjid yang juga dikenal sebagai Masjid Uqba, ini dianggap sebagai salah satu monumen Islam terbesar di Afrika Utara. Berbentuk persegi, menara ini berada di tengah fasad utara, tidak seperti penempatan menara lain pada umumnya di sudut masjid.

Strukturnya setinggi 31,5 meter, dengan dasar 10,7 meter di setiap sisi. Ini terdiri dari tiga tingkat, dengan kubah berusuk kecil. Dibangun dengan batu puing, menara ini memiliki tangga dengan 129 anak tangga yang hanya dapat diakses dari dalam. Sisi menara menghadap ke halaman dilubangi dengan jendela yang memberikan cahaya dan ventilasi ke dalam ruang. Saat ini, para arsitek telah melihat kebutuhan fungsional menara untuk mengumandangkan adzan, dan melihatnya sebagai stempel arsitektural agama Islam, tanpa melampaui batas prinsip-prinsip yang sudah mapan. Beberapa kendala lingkungan, struktural, dan pemerintah menyebabkan perubahan tipologi arsitektur “khas masjid”, menghilangkan beberapa fitur tradisional, seperti kubah, arcade, halaman, dan menara.

Sebaliknya, kasus tanpa batasan eksternal memungkinkan arsitek untuk mengambil keuntungan dari kehadiran simbolis menara dan menggunakannya sebagai kanvas kreatif mereka untuk menyoroti fungsi bangunan dalam konteks kontemporer. Dengan dimensi yang mirip dengan gedung pencakar langit, menara masjid kemudian ditata ulang sebagai landmark budaya dengan platform tampilan panorama dan referensi visual untuk agama Islam.

Jababeka industrial Estate

Sumber : Kompas.com

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT