Kamis, 4 Februari 2021

Cerita Unik 6 Negara Pengolah Sampah Terbaik, Indonesia Termasuk?


Berbicara tentang sampah di negara sendiri memang tidak ada habisnya,banyak masyarakat yang masih enggan untuk membuang sampah pada tempatnya. Berbeda dengan negara-negara maju biasanya sudah memiliki tata cara membuang sampah yang canggih dan teratur.

Untuk itu ada baiknya kita mencontoh beberapa negara ini dalam hal pengelolaan sampah agar tercipta lingkungan yang bersih, nyaman dan indah. Berikut enam negara yang memiliki pengelolaan sampah yang dianggap terbaik di dunia, yang dilansir dari sejumlah sumber.

1. Jepang

Seorang petugas membersihkan jalan di Jepang/foto-IDN Times

Bukan Jepang kalau tidak selalu memukau tentang sikap mereka terhadap kebersihan. Bukan cuma di negara mereka, tetapi mereka selalu menunjukkan di luar ketika berada di negara lain. Beberapa kejadian yang mungkin sempat kita tahu karena sempat viral.

Pendukung Timnas Jepang memunguti sampah-sampah mereka ketika pertandingan usai, entah timnya menang atau kalah pada perhelatan Piala Dunia di Brazil (2014) dan Rusia (2018). Tindakan terpuji ini tidak hanya ditunjukkan oleh suporter mereka, tetapi para pemainnya sendiri. Ruang ganti para pemain bersih dari satu sampah pun. Kondisinya sama seperti semula.

Kordinator General FIFA, Priscilla Janssens, bahkan men-tweet, “What an example for all teams!”, yang kemudian menjadi viral.

Atau beberapa jemaah haji dari Jepang ketika melaksanakan ritual keagamaan ke Mekkah memunguti sampah-sampah yang dibuang oleh para jemaah dari negara-negara lain.

Atau yang paling ekstrim mungkin, ritual para petugas Shinkansen (kereta api cepat) yang membersihkan ruang kereta hanya dalam tujuh menit. Bahkan atraksi ini menjadi tontonan tersendiri bagi para turis.

Saat kuliah di Amerika Serikat, saya menyaksikannya sendiri. Saya memiliki beberapa teman dari Jepang. Kami seapartemen. Dapur kami adalah dapur umum. Dengan begitu saya bisa melihat perilaku mereka terhadap kebersihan.

Jika saya atau yang lain biasa menumpuk barang-barang di meja dapur ketika masak, berbeda dengan mereka yang dari Jepang. Mereka tidak akan menumpuknya.

Keadaan kompor dan meja akan sebersih sebelum dan sesudah mereka masak. Meski mereka tahu jika di tempat kami ada petugas yang yang berkewajiban membersihkan dapur.

Jababeka industrial Estate

Padahal mereka ini masih remaja. Rata-rata teman saya itu adalah mahasiswa awal yang datang ke Amerika untuk belajar Bahasa Inggris selama dua bulan. Remaja seusia mereka biasanya seusia mereka di Indonesia sebagaimana beberapa teman Indonesia yang saya kenal justru rajin membuang sampah di jalanan atau ketika diajak membersihkan sampahnya di kantin akan berceloteh,

“Adaji petugasnya. Di gaji pula. Biar ada kerjanya.”

Apa yang membuat orang-orang Jepang begitu peduli dengan kebersihan meskipun mereka tidak sedang berada di negaranya? Meski tidak ada yang mengawasi? Atau ketika tempatnya tidak menuntut kebersihan setingkat kebersihan di negaranya?

“Selama 12 tahun bersekolah, dari SD sampai SMA, kebersihan adalah bagian dari rutinitas kami.” Setidaknya begitulah pendakuan Maiko Awane, asisten direktor di salah satu kantor pemerintah di Jepang sebagaimana dikutip dari BBC.

Sebagai sebuah rutinitas yang dibiasakan, rutinitas tersebut menjadi semacam kewajiban yang membuat mereka merasa tidak nyaman jika melakukannya. Rutinitas itu pula yang menumbuh menjadi kesadaran hingga mereka besar.

Bisa jadi kadang mereka ogah untuk membersihkan. Namun, karena sistem budaya yang telah terbangun sekian lama membuat mereka merasa tidak enak hati.

Mereka telah dibiasakan menjaga kebersihan. Dan bukan hanya di sekolah tetapi juga keluarganya di rumah. Anak-anak mereka diajarkan untuk membersihkan ruangannya.

Kebiasaan ini berlanjut tidak hanya di ruangan dan rumahnya ketika besar tetapi meluas menjadi tanggung jawabnya dalam skala lebih besar di masyarakat dan negara.

Mereka tidak ingin meninggalkan kesan buruk kepada orang lain. Mereka tidak ingin dipandang sebagai bukan orang terdidik yang tidak peduli dengan lingkungan dan orang lain.

2. German

Penyapu di Jerman bekerja membersihkan dan menjaga sampah serta mendorong truk sampah di jalan di kota Speyer pada 27 Agustus 2017 di Rhineland Palatinate, Jerman

Meski terbilang sebagai negara paling sukses di zona euro, Jerman rupanya sempat terlilit pula suatu masalah. Uniknya, problem yang dihadapi negara dengan ibu kota Berlin itu adalah sampah. Pemerintah setempat sempat dibuat pusing dengan adanya gunungan sampah di sejumlah tempat. 

Permasalahan sampah itu tentu harus segera ditangani. Pasalnya, jika tidak, akan menimbulkan persoalan lain yang lebih kompleks, bukan saja terkait kebersihan lingkungan, tetapi juga problem sosial. Dari beberapa solusi yang tersedia, Pemerintah Jerman memilih sistem daur ulang. Sebenarnya, sistem daur ulang sampah di negeri yang terkenal dengan penguasaan ilmu dan teknologi maju di berbagai bidang itu telah berjalan lebih dari 20 tahun. 
Karena itu, tidak heran jika saat ini, 14 persen dari bahan mentah yang digunakan industri-industri di Jerman berasal dari sampah hasil daur ulang.

Terkait aturan pengelolaan sampah di Jerman, Andreas Jaron, dari Kementerian Lingkungan Hidup Jerman menjelaskan sebenarnya persyaratan hukum pengelolaan sampah di seluruh negara bagian, sama, yakni berada di bawah undang- undang federal. Meski demikian, masing-masing kota di Jerman yang jumlahnya mencapai 402 kota, memiliki aturan sendiri mengenai bagaimana rumah tangga dan perusahaan harus menggunakan infrastruktur kota dan bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan. 


Salah satu contoh peraturan yang diterapkan ialah larangan penimbunan limbah biodegradable atau recycable. Adapula aturan yang mengimbau masyarakat untuk melakukan pemisahan limbah yang dihasilkan dari rumah tangga. Di Jerman, sampah kering dan sampah basah memang telah terbiasa dipisahkan. 
Di rumah tangga, misalnya, pemisahan sampah bukan hanya berdasarkan sampah kering dan basah, tetapi juga berdasarkan jenisjenis sampah yang dihasilkan, seperti bio-limbah, kertas, kemasan, kaca, limbah besar, limbah berbahaya, tekstil, peralatan elektronik, dan binresidu. Sementara itu, dalam industri perdagangan dan pertambangan, pemisahan limbah juga dilakukan agar hasil pengolahan sampah bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku sekunder. 


Perilaku masyarakat Jerman yang terbiasa membuang sampah berdasarkan jenisnya itu, diakui pula oleh Norma Hermawan, mahasiswa asal Indonesia yang baru menyelesaikan studi master di Hochschule Darmstadt, Darmstadt, Jerman. 
Berdasarkan pengalamannya, Norma mengamati masyarakat Jerman cukup disiplin dalam membuang sampah. Selain dibuang pada tempatnya, sampah juga dipisahkan berdasarkan sampah basah dan sampah kering. Tidak hanya itu, masyarakat Jerman juga terbiasa memisahkan sampah dari jenisnya, mulai dari sampah plastik, kertas, biomull atau sampah yang membusuk, dan restmull (sampah yang tidak bisa didaur ulang). 
“Di sejumlah tempat, tersedia pula tempat sampah untuk botol atau gelas bekas yang dipisahkan berdasarkan warnanya. Bahkan, ada pula tempat sampah khusus untuk membuang pakaian bekas,” ujar dia. Norma menambahkan, sepekan sekali, petugas kebersihan sampah datang ke rumah-rumah penduduk untuk mengambil sampah rumah tangga. Istimewanya, para petugas kebersihan tersebut adalah pegawai pemerintahan yang bekerja secara profesional. 
Ketika menjalankan tugas, mereka mengenakan seragam sembari membawa peralatan kebersihan lengkap. Kedisiplinan masyarakat dalam menjaga kebersihan juga begitu terasa dalam kehidupan sehari-hari. Norma memberi contoh, di tempat tinggalnya yang merupakan apartemen bersama, para penghuninya selalu berupaya menjaga kebersihan dapur. 
“Dapur yang digunakan untuk memasak bersama harus selalu bersih, tidak boleh ada piring atau gelas kotor yang tertinggal di wastafel. Begitu juga dengan kompor listrik. Bahkan, percikan minyak pun harus dilap sampai benar-benar bersih. Hal itu telah menjadi peraturan bersama yang disepakati oleh seluruh penghuni apartemen,” tutur Norma. 
Masyarakat Bertanggung Jawab 
Menurut Jaron, kesadaran masyarakat Jerman yang cukup tinggi dalam membuang sampah tidak terlepas dari penanaman rasa tanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan. Hal tersebut memang terus dikampanyekan pemerintah, terutama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Jerman yang berada di Kota Bonn. Secara rutin, KLH Jerman mengedukasi masyarakat tentang manfaat sampah jika dikelola dengan tepat. 


Pihak KLH Jerman dengan menggandeng sejumlah ilmuwan meluangkan waktu untuk berdiskusi mengenai alat atau teknologi baru dalam mengatasi masalah sampah atau cara baru mendaur ulang sampah. Jaron memaparkan selama ini pengelolaan sampah di Jerman dilakukan pemerintah kota dan perusahaan swasta. Sementara itu, dalam mengendalikan pelaksanaan undang-undang sampah terdapat beberapa tingkatan administrasi. 


“Dengan sistem pengelolaan sampah yang selama ini berjalan, pemanfaatan sampah daur ulang di negaranya boleh dibilang berjalan mulus. Sebagai buktinya, 78 persen sampah kota dapat didaur ulang, termasuk menjadi energi. Jika dirata-ratakan, 71 persen sampah di Jerman kini sudah berhasil didaur ulang,” papar Jaron melalui surat elektronik. Terkait pengelolaan sampah organik, Jaron menjelaskan perlakuannya memang lebih khusus. 
Pasalnya, untuk mengelola sampah organik diperlukan sebuah thermal dan tata cara teknis secara biologi. Pada umumnya, sampah dari makhluk hidup itu akan diolah hingga hasil akhirnya berupa pupuk. Untuk mendukung kelancaran penerapan sistem pengelolaan sampah organik, Pemerintah Jerman menyediakan 70 municipal waste incinerators yang beroperasi di seluruh daerah di Jerman. 


Dari hal tersebut bisa dikatakan bahwa pengelolaan sampah dengan sistem daur ulang terus membaik karena mendapat support penuh dari pemerintah, salah satunya dalam bentuk pemberian fasilitas serta infrastruktur pendukung. Bentuk dukungan lain dari pemerintah adalah meningkatkan kualitas sistem daur ulang sampah. Ke depan, KLH Jerman berencana memperluas laju daur ulang sampah, salah satunya untuk logam bio-limbah sambil tetap menjaga efisiensi pendanaannya. Pemerintah juga berkomitmen untuk membuat lebih banyak lagi wadah-wadah pemisahan sampah yang wajib dilakukan masyarakat dan perusahaan.

3. Swedia

Swedia merupakan negara yang dikenal inovatif termasuk dalam hal pengelolaan sampah. Selama bertahun-tahun Swedia secara konsisten menerapkan kebijakan pengelolaan sampah demi mewujudkan negara yang bebas sampah. Selain dari kebijakan pemerintah dan inovasi teknologi, ternyata peran serta masyarakat juga menjadi faktor utama untuk mendukung terwujudnya negara bebas sampah tersebut. Berikut adalah beberapa fakta terkait pengelolaan sampah di Swedia :

Masyarakat Swedia telah terbiasa memilah sampah yang mereka hasilkan di rumah-rumah sebelum membuangnya ke tempat pembuangan. Hal tersebut tentu saja mempermudah proses pemilahan sampah dalam skala yang lebih besar. Selain itu, ada kebijakan pemerintah yang menetapkan ketersediaan pusat daur ulang sampah setiap 300m dari wilayah pemukiman. Hal ini ditargetkan untuk mendorong perilaku masyarakat untuk membuang dan memperlakukan limbah dengan benar.

Warga Swedia cenderung menggunakan kembali barang-barang daripada membuang atau mendaur ulang. Ini termasuk kebiasaan mengisi ulang produk-produk, daripada membuang atau mendaur ulang wadahnya. Kebiasaan menggunakan produk yang bisa digunakan ulang, tentu saja membuat mereka terhindar dari membeli produk baru yang berpotensi menghasilkan sampah lainnya.

Pemerintah menyediakan reward dalam bentuk uang bagi setiap botol atau kaleng bekas yang ditaruh di fasilitas duar ulang. Sistem ini disebut pant system yang telah sukses mendaur ulang jutaan sampah setiap tahunnya. Pant system juga disebut sebagai salah satu faktor yang membentuk perilaku masyarakat dalam menangani sampah sehari-hari.

Selain itu, Pemerintah juga menghimbau pihak produsen yang memproduksi barang yang berpotensi menjadi limbah untuk berpartisipasi. Beberapa retail barang seperti perusahaan pakaian H&M akan memberikan diskon bagi pelanggan yang ‘mengembalikan’ pakaian yang sudah tidak dipakai lagi. Di samping itu, mereka juga mencoba inovasi agar limbah pakaian bekas dapat diatasi dengan lebih baik untuk ke depannya.

Hal yang paling signifikan dari pengelolaan sampah di Swedia adalah tersedianya fasilitas waste-to-energy. Lebih dari lima puluh persen limbah di Swedia dibakar dengan suhu yang sangat tinggi di fasilitas ini untuk mengubahnya menjadi energi listrik atau panas. Selain itu, abu dari proses pembakaran limbah ini juga dapat dijadikan bahan konstruksi jalan. Untuk membuat fasilitas ini selaku bekerja menghasilkan energi, Swedia bahkan mengimpor sampah dari negara-negara tetangga.

Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa masalah sampah adalah persoalan semua pihak dalam suatu negara. Untuk menjadi negara yang bebas sampah, juga diperlukan partisipasi pihak industri serta peran aktif masyarakat untuk mengelola sampah. Dengan penanganan yang tepat dan tunjangan teknologi, Swedia berhasil membuktikan diri sebagai negara terdepan dalam hal pengeloaan sampah.

4. Swiss

ARA Bern, pabrik pengolahan air limbah yang dianggap sebagai salah satu yang paling maju secara teknologi di seluruh Eropa. Credit: Krohne

Swiss merupakan negara federal dan sebagian besar wilayahnya terdiri dari Pegunungan Alpen. Alamnya begitu indah hingga menjadi daya tarik bagi para pendatang yang berkunjung untuk menikmati. Namun, kelebihan negara ini tak hanya sampai disitu saja. Swiss berhasil dikenal dengan prinsipnya dalam mengembangkan keberlanjutan serta melestarikan lingkungan.

Di tahun 2017, negara ini dinobatkan sebagai nomor satu dari lima negara yang menerima Sustainable Development Goals PBB. Swiss memang telah melakukan berbagai aksi nyata untuk menanggulangi berbagai masalah lingkungan, terutama dalam hal iklim, energi, dan polusi udara. Bentuk keramahan lingkungan di negara ini pun dapat dibuktikan melalui beberapa hal, diantaranya :

Swiss tak diragukan lagi menjadi negara paling utama di dunia dalam hal daur ulang dan manajemen limbah. Mereka berhasil memisahkan dan mendaur ulang limbah organik lalu mengubah sisanya menjadi energi. KVA Thun, adalah salah satu contoh pabrik waste-to-energy yang memproses ratusan ton limbah. Mereka bahkan memiliki sistem pengendalian polusi udara yang efisien agar standar kualitas udara terpenuhi dan emisi dijaga agar tetap dalam batas minimum.

Air memegang peran esensial dalam kehidupan setiap makhluk yang hidup di bumi ini. Swiss, memiliki banyak danau dan saluran air seperti Rhine dan Rhone serta telah berupaya meningkatkan kualitas air sebaik mungkin. Contohnya adalah ARA Bern, pabrik pengolahan air limbah yang dianggap sebagai salah satu yang paling maju secara teknologi di seluruh Eropa. Mereka membersihkan 90 liter air limbah perharinya sekaligus menghasilkan biogas dari lumpur limbah. Menariknya, gas ini kemudian digunakan dalam sistem transportasi umum.

Mitigasi perubahan iklim membutuhkan teknologi penghilangan karbon untuk mencapai nol emisi dan emisi negatif di masa depan. Salah satu kota di Swiss yaitu Zurich, mewujudkannya dengan mendirikan pabrik carbon-capture berskala industri pertama di dunia. Pabrik ini bekerja dengan menghilangkan karbon dioksida dari udara melalui penangkapan udara langsung. Terlebih, mereka mampu menangkap 900 ton, jumlah karbon dioksida yang setara dihasilkan sekitar 200 mobil dalam setahun.

Seiring terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global, semakin banyak orang yang terlantar akibat bencana iklim seperti peristiwa cuaca ekstrem dan kelangkaan air. Bersama Norwegia, Swiss menciptakan Nansen Initiative di tahun 2015 untuk mengatasi tantangan yang berhubungan dengan migrasi iklim di tingkat global. Hingga kini, Initiative tersebut tumbuh menjadi platform Pengungsian Bencana dan memiliki dukungan, komite, serta anggota tim dari seluruh dunia.

Melalui keempat poin tersebut, Swiss tak sekadar berdedikasi. Mereka terbukti paham bahwa sustainability memiliki kaitan erat dengan kelestarian hidup kedepannya. Dengan mengusahakan hidup ‘hijau’ serta meminimalisir dan mendaur ulang barang tak terpakai, kita akan menghemat pengunaan energi guna kelangsungan hidup yang lebih baik. Terlebih, sustainability akan menciptakan dunia yang sehat—lingkungan menjadi seimbang dan mampu memberikan kedamaian serta ketenteraman hati.

5. Korea Selatan

pikiranrakyat

Sampah sisa makanan seakan selalu menjadi masalah di suatu negara. Bila jumlah sampah makanan tinggi dan tak ada pengolahan yang efektif maka bisa menimbulkan pencemaran lingkungan. Kesehatan masyarakat juga turut terganggu akibat sampah-sampah makanan yang tak diolah dengan baik dan benar.Namun ternyata hal tersebut tidak berlaku di Korea Selatan. Dengan jumlah penduduk kurang lebih 51 juta jiwa, Korea Selatan berhasil menorehkan prestasi di bidang pengelolaan sampah makanan.

Dikutip dari Straits Times, tercatat dari tahun 2008 hingga 2014 jumlah sampah makanan di Korea Selatan berkurang dari 5,1 ton menjadi 4,8 ton per hari. Sampah makanan yang dimaksud ini adalah sampah dari sisa makanan yang dikonsumsi seperti sayur sisa memasak, makanan yang tidak habis dimakan hingga buah-buahan busuk.

Keberhasilan Korea Selatan tersebut tak lain disebabkan karena kejelian pemerintahnya dalam membuat kebijakan pengelolaan sampah makanan. Pemerintah Korea Selatan mengeluarkan program bernama “Pay as You Trash” untuk pengolahan sampah makanan yang mulai diterapkan pada tahun 2013 lalu.Program tersebut mengharuskan masyarakat Korea Selatan untuk memisahkan sampah makanan dari bungkusnya dan memasukkannya dalam sebuah alat pengolahan sampah khusus. Untuk dapat mengakses alat pengolahan, masyarakat di Negeri Ginseng ini harus merogoh koceknya disesuaikan dengan kiloan beban sampah mereka.

Pemerintah Korea Selatan sendiri telah membagi 3 metode pembayaran untuk sistem Pay as You Trash. Pertama, adalah melalui kartu Radio Frequency Identification (RFID) . Untuk penggunaannya, masyarakat hanya perlu menempelkan kartu tersebut pada alat dan pintu alat pengolah sampah makanan akan terbuka secara otomatis. Pada saat itulah masyarakat dapat memasukkan sampah mereka ke alat pengolah. Sampah tersebut secara otomatis akan terhitung beratnya dan akan tercatat pada akun pemiliknya. Pemilik sampah kemudian harus membayar tagihan pengolahan sampahnya ini setiap bulannya.Sistem pembayaran kedua adalah melalui kantong sampah prabayar. Pembayaran dengan sistem ini didasarkan pada volume sampah. Sebagai contoh, di Seoul, sebuah kantong sampah 10 liter dihargai 190 won (Rp 2.356).

Terakhir, juga ada sistem manajemen barcode. Masyarakat Korea Selatan cukup menyimpan makanan limbah langsung ke tempat sampah pengomposan dan membayarnya dengan membeli stiker kode batang yang terpasang di tempat sampah.Dengan adanya sistem Pay as Your Trash, masyarakat Korea Selatan menjadi lebih sadar untuk menghabiskan makanan. Mereka lebih berhati-hati terhadap sampah makanannya. Apalagi, sistem ini diawasi secara ketat oleh petugas keamanan khusus. “Karena saya khawatir akan biaya pembuangan, saya lebih berhati-hati lagi dalam membuang sampah makanan sekarang,” ungkap Kwan seorang ibu rumah tangga dikutip dari odditycentral.com.”Saya pergi ke Korea Selatan dengan temanku awal tahun 2017. Ketika kami hendak membuang sampah, petugas keamanan mendekati kami dan secara ketat mengawasi kami saat kami membuang sampah. Sangat mengejutkan,” ungkap seorang turis melalui akun Twitter @dareakuma_san, .Kira-kira bagaimana bila sistem kebersihan di negara-negara ini diterapkan di Indonesia?

Sumber : klikhijau.com, suneducationgroup.com, kumparan.com

BACAAN TERKAIT