Connect with us

Investasi

Investasi Emas Makin Populer di Kalangan Milenial

Published

on


Emas Antam

Finroll.com – Investasi emas kini semakin populer, baik di kalangan orang tua maupun generasi millenial yang mulai sadar akan pentingnya investasi. Perencana Keuangan sekaligus Founder Mitra Rencana Edukasi, Mike Rini Sutikno, menuturkan, semakin beragamnya pilihan cara berinvestasi emas yang disediakan industri jasa keuangan, membuat komoditas emas makin diminati.

“Ini dapat dilihat dengan semakin beragamnya pilihan cara investasi,” kata Mike kepada redaksi, Ahad (28/4).

Dahulu, kata Mike, cara memulai investasi emas masih konvensional, di mana investor harus membeli emas fisik melalui toko emas. Seperti misalnya Antam atau Pegadaian yang merupakan perusahaan pelat merah pemerintah.

Seiring banyaknya minat terhadap investasi emas, perbankan syariah ikut menawarkan layanan pembelian emas batangan baik tunai maupun cicilan. Seiring era teknologi informasi yang terus berkembang dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat, Mike mengatakan, Pegadaian hingga menerbitkan layanan tabungan emas yang serupa seperti menabung biasa.

Hal itu membuat masyarakat dapat menabung emas sesuai kemampuan atau dana yang dimiliki yang nantinya di konversi setara berat emas. “Saat ini masyarakat juga dimudahkan untuk berinvestasi emas dengan layanan toko emas online, jadi tinggal di unduh via aplikasi ponsel,” ujar dia.

Mike menambahkan, investasi emas pada dasrnya tidak mengenal batasan usia dan generasi. Siapapun dapat berinvestasi emas. Namun, baik orang tua maupun milenial perlu memahami karakter emas sebelum memutuskan untuk berinvestasi.

Ia menjelaskan, emas merupakan komoditas yang diperdagangkan, sehingga investor dapat mengambil keuntungan dari jual beli emasnya. Itu sebabnya, harga emas berfluktuasi tergantung daripada permintaan dan penawaran di pasar.

Lebih lanjut, Mike menerangkan, pada musim-musim tertentu seperti menjelang hari raya keagamaan, permintaan emas akan tinggi sehingga mengerek harga. Harga emas juga biasanya meningkat karena terjadinya suatu resesi ekonomi, peperangan, dan bencana alam.

“Karena itu, walaupun emas dapat diperdagangkan kapan saja, namun karena sifatnya yang fluktuatif maka jangka waktu investasi emas yang adalah jangka menengah panjang, yaitu di atas 3 tahun,” ujar dia.

Dengan jangka waktu itu, para investor dapat melihat peluang untuk mendapatkan keuntungan dari investasi emas dengan menetapkan time horizon yang sesuai. Selain itu, investor perlu mengalokasikan emas secara proporsional dari sesuai kemampuan diri masing-masing.

Mike menambahkan, emas juga dapat menjadi instrumen investasi yang saling melengkapi dengan investasi di pasar keuangan. Khususnya saham dan reksadana yang memiliki risiko dan imbal hasil yang berbeda-beda. “Intinya perlu dilakukan diversifikasi risiko atau penyebaran risiko, baik ke reksadana, saham, obligasi, emas, properti, dan sebagainya secara proporsional,” kata dia.

Sebelumnya, PT Pegadaian (Persero) sebagai salah satu badan usaha milik negara yang bergerak di bidang investasi emas menuturkan, layanan tabungan emas sejak diluncurkan pada 2016 silam telah mendapatkan 1,8 juta nasabah. Jumlah nasabah yang besar itu dapat digaet oleh perseroan hanya kurun waktu kurang dari empat tahun.

Adapun total penjualan emas hingga akhir 2018 mencapai 4,3 ton. Dari penjualan tersebut, sekitar 55-60 persen dijadikan nasabah sebagai tabungan emas di Pegadaian. Tahun ini, perseroan menargetkan penjualan emas mencapai 5,6 ton hingga akhir tahun.

Terkait deposito emas, Pegadaian menyatakan telah menyimpan tabungan emas yang dititipkan nasabah sebanyak 2,4 ton per kuartal I 2019. Dengan meningkatkan target penjualan emas tahun ini, diharapkan jumlah deposito emas yang disimpan di pegadaian bisa meningkat menjadi 3,4 ton pada kuartal IV mendatang. (rol)

Advertisement

Investasi

10 Tahun Bakar Uang, Startup Unicorn RI yang Mulai Kejar Profit

Published

on

By

Finroll.com, Jakarta – Startup unicorn Indonesia tak bisa selamanya membakar uang investor dengan memberikan diskon dan cashback. Pasalnya, investor pasti mengharapkan dana investasinya menghasilkan keuntungan.

Salah satu startup unicorn Indonesia yang akan fokus mengejar profitabilitas adalah e-commerce Bukalapak. Pada tahun ke-10 ini Bukalapak ingin menjadi e-commerce unicorn pertama yang meraih break even point (BEP) atau bahkan keuntungan dalam waktu dekat.

“Hingga saat ini, Bukalapak sudah memiliki modal yang cukup dari para pemegang saham untuk meraih EBITDA positif, tentunya apabila semua rencana dan program berjalan lancar tanpa halangan,” ujar Bukalapak dalam keterangan resminya seperti dikutip Kamis (14/11/2019).

Bukalapak menambahkan menjadi perusahaan e-dagang yang menghasilkan keuntungan (financially sustainable ecommerce) penting bagi Bukalapak yang memasuki tahun ke-10 dan siap menghasilkan kenaikan dalam monetisasi produk/program serta memperkuat profitabilitas.

“Laba kotor Bukalapak di pertengahan 2019 juga naik 3 kali lipat dibandingkan pertengahan 2018 dan berhasil mengurangi setengah kerugian dari EBITDA selama 8 bulan terakhir ini,” jelasnya.

Tokopedia juga akan mengejar profitabilitas tahun depan setelah 10 tahun beroperasi laporan keuangannya merah alias rugi.

“Secara komitmen tahun depan kita sudah profitable. Menghadapi persaingan apapun ayo. Strateginya tahun depan harus profit,” William seperti dikutip dari CNNIndonesia.

William menekankan, persaingan yang harus dilakukan yakni dengan inovasi. Bukan hanya dengan bakar uang.

“Beberapa tahun lalu dengan lebih kecil kita berhadapan dengan eBay dan Rakuten. Kini kita punya uang lebih tapi persaingan sekarang berhadapan dengan Amazon yang punya modal setara ekonomi Indonesia. Jadi Tidak pernah ada habisnya kalau kita melakukan persaingan uang. Tapi harus dengan persaingan inovasi,” jelasnya.

Asal tahu saja, unicorn merupakan predikat bagi startup yang memiliki valuasi di atas US$1 miliar. Manajemen Bukalapak mengklaim sekarang memiliki valuasi US$2,5 miliar setelah disuntik sekelompok investor yang dipimpin Shinhan Financial. Adapun menurut CB Insights, valuasi Tokopedia mencapai US$7 miliar.
Sumber Berita : CNBCIndonesia.com
Continue Reading

Investasi

Ekonom : Jokowi Diimbau Tak Terlalu ‘Ngebet’ Kejar Investasi

Published

on

By

Presiden Joko Widodo diimbau tak perlu terlalu terobsesi membandingkan kinerja investasi Indonesia dengan negara-negara lain. Pasalnya, data-data investasi Indonesia dinilai tak punya masalah yang sangat kronis.

Ekonom Faisal Basri mengatakan belakangan Jokowi terlihat banyak menelurkan pernyataan yang seolah-olah meresahkan kondisi investasi di Indonesia. Misalnya, keluhannya soal kebijakan investasi tidak ada yang ‘nendang’ hingga keluhannya soal laporan Bank Dunia bahwa tidak ada satu pun dari 33 perusahaan yang merelokasi usahanya dari China melipir ke Indonesia.

Padahal menurutnya, pembuktian secara empiris menunjukkan investasi di Indonesia masih unggul dibanding negara-negara lainnya.

“Tidak benar bahwa investasi di Indonesia kecil. Tidak benar pertumbuhannya lebih jelek dibanding negara lain, karena data-datanya tidak seperti itu,” jelas Faisal, Senin (30/9).

Ia kemudian merinci data-data yang menjadi acuannya. Pertama, data yang dihimpun oleh United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) di mana Penanaman Modal Asing (PMA) yang masuk ke Indonesia tercatat US$22 miliar atau menempati peringkat ke-16 dunia pada 2018 lalu. Peringkat Indonesia justru lebih baik dibanding tahun sebelumnya yakni ranking 18.

Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia hanya kalah dari Singapura yang menempati peringkat 4 dunia. Sementara itu, Vietnam menempati peringkat 18 dunia dengan angka US$16 miliar.

“Vietnam ini kan selalu dibanding-bandingkan oleh Pak Jokowi. Melihat data ini seharusnya Pak Jokowi tak perlu kecil hati kalau misal 33 perusahaan yang relokasi dari China tidak ada yang datang ke Indonesia. Toh, FDI masih tetap datang kok,” jelas dia.

Tak hanya itu, ia juga membandingkan komponen Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) di dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada 2018 lalu, PMTB Indonesia tercatat 33,84 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan pertumbuhan mencapai 6,01 persen.

Porsi PMTB tersebut, lanjut dia, lebih tinggi dibanding negara-negara Asia Tenggara yang mencapai 30 persen. Dengan porsi terhadap PDB yang cukup tinggi, ia kemudian mempertanyakan maksud Jokowi yang ingin memperbesar lagi investasi di Indonesia.

“Pak Jokowi ini investasinya terhadap PDB ingin berapa? Mau sampai 40 persen (terhadap PDB) seperti China? Bisa collapse ekonomi Indonesia, karena kalau investasi terlalu kencang, impor bahan baku naik, impor capital goods naik, utang naik, dan ekonomi Indonesia bisa semakin panas,” jelas dia.

Alih-alih pusing membandingkan investasi, ia meminta Jokowi instrospeksi dan mempertanyakan diri sendiri, mengapa investasi yang banyak ini tidak tercermin ke dalam pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia seolah tidak bergerak dari kisaran 5 persen.

Menurutnya, hal ini ada kaitannya dengan ongkos berinvestasi Indonesia yang cukup mahal, yang tercermin ke dalam skor Incremental Capital-Output Ratio (ICOR).

Sekadar informasi, ICOR merupakan parameter yang menggambarkan besaran tambahan modal yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit output. Dengan kata lain, semakin tinggi skor ICOR, artinya investasi semakin tak efisien.

Saat ini skor ICOR Indonesia di angka 6,3, atau lebih tinggi dibanding negara-negara Asia Tenggara lainnya yang di kisaran 3. Padahal, jika investasi semakin efisien, maka dampaknya ke pertumbuhan ekonomi akan lebih terasa.

“Kalau Pak Jokowi ingin ekonomi tumbuh 6 persen, maka ICOR bisa diturunkan ke 5,4 saja. Kalau ingin pertumbuhan ekonomi bisa 7 persen, maka ICOR harus turun lagi ke kisaran 4,6 seperti masa orde baru. Kalau sudah punya ICOR yang rendah, pertumbuhan ekonomi 6 persen tinggal merem saja,” pungkas dia.

Continue Reading

Investasi

Demo Rusuh dan Ancaman Investasi RI

Published

on

By

Kepastian hukum kerap disebut sebagai faktor yang mempengaruhi keputusan investor dalam berinvestasi. Karenanya, aksi demo mahasiswa yang memprotes pengesahan sejumlah rancangan undang-undang (RUU) oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) boleh jadi lampu kuning bagi investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Apalagi, demo berakhir rusuh dan merusak sejumlah fasilitas umum.

Kepala Departemen Ekonomi dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damhuri mengatakan penyampaian pendapatan dalam bentuk unjuk rasa sejatinya merupakan suatu hal yang wajar di era demokrasi. Namun, menjadi perhatian apabila aksi demo dilakukan untuk memberikan tekanan demi mengubah suatu arah kebijakan.

“Itu artinya dalam proses demokrasi kita kebijakan bisa ditentukan dengan turun ke jalan dan ini bukan hanya untuk kejadian hal-hal yang sifatnya fundamental, tetapi juga yang mempengaruhi iklim bisnis,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (25/5).

Dalam jangka pendek, aksi unjuk rasa jelas akan mempengaruhi keputusan investasi dalam bentuk portofolio di pasar modal dan menekan rupiah di pasar keuangan. Tengok saja, sejak awal pekan, IHSG terkoreksi dan rupiah melemah.

Kendati demikian, aksi demo terhadap perundang-undangan bisa memiliki dampak yang lebih besar karena dapat mempengaruhi pada keputusan investasi langsung di sektor riil. Yose mengingatkan investasi langsung merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan kepastian hukum.

“Kalau kita bicara investasi langsung, kita bicara aktivitas yang dilakukan selama 30 tahun ke depan dan di situ perlu kepastian yang lebih tinggi terhadap kebijakan,” jelasnya.

Menurut Yose, apabila melalui unjuk rasa yang diwarnai anarkisme suatu perundang-undangan dapat dibatalkan, bukan tak mungkin cara serupa bisa digunakan untuk peraturan lain.

Hal ini akan membuat investor mempertanyakan kepastian hukum di Indonesia ke depan. Padahal, Indonesia membutuhkan dukungan investasi untuk mempercepat laju perekonomian dan menyerap tenaga kerja.

“Misalnya, pemerintah mengeluarkan kebijakan terkait ketenagakerjaan yang sifatnya mendorong sistem ketenagakerjaan yang lebih fleksibel. Kemudian, ada demo yang menentang itu lalu akan ada perubahan. Hal itu kan meningkatkan ketidakpastian di dalam kebijakan itu sendiri,” terang dia.

Dalam beberapa kali kesempatan, pemerintah kerap mengumbar target pertumbuhan investasi hingga dua digit per tahun. Suatu target yang berat untuk dicapai jika melihat pertumbuhan investasi selama satu dekade terakhir.

Untuk itu, sambung dia, pemerintah jangan hanya membereskan persoalan perizinan yang berbelit. Namun, pemerintah semestinya juga mengawal proses penyusunan aturan yang dilakukan bersama anggota legislatif dengan mengedepankan prinsip transparansi.

Dengan demikian, aksi penolakan terhadap suatu undang-undang tidak perlu diselesaikan dengan turun ke jalan.

Pun, jika penyusunan suatu perundangan-undangan transparan serta mengedepankan konsultasi publik, masyarakat akan mendapatkan informasi yang benar atas latar belakang penyusunan undang-undang terkait.

“Tiba-tiba publik dikagetkan dengan berbagai RUU sudah menumpuk dan akan disahkan segera,” katanya.

Untuk RUU KPK, misalnya, Yose menyayangkan pernyataan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko sempat menyebut KPK menghambat investasi sebagai alasan pemerintah menyetujui revisi UU KPK pada Senin (23/9). Padahal, dalam proses penyusunan UU tersebut, pemerintah tidak pernah menyampaikannya ke publik.

Selain itu, keberadaan KPK juga seharusnya tidak menjadi penghambat investasi mengingat angka korupsi yang menurun seharusnya menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif.

Pernyataan Moeldoko tersebut kemudian diralat dengan meyakinkan bahwa persetujuan revisi dilatarbelakangi untuk keinginan pemerintah untuk memperkuat lembaga anti rasuah itu dan memberikan kepastian hukum bagi investor.

Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur, pernyataan yang terlontar malah memantik berbagai opini di publik yang seharusnya dilakukan pada waktu penyusunan revisi undang-undang, bukan setelah undang-undang disahkan.

“Tidak bisa lagi seperti itu. Zaman Pak Harto (mantan Presiden Soeharto) mungkin bisa seperti itu, zaman sekarang tidak bisa lagi seperti itu harus ada partisipasi publik yang lebih tinggi, jelas dan transparan,” tuturnya.

Secara terpisah, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual menilai pasar memang memberikan sentimen negatif terhadap aksi demo mahasiswa selama beberapa waktu terakhir, terlebih aksi tersebut diwarnai dengan kekerasan, termasuk di Jakarta.

“Karena Jakarta adalah barometer (investor), maka perlu hati-hati,” ujarnya.

David melihat aksi demo adalah konsekuensi logis dari suatu pemerintahan yang demokratis. Selama unjuk rasa dilakukan dengan tertib dan perubahan suatu peraturan dilakukan sesuai prosedur, maka investor tidak akan ragu untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

“Sejauh ini, belum ada dampak signifikan (aksi demo) ke sektor riil, tetapi baru ke pasar finansial,” katanya.

Di saat yang sama, pemerintah perlu mempercepat reformasi struktural di dalam negeri untuk mengundang lebih banyak investor. Tanpa reformasi struktural yang berkelanjutan, David menilai pertumbuhan investasi Indonesia tahun ini masih akan terjebak di kisaran 5 persen.

Data Pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (Investasi) 2009-2019*

2009: 3,3 persen
2010: 8,5 persen
2011: 8,8 persen
2012: 9,81 persen
2013: 4,71 persen
2014: 4,12 persen
2015: 5,07 persen
2016: 4,48 persen
2017: 6,15 persen
2018: 6,67 persen
2019*: 5,02 persen

*Semester I 2019
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending