Connect with us

Pasar Modal

Investor Asing Lepas Saham, IHSG Ditutup Melemah ke 6.261,59

Published

on


Finroll.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan saham Selasa pekan ini. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.225.

Pada penutupan perdagangan saham Selasa (3/9/2019), IHSG melemah 28,95 poin atau 0,46 persen ke level 6.261,59. Indeks saham LQ45 juga melemah 0,94 persen ke posisi 977,20.

Sebanyak 239 saham melemah sehingga mendorong IHSG ke zona merah. Sementara 184 saham menguat dan 133 saham diam di tempat.

Transaksi perdagangan saham cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham 542.718 kali dengan volume perdagangan 15,1 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 7,8 triliun.

Investor asing jual saham Rp 319 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.225.

Dari 10 sektor pembentuk IHSG, tiga sektor yang menguat. Penguatan dipimpin oleh sektor barang konsumsi yang melonjak 0,19 persen. Diikuti oleh sektor kontruksi naik 0,19 persen dan sektor perdagangan naik 0,04 persen.

Sedangkan enam sektor saham yang melemah antara lain sektor infrastruktur turun 1,29 persen, sektor aneka industri turun 1,07 persen dan sektor keuangan turun 0,80 persen.

Saham-saham yang melemah sehingga mendorong IHSG ke zona merah antara lain KAYU yang turun 23,14 persen ke Rp 352 per saham, SUPR turun 20 persen ke Rp 4.120 per saham dan TFCO turun 19,62 persen ke Rp 635 per saham.

Sementara saham-saham yang menguat antara lain APLN naik 26,60 persen ke Rp 238 per saham, STTP naik 24,76 persen ke Rp 3.880 per saham dan MKPI naik 18,28 persen ke Rp 16.850 per saham.

Sesuai Prediksi Analis

Gerak IHSG pada hari ini sesuai dengan prediksi analis. Sebelumnya, IHSG diprediksi masih akan ditransaksikan melemah pada perdagangan saham Selasa.

Sejumlah analis menilai, memanasnya kembali perang dagang antara AS-China menjadi sentimen global yang akan mempengaruhi laju indeks hari ini.

“China resmi memberlakukan tariff balasan terhadap produk asal Amerika Serikat. Dampak dari kelanjutan perang dagang diperkirakan masih akan mempengaruhi pergerakan,” tutur Analis PT Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan, Selasa (3/9/2019).

Adapun pada hari ini pihaknya memproyeksi IHSG akan terkoreksi dengan diperdagangkan dalam rentang support dan resistance di level 6.269-6.325.

Seirama, Analis PT Reliance Sekuritas Lanjar Nafi Taulat menilai IHSG akan bergerak tertahan dengan support resistance di level 6258-6326.

Pasar Modal

Penutupan Pasar: Rupiah Berakhir Stagnan Rp 13.665/US$

Published

on

By

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) stagnan di perdagangan pasar spot hari ini, tetapi masih jauh dari level Rp 13.700/US$

Pada Selasa (14/1/2020), US$ 1 dibanderol Rp 13.665/US$ di pasar spot. Rupiah stagnan alias sama dengan posisi penutupan perdagangan kemarin. Sebelumnya rupiah sempat menguat 0,26% ke level Rp 13.630/US$.

Berikut kurs dolar AS di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) pada pukul 15:55 WIB:

 

Periode Kurs
1 Pekan Rp 13.682,6
1 Bulan Rp 13.713,6
2 Bulan Rp 13.737,6
3 Bulan Rp 13.775,6
6 Bulan Rp 13.889
9 Bulan Rp 14.022
1 Tahun Rp 14.174
2 Tahun Rp 14.791,8

Berikut kurs Domestic NDF (DNDF) pada pukul 15:55 WIB:

Periode Kurs
1 Bulan Rp 13.700
3 Bulan Rp 13.760

Berikut kurs dolar AS di sejumlah bank nasional pada pukul 15:50 WIB:

Bank Harga Beli Harga Jual
Bank BNI 13.654 13.709
Bank BRI 13.695 13.825
Bank Mandiri 13.645 13.665
Bank BTN 13.550 13.725
Bank BCA 13.681 13.699
CIMB Niaga 13.668 13.673

TIM RISET CNBC INDONESIA (pap/pap)

Continue Reading

Pasar Modal

Main Saham Gorengan, Jiwasraya Bikin Rugi Negara Rp 10,4 T

Published

on

By

Jakarta,  – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan adanya kerugian negara oleh PT Asuransi Jiwasraya (Persero) sebesar Rp 10,4 triliun karena ‘menggoreng’ saham investasi.

Ketua BPK Agung Firman Sampurna mengatakan perusahaan pelat merah tersebut menanamkan dana hasil penjualan produk JS Saving Plan pada saham dan reksa dana berkualitas rendah.

Menurutnya, saham-saham tersebut antara lain adalah BJBR, SMBR, PPRO, dan lain-lain. Indikasi kerugian sementara akibat transaksi tersebut diperkirakan sekitar Rp 4 triliun.

Kemudian, pada posisi 30 Juli 2018, Jiwasraya memiliki 28 produk reksa dana, di mana 20 reksa dana diantaranya milik Jiwasraya dengan kepemilikan di atas 90%. Indikasi kerugian sementara terkait saham reksa dana diperkirakan sekitar Rp6,4 triliun.

Main Saham Gorengan, Jiwasraya Bikin Rugi Negara Rp 10,4 T Foto: Konferensi pers BPK dan Kejagung terkait kasus Jiwasraya (CNBC Indonesia/Cantika Adinda Putri)

Sehingga jika diakumulasikan maka kerugian investasi pada saham gorengan dan reksa dana tersebut, total indikasi kerugian Jiwasraya mencapai Rp10,4 triliun.

“Pihak-pihak yang terkait adalah pihak internal Jiwasraya pada tingkat direksi, general manager, dan pihak lain di luar Jiwasraya,” kata Agung di kantor BPK, Jakarta Pusat, Rabu (8/1/2020).

Lebih lanjut, Agung mengatakan, pembelian dan penjualan saham diduga dilakukan secara pro forma dan tidak didasarkan atas data yang valid dan objektif. Kemudian melakukan aktivitas jual beli saham dalam waktu yang berdekatan untuk menghindari pencatatan unrealized gross, yang diduga window dressing.

“Jual beli juga dilakukan dengan pihak tertentu secara negosiasi agar bisa memperoleh harga tertentu yang diinginkan, dan adanya kepemilikan atas saham tertentu melebihi batas maksimal yaitu di atas 2,5%,” tuturnya.

Selain itu, Jiwasraya melakukan investasi langsung pada saham-saham yang tidak likuid dengan harga yang tidak wajar. BPK menduga dalam hal ini ada kerjasama antara manajemen Jiwasraya dengan manajer investasi untuk menyembunyikan investasi pada beberapa reksa dana dengan underlying saham.

Tak hanya itu, pihak yang diajak bertransaksi saham oleh manajemen Jiwasraya terkait transaksi ini adalah grup yang sama, sehingga diduga ada dana perusahaan dikeluarkan melalui grup tersebut.

“Jadi ada indikasi jual beli saham berkualitas rendah dilakukan oleh pihak-pihak yang terafiliasi dan diduga dilakukan dengan mereka yang seharga, sehingga harga jual beli tidak mencerminkan harga yang sebenarnya,” papar Agung. (CNBC/GPH)

Continue Reading

Pasar Modal

IHSG Diprediksi Fluktuatif, Simak 9 Saham Rekomendasi

Published

on

By

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi mengalami tren pelemahan.

Analis Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christopher Jordan mengatakan, potensi IHSG yang melemah itu diperkirakan akan lebih fluktuatif, dipengaruhi penetapan suku bunga Bank Indonesia (BI).

Dennies memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini berada pada resistance 2 di level 6.332, resistance 1 di level 6.310, support 1 di level 6.242 dan support 2 di level 6.196.

“IHSG diprediksi melemah, secara teknikal indikator stochastic bergerak di area overbought mengindikasikan tren penguatan sudah terbatas,” kata Dennies dalam risetnya, Kamis (19/12).

Kemarin, IHSG ditutup menguat di level 6.287,25 atau naik 0,69 persen. Penguatan didorong oleh sektor keuangan (+2,02 persen) dan industri dasar (+1,00 persen).

IHSG ditutup menguat didorong oleh persetujuan perjanjian dagang fase I antara Amerika Serikat dan China. Investor cenderung berspekulasi menanti penetapan suku bunga oleh BI.

Sementara, Vice President Research Department Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan, pola gerak IHSG hari ini terlihat berpotensi untuk kembali melanjutkan kenaikan jangka pendeknya. Ini terlihat dari rentang konsolidasi yang sedang berusaha digeser ke arah yang lebih baik.

Ia melanjutkan, selain itu jelang rilis Suku bunga acuan BI yang akan dilansir diperkirakan belum akan terdapat perubahan dikarenakan kondisi perekonomian masih cukup stabil.

“Sehingga momentum koreksi wajar masih dapat dimanfaatkan oleh investor untuk melakukan akumulasi pembelian dengan target jangka menengah hingga panjang, hari ini IHSG berpeluang untuk bergerak pada zona hijau,” ujar William.

Berikut saham-saham rekomendasi William pada perdagangan hari ini:

– PT Indofood Tbk (INDF)
– PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)
– PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI)
– PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)
– PT Indofood Tbk (INDF)
– PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)
– PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP)
– PT Gudang Garam Tbk (GGRM)
– PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending