Selasa, 20 April 2021

Grab dan Traveloka Siap Melantai di Bursa Wall Street


Industri teknologi di Asia Tenggara menjadi rumah bagi sederet negara dengan populasi terbesar di dunia, juga bagi sejumlah negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat seperti Vietnam dan Indonesia.

Kawasan ini tidak memiliki satu pun perusahaan teknologi besar yang terdaftar di pasar modal AS sampai akhirnya Sea, masuk ke Wall Street di NYSE pada tahun 2017.

Para analis memproyeksikan, 2021 bakal menjadi tahun yang bergairah bagi ekosistem teknologi Asia Tenggara. Alasannya karena perusahaan rintisan (startup) di kawasan itu sedang giat mengincar penawaran umum perdana (IPO).

Geliat mulai terasa sejak 2020, tatkala raksasa teknologi Indonesia, Tokopedia, dilaporkan sedang berupaya untuk listing melalui SPAC dan menunjuk Morgan Stanley dan Citigroup sebagai penasihatnya.

Tak berlangsung lama, dua raksasa startup Asia Tenggara lainnya, Grab dan Traveloka dikabarkan siap go public dalam beberapa bulan mendatang.

Grab dan Traveloka siap Go Public

Meskipun industri perjalanan dan akomodasi sempat terdampak parah akibat pandemi. Namun, pada Januari 2021, CEO Traveloka, Fery Unardi, mengatakan kepada Bloomberg bahwa bisnis telah pulih dan perusahaan sedang mempertimbangkan strategi khusus yang harus ditempuh.

Traveloka dikabarkan tengah bersiap untuk IPO melalui SPAC dengan dukungan miliarder Richard Li dan Peter Thiel.

Adapun valuasi Traveloka diprediksi mencapai 5 miliar dolar AS atau setara Rp73 triliun. Hanya saja, sumber Bloomberg menegaskan ketentuan atas kedua kesepakatan ini masih bisa berubah

Sementara Grab juga tidak mau ketinggalan, minggu ini, startup yang bermarkas di Singapura ini akan mengungkapkan rencana go public melalui perusahaan cek kosong Amerika Serikat yang didukung oleh perusahaan manajer investasi T. Rowe Price hingga Temasek Holdings Pte. Nilai perusahaan raksasa ride hailing ini ditaksir mencapai lebih dari 34 miliar dolar AS.

Jababeka industrial Estate

Langkah dua perusahaan berstatus unicorn dan decacorn itu diprediksi bakal memancing serangkaian aksi IPO dari startup Asia Tenggara lainnya.

“Kami telah melihat tren serupa di pasar lain yang lebih mapan, dan sekarang ini adalah periode emas Asia Tenggara,” kata Direktur Cathay Capital, Rajive Keshup, seperti yang dikutip dari Kompas.com.

Data menunjukkan bahwa startup yang yang melakukan exit melalui skema IPO mendapatkan keuntungan lebih banyak, terutama dari segi pajak yang lebih rendah, biaya modal yang relatif dapat lebih rendah, tata kelola yang lebih sehat, serta banyak lagi.

Ditambah, ada juga korelasi yang kuat antara startup yang mencapai keberlanjutan setelah IPO dan kesuksesan perusahaan modal ventura yang mendukung mereka sebelum keluar.

Startup lain siap menyusul

Banyak pengamat memprediksi, raksasa teknologi Asia Tenggara lain, mulai dari Gojek, Bukalapak hingga PropertyGuru diproyeksi menjadi kandidat kuat untuk menysul Grab dan Traveloka.

Kerry Goh, Kepala Investasi Kamet Capital Partners Pte, seperti yang dikutip dari Bisnis.com, menerangkan penawaran umum perdana Grab dan Traveloka akan mempercepat perhatian investor dan karenanya, diharapkan lebih banyak lagi perusahaan rintisan yang go public.

“Pencatatan Grab memberikan jalan keluar yang ditunggu-tunggu bagi investor yang ada. Sementara itu, memberikan peluang menagurik bagi investor AS untuk berinvestasi di perusahaan-perusahaan yang berkembang di Asia Tenggara,” katanya.

Sudah di pastikan, melantainya Grab dan Traveloka di pasar modal AS bakal mendorong perusahaan rintisan lain (di Asia Tenggara) untuk mengikuti jejak kedua startup tersebut. Sehingga kelak, Asia Tenggara bisa menjadi kawasan pengembangan teknologi yang diperhitungkan.

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT