Selasa, 26 Januari 2021

Artificial Intelligen dan Kemunculan Kelas Tak Berguna


Revolusi yang terjadi karena artificial intelligent akan menciptakan kelas baru. Kalau revolusi industri dulu menghasilkan kelas pekerja, revolusi artificial intelligent akan menghasilkan useless class alias kelas tak berguna.

Yuval Noah Harari adalah seorang sejarawan, filsuf, dan penulis buku terlaris, Sapiens: Sejarah Singkat Manusia, Homo Deus: Sejarah Singkat Masa Depan, dan 21 Pelajaran untuk Abad ke-21. Lahir di Haifa, Israel, pada tahun 1976, Harari menerima gelar PhD dari University of Oxford pada tahun 2002, dan saat ini menjadi dosen di Departemen Sejarah, Universitas Ibrani Yerusalem. Buku-bukunya telah terjual lebih dari 23 Juta kopi di seluruh dunia.

Sapiens, Homo Deus, dan 21 Lessons for the 21st Century adalah tiga buku Harari yang dengan lugas membahas masa lalu, juga terkaan-terkaannya terhadap masa depan, manusia dalam kiatnya merajut dan mengembangkan mitos-mitos tersebut. Menurutnya, kemampuan berimajinasi tidak hanya sukses membawa manusia ke puncak rantai makanan namun juga melahirkan bencana bagi mereka sendiri, semisal kelaparan, wabah penyakit, dan perang.

Yuval Noah Hariri

Satu contoh sukses dari imajinasi manusia adalah sains dan teknologi. Keduanya memicu revolusi industri, dan dalam waktu singkat corak peradaban manusia berubah drastis dari zaman-zaman sebelumnya.

Ada empat fase revolusi industri. Revolusi industri pertama terjadi di Barat selama abad ke-18 dan ke-19, menghadirkan mesin uap yang mentransformasi masyarakat bertani menjadi masyarakat industri urban. Fase kedua adalah revolusi teknologi, yakni kelanjutan dari fase sebelumnya dengan kian besarnya produksi massal, pengeboran minyak bumi, juga elektrifikasi yang berlangsung pada paruh awal abad ke-20. Fase ketiga berlangsung sejak tahun 1980-an sampai sekarang, kita mengenalnya sebagai revolusi digital dengan perangkat komputer, telepon pintar, dan internet sebagai produk khasnya.

Di fase keempat ini yang oleh sebagai pakar disebut revolusi industri 4.0, dan jika revolusi industri 4.0 telah mencapai puncaknya dan otomatisasi menjadi sistem universal dalam proses produksi dunia, masalahnya tidak lagi tentang eksploitasi manusia, namun ketidakbutuhan terhadap kontribusi manusia itu sendiri.

Yuval Noah Hariri memprediksi bahwa revolusi yang terjadi karena artificial intelligent (AI) atau kecerdasan buatan akan menciptakan kelas baru. Kalau revolusi industri dulu menghasilkan kelas pekerja, revolusi artificial intelligent akan menghasilkan kelas tidak bekerja. Hariri menyebutnya sebagai useless class alis kelas tak berguna.

Dahulu mesin memang menggantikan kerja manusia dalam beberapa sektor, tetapi ia juga menciptakan peluang-peluang kerja baru di sektor lain yang tidak dapat dikerjakan mesin. Biasanya, sebenci apapun elit-elit korporasi terhadap serikat pekerja yang kerap menuntut upah lebih tinggi, toh mereka tidak akan sampai melakukan pemecatan besar-besaran karena itu sama saja mematikan usaha mereka sendiri. Andaipun terjadi mereka juga masih bisa mencari orang-orang lain untuk dieksploitasi. Namun ke depan, alih fungsi tenaga kerja diperkirakan cenderung minimal dan mayoritas manusia akan kehilangan pekerjaan.

Sekarang sedang dikembangkan artificial intelligent yang jago dalam banyak hal. Dia bisa berpikir sendiri, merencanakan sesuatu, menyelesaikan masalah, menguraikan ide yang kompleks, dan dia belajar itu semua dalam waktu yang cepat. Yang paling canggih, dia bisa belajar dari pengalaman dan kesalahan-kesalahan yang dilakukannya! Kurang canggih apa coba, manusia aja banyak yang gagal kalo disuruh belajar dari pengalaman.

Kalau sudah ada AI yang secanggih itu, penemuan-penemuan canggih lainnya pasti akan lebih cepat ditemukan. Dalam waktu yang singkat, masalah-masalah manusia akhirnya bisa diselesaikan oleh kecerdasan buatan ini. Ujungnya, semua pekerjaan diambil alih oleh mereka.

CIMB NIAGA

Banyak orang sudah memprediksi kalau AI memang akan mengambil alih banyak pekerjaan manusia. Tapi mereka tak menyangka kalau perkembangannya jadi secepat ini.

Tahun 2004 dulu misalnya, Frank Levy dari Massachusetts Institute of Technology dan Richard Murnane dari Universitas Harvard mempublikasikan penelitian tentang pasar tenaga kerja setelah ada AI. Mereka menuliskan pekerjaan apa saja yang nggak akan direbut oleh artificial intelligent. Dulu mereka pikir sopir truk nggak akan bisa diganti, tapi sekarang kita melihat sendiri kalau pekerjaan itu akan terganti setelah mobil otomatis sudah benar-benar ada. Alhasil, sopir kendaraan apa pun nantinya ya nggak akan dibutuhkan lagi.

Penelitian lain tentang ini dilakukan juga oleh peneliti Universitas Oxford Carl Benedikt Frey dan Michale A. Osborne. Mereka melakukan survei mengenai pekerjaan apa yang akan benar-benar digantikan AI di tahun 2030 nanti. Hasilnya, sepertiga pekerjaan di AS akan terancam hilang karena semuanya bisa diambil alih oleh AI.

Pekerjaan-pekerjaan itu di antaranya: jurnalis, kasir, koki, pelayan, pemandu wisata, sopir, buruh bangunan, asisten dokter hewan, satpam, pelaut, bartender, arsiparis, tukang kayu, sampai seniman. Satu-satunya pekerjaan yang aman dan tidak akan tergantikan oleh AI adalah arkeolog. Pekerjaan ini aman karena kerja arkeolog membutuhkan pengenalan pola yang cukup kompleks. Tapi ya perusahaan juga tidak akan butuh arkeolog, makanya tidak dibutuhkan otomasi untuk pekerjaan ini.

Solusi Harari adalah menyediakan sistem upah dan kesehatan universal, dan sebagai pengganti kerja, manusia akan disibukkan dengan teknologi virtual reality dan konsumsi obat-obatan psikedelik. Manusia bisa hidup makmur tanpa perlu mengejar ambisi-ambisi keduniawian.

Jika diimbangi dengan kebijakan kontrol populasi yang tepat, agaknya kondisi tersebut ideal untuk mengurangi jumlah manusia yang sudah terlewat banyak di Bumi ini. Masalahnya, perubahan itu tidak akan terjadi dalam semalam. Negara-negara maju mungkin yang pertama kali akan menikmati buah utama revolusi industri 4.0, namun di saat bersamaan memukul perekonomian mitra-mitranya di negara-negara miskin dan berkembang yang masih mengutamakan tenaga kerja manusia.

Disparitas ini tentu menimbulkan gejolak di kalangan kelas pekerja yang tidak siap mengikuti perubahan. Di Indonesia, hal ini harus diwaspadai mengingat pada dekade-dekade mendatang kita akan mengalami bonus demografi. Apakah pemerintah sudah mempersiapkan diri untuk menampung kelebihan jumlah orang-orang berusia produktif tersebut ke dalam sektor-sektor kerja, yang opsinya akan kian sedikit? Jika tidak, maka pemerintah harus bersiap-siap menghadapi amukan rakyatnya sendiri yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan; karena memang tidak ada yang membutuhkan mayoritas keahlian mereka.

BACAAN TERKAIT