Rabu, 10 Februari 2021

Adopsi Cloud Meningkat, Indonesia Akan Jadi Hub Pusat Data Asia


  • Adopsi teknologi cloud di Indonesia naik hingga 10% tahun lalu.
  • Amazon, Google, Alibaba bersaing di bisnis cloud dan pusat data di Indonesia.
  • Menteri Luhut pernah mengungkapkan peluang Indonesia menjadi hub pusat data di Asia.

Adopsi komputasi awan (cloud) meningkat, seiring banyaknya perusahaan yang mendigitalisasikan bisnis saat pandemi corona. Raksasa teknologi seperti Google, Alibaba, dan Amazon pun berbondong-bondong masuk ke bisnis cloud dan pusat data di Tanah Air. Indonesia bahkan disebut-sebut berpeluang menjadi hub pusat data di Asia.

IBM mencatat, penggunaan cloud meningkat 5-10% secara tahunan (year on year/yoy) pada tahun lalu. “Industri yang banyak mengadopsi yakni perbankan dan telekomunikasi,” kata Country Manager Partner Ecosystem IBM Indonesia Novan Adian saat media briefing virtual, Rabu (10/2).

Ia menjelaskan, peningkatan terjadi karena masyarakat beralih ke layanan digital. Perusahaan juga mengubah sistem kerjanya, guna menyesuaikan dengan protokol kesehatan terkait Covid-19. Selain itu, jumlah pengguna internet di Indonesia terus bertambah menjadi hampir 200 juta.

“Trafik pengguna internet meningkat. Jadi, tidak ada opsi lagi (selain beralih ke digital),” kata Novan. “Maka, penggunaan cloud meningkat.”

Namun, adopsi cloud di Nusantara bukan tanpa tantangan. Novan mengatakan, perusahaan mengkaji keamanan dan kemampuan teknologi mengakomodasi peningkatan transaksi.

Ia menilai bahwa kekhawatiran itu wajar, mengingat cloud merupakan teknologi baru di Tanah Air dan belum ada regulasi perlindungan data. “Mereka butuh dituntun. Memetakan apa yang menjadi prioritas masing-masing perusahaan. Tidak bisa langsung adopsi,” katanya.

Berdasarkan laporan tahunan Huawei bertajuk Global Connectivity Index (GCI) 2020, Indonesia masih berada di kelompok starter terkait adopsi teknologi. Namun skornya 39, atau termasuk tinggi untuk kategori ini.

Huawei melihat transformasi digital di Indonesia meningkat signifikan. Jika kualitas jaringan internet diperluas hingga ke perdesaan, raksasa teknologi Tiongkok itu memperkirakan Nusantara segera masuk ke kelompok adopter, bersama Vietnam dan Peru.

Survei terbaru Alibaba Cloud pun menunjukkan, 77% bisnis di Indonesia menggunakan solusi informasi teknologi berbasis cloud. Sebanyak 83% juga percaya bahwa perangkat ini membantu mereka memenuhi kebutuhan bisnis selama pagebluk virus corona.

Survei itu melibatkan 1.000 peserta di Hong Kong, Malaysia, Singapura, India, Indonesia, dan Filipina. Kuesioner disebar pada November tahun lalu. Sebanyak 64% memilih pendekatan hybrid cloud, yakni layanan yang mendistribusikan komputasi awan untuk umum (public) dan terbatas (private).

Jababeka industrial Estate

“Kami berencana memperkenalkan lebih banyak teknologi dan solusi hybrid cloud yang disesuaikan dengan berbagai industri di Indonesia,” kata General Manager, Alibaba Cloud Intelligence Indonesia Leon Chen dalam siaran pers, akhir pekan lalu (5/2). Anak usaha Alibaba sudah membangun dua pusat data di Indonesia. Mereka juga tengah membuat yang ketiga, dan ditarget beroperasi tahun ini.

Beberapa perusahaan yang menggunakan layanan cloud Alibaba yakni startup fintech pembiayaan Indonesia, Investree, e-commerce asal Malaysia, PrestoMall, perusahaan gim Jepang Enish, platform hiburan dari Filipina, Kumu, dan banyak lagi.

Leon memprediksi penggunaan cloud tetap meningkat meski pandemi Covid-19 usai. “Ini karena teknologi tersebut akan mendukung banyak perusahaan bertransformasi digital secara cepat dengan hemat biaya,” kata dia kepada Katadata.co.id, Desember lalu (8/12/2020).

Hal senada disampaikan oleh Country Director Google Cloud Indonesia Megawaty Khie. “Aktivitas bekerja dan operasional bisnis jarak jauh membuat perusahaan besar dan kecil ramai-ramai beralih ke cloud,” kata dia dalam siaran pers, Senin lalu (8/2).

Sumber Berita : Katadata.co.id

BACAAN TERKAIT