Kamis, 11 Februari 2021

Segera Investasi Properti, Jika Tidak Millenial Terancam jadi Tuna Wisma


Ridwan Arief (28), generasi milenial yang merupakan salah satu pegawai perusahaan BUMN, sering membuka situs properti untuk mencari rumah hunian di Jabodetabek. Alasannya, karena sudah lebih dari tiga tahun dirinya tinggal di indekos lantaran harus bekerja di Jakarta.

Ia baru menyadari bahwa uang untuk membayar indekos, seharusnya bisa digunakan untuk mencicil rumah. Sayangnya, alumni Universitas Gadjah Mada yang lulus 2014 itu tak menemukan hunian dekat dengan pusat kota dan cicilan yang terjangkau.

Jika ia menemukan hunian yang cocok dengan kantongnya, letaknya pasti sangat jauh dari tempatnya bekerja di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.

Sementara, jika terdapat hunian yang lokasinya sesuai yang Ridwan inginkan, yaitu tak jauh dari pusat kota, harganya sulit dijangkau milenial dengan rentang gaji Rp5-10 juta.

“Akhirnya saya putuskan buat nanti aja belinya. Barangkali nanti ada TOD (Transit Oriented Development/rumah susun menempel stasiun) di Jakarta yang cocok, sekarang perbanyak tabungan dulu aja,” ucap Ridwan.

Cerita kesulitan membeli properti tak hanya dirasakan Ridwan saja, melainkan banyak milenial lainnya yang ikut merasakan hal itu. Selain karena harga properti di kota besar saat ini berat dijangkau, juga dikarenakan perencanaan keuangan dan skala prioritas milenial berbeda dengan generasi sebelumnya.

Kehidupan Milenial di Jakarta

Nathan Christianto (27), pria asal Semarang yang saat ini bekerja di perusahaan produsen mobil di Jakarta Barat, misalnya. Bekerja sejak 2017 di Jakarta, gaji yang didapat selama ini hanya dipakai untuk kebutuhan konsumtif, seperti mencicil sepeda motor, gadget, hingga travelling bersama teman-temannya.

Alasan dia, selama menjadi mahasiswa yang serba pas-pasan, susah merealisasikan keinginannya. Sementara untuk urusan hunian, Nathan tak mau ambil pusing. Nathan berpendapat ketika saatnya tiba, persoalan hunian ini akan terselesaikan.

“Kalau saya pribadi nanti pasti ada saatnya fokus ke rumah atau apartemen, pelan-pelan dulu,” katanya.

FHI indonesia 2021

Kalangan milenial memang unik. Mereka seolah merepresentasikan antara kesulitan dan kesempatan. Pada satu sisi, mereka diberikan kesempatan yang melimpah dengan berbagai kemudahan teknologi. 

Krisis yang Dialami Generasi Milenial

Namun di sisi lain, para milenial lahir dari situasi buruk. Banyak dari generasi ini menginjak umur dewasa bersamaan dengan krisis ekonomi. 

Misalnya di Indonesia, golongan muda ini tumbuh bersamaan dengan situasi krisis moneter 1998. Mereka harus membayar lebih karena situasi ekonomi yang berubah, semua serba mahal.

Para milenial ini disebut lebih memprioritaskan nilai dan pengalaman personal sebagai bentuk kesehatan finansial. Misalnya mereka lebih memilih menghabiskan uang untuk traveling dibandingkan investasi properti seperti kepemilikan rumah.

Memang, berdasarkan Sentiment Survey 2019 yang dilakukan rumah123.com terhadap 3.007 responden, milenial memiliki kecenderungan menunda pembelian rumah.

Di usia 22-28 tahun, hanya 4,73 persen milenial yang melakukan pembelian rumah. Sementara di usia 29-35 tahun, milenial yang membeli rumah hanya sekitar 21,87 persen. 

Ironisnya, pada usia di atas 45 tahun, masih banyak pekerja yang belum memiliki rumah. Berdasarkan hasil survei tersebut, 47,22 persen pekerja di atas usia 45 tahun belum memiliki rumah. Padahal range gajinya sudah di atas Rp30 juta.

Banyak Generasi Milenial yang Menunda Beli Rumah

Menurut Country Manager Rumah123.com, Maria Herawati Manik, alasan terbesar pekerja tidak memiliki rumah hingga usia di atas 45 tahun karena belum menemukan lokasi yang tepat. Sementara alasan terbesar kedua adalah merasa belum mampu secara finansial.

“Berdasarkan hasil survei, alasan seseorang belum memiliki rumah, bahkan bagi mereka yang berpenghasilan Rp 30 juta adalah belum menemukan yang sesuai keinginan,” bebernya.

Sementara itu, Head of Research Savills Indonesia, Anton Sitorus, menyebut salah satu penyebab milenial enggan membeli hunian karena rumah atau apartemen yang harganya sesuai kantong mereka, rata-rata jauh dari pusat perkotaan. 

Kemudian, hunian yang murni dibangun pemerintah saat ini baru fokus untuk komunitas seperti nelayan, ASN/TNI/Polri, hingga pesantren. Sementara hunian yang dibangun khusus untuk milenial di area perkotaan, hingga saat ini dirasa masih nihil.

“So far sih paling di daerah (yang dibangun). Lalu buat TNI/Polri, di pesantren atau komunitas mana. Sementara yang banyak membutuhkan di daerah perkotaan ya. Sekarang pemerintah belum terlalu fokus ke sana, padahal jumlahnya itu banyak,” jelas Anton.

Dia menyarankan agar pemerintah membangun hunian khusus untuk milenial dengan memanfaatkan lahan yang menganggur milik instansi pemerintahan atau BUMN di area pusat perkotaan. 

Sementara untuk skema pemakaiannya, milenial akan diperbolehkan menghuni properti itu selama kurun waktu sekian tahun lantaran tanah itu milik negara. 

Namun, Anton berpendapat, hal itu tidak akan jadi masalah bagi milenial. Sebab milenial memiliki kecenderungan untuk hidup berpindah-pindah. Kemudian ketika memiliki penghasilan yang cukup, milenial pasti akan membeli properti yang sesuai dengan kebutuhannya.

Meski demikian, menurut Anton, milenial tetap tidak akan bisa membeli hunian ketika tak mengubah pola konsumsinya yang saat ini dikenal boros untuk travelling hingga nongkrong. Sebab hunian semurah apa pun tetap dibutuhkan uang muka untuk membeli dan harus membayar cicilan.

Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang dipublikasikan pada 2019 lalu, sekitar 81 juta milenial masih belum memiliki rumah. Lantas ketika milenial tetap konsumtif, sementara kebiasaan menunda beli hunian tetap berlanjut, akankah puluhan juta milenial tak miliki rumah di hari tua?.

“Yang jelas persoalan gaya hidup generasi sekarang harus belajar juga dari generasi sebelumnya. Maksudnya kalau mau membeli sesuatu yang besar seperti rumah, ya harus menabung. Harus ada usaha, nabung untuk uang muka dan bayar cicilan,” ujar Anton.

Soal menabung ini memang menjadi syarat utama ketika ingin memiliki rumah. Seperti Ridwan, dia sekarang masih mencari rumah idaman yang sesuai kantongnya. Agar mendapatkan rumah yang cocok, dia menabung untuk menambah uang muka KPR.

“Sekarang enggak terlalu ngotot. Nabung sambil cari-cari rumah yang cocok. Kalau uangnya sudah cukup, bisa langsung eksekusi rumah impian,” katanya. 

sumber : kumparan.com

BACAAN TERKAIT