Rabu, 10 Maret 2021

Hah! Benarkah Ponsel Bisa Menguping Percakapan Kita?


Beberapa waktu lalu, kita sempat diramaikan dengan kabar kalau media sosial favorit millennial, Instagram bisa mendengar percakapan yang kita lakukan di kehidupan nyata. tidak sedikit bahkan, orang yang menceritakan pengalamannya soal ini.

Mereka ngobrol biasa sama teman atau keluarganya, eh tahu-tahu keesokan harinya muncul iklan tentang pembicaraab itu di akun pribadinya, padahal mereka tak merasa pernah googling, dll. Polemik ini begitu seru dibahas netizen di internet. Ada yang percaya, ada juga yang tidak.

Ternyata eh ternyata, rumor serupa kini menimpa teknologi yang jadi teman kita sehari-hari, ponsel!

Hah, Benarkah Ponsel Bisa Menguping Percakapan Kita?

Dr. Peter Hannay, konsultan keamanan senior di perusahaan keamanan siber Asterisk, mengatakan kalau itu sangat mungkin terjadi, tapi caranya tidak segila yang kita kira.

Ponsel bisa mendengarkan pembicaraanmu karena ada pemicunya, seperti saat kamu ngomong “ hey Siri” atau “ okay Google.” Apabila tidak ada pemicu, maka data yang kamu berikan hanya diproses dalam ponsel saja.

Meskipun begitu, aplikasi third party yang kamu punya di ponsel—seperti Facebook—masih bisa mengakses data “non-pemicu”. Semua tergantung pada mereka akan menggunakan datanya atau tidak.

“Cuplikan suara memang masuk ke server [aplikasi lain seperti Facebook] tapi tidak belum jelas apa pemicunya,” terang Peter. “Baik itu waktu, lokasi, atau pemakaian fungsi tertentu, aplikasi bisa memanfaatkan izin mikrofon secara berkala. Semua internal aplikasi akan mengirim data ini dalam bentuk terenkripsi, jadi sulit menentukan pemicunya.”

Dia menjelaskan kalau aplikasi seperti Facebook atau Instagram bisa memiliki ribuan pemicu. Percakapan sehari-hari dengan teman saja bisa mengaktifkan pemicunya. Meskipun memungkinkan, tapi platform seperti Facebook menolak mendengarkan percakapan kita.

“Berhubung Google melakukannya, maka saya pribadi menganggap platform lain juga melakukannya,” kata Peter. “Tidak ada alasan buat mereka untuk tidak melakukannya. Strategi ini sangat menguntungkan pemasaran. Selain itu, kesepakatan end-use dan hukum mengizinkannya, jadi saya yakin mereka melakukannya. Tapi ini belum pasti juga.”

Namun, ada alasan lain yang lebih memungkinkan mengapa Anda melihat iklan yang sangat relevan. Sederhananya, perusahaan teknologi secara rutin mengumpulkan begitu banyak data tentang Anda dengan cara-cara lain, mereka sudah mengetahui apa yang mungkin menjadi minat, keinginan, dan kebiasaan Anda.

Jababeka industrial Estate

Dengan informasi ini mereka dapat membuat profil Anda secara terperinci dan menggunakan algoritme berdasarkan perilaku dan tren yang ditemukan di data-data mereka, untuk memprediksi iklan apa yang mungkin relevan bagi Anda.

Dengan cara ini mereka dapat menunjukkan kepada Anda produk atau layanan yang sedang Anda pikirkan baru-baru ini, bahkan jika Anda belum pernah secara langsung mencari atau menunjukkan secara online bahwa Anda akan tertarik pada hal tersebut.

Perusahaan banyak menginvestasikan sumber daya mereka untuk mengumpulkan data pengguna dan melakukannya dengan cara yang cerdik. Jejaring sosial dan aplikasi lain menawarkan untuk menyimpan dan membagikan data yang kita unggah secara “gratis” saat menggunakan aplikasi tersebut, dan konten yang kita akses dan “sukai”, untuk mempelajari tentang minat, keinginan, dan koneksi kita.

Dan, tentu saja, terdapat data riwayat pencarian kita, yang dapat mengungkapkan banyak hal tentang keadaan kita saat ini. Kini data dari Google bahkan telah digunakan untuk mendeteksi datangnya wabah flu.

Ini semakin mengerikan. Pesan di email pribadi Anda juga merupakan suatu incaran permainan bagi perusahaan teknologi. Pada 2017, Google mengatakan tidak akan lagi menganalisis isi email untuk tujuan periklanan, tapi laporan terbaru menunjukkan bahwa perusahaan besar lainnya masih melakukan ini.

Teknologi baru menjadi penyedia sumber data lainnya, baik itu teknologi yang dapat dipakai, smart TV , perangkat pintar dalam rumah atau aplikasi smartphone yang kita sayangi.

Teknologi tersebut dapat mengumpulkan data tentang bagaimana Anda menggunakan perangkat, siapa yang Anda hubungi, apa dan berapa lama film, perangkat lain di rumah Anda, atau ke mana Anda pergi.

Bukan hanya situs atau perangkat individual yang memantau perilaku online Anda. Suatu ekosistem yang besar dari perusahaan iklan dan perusahaan pendukung didedikasikan untuk bertugas melacak aktivitas Anda di internet. Situs web biasanya mencatat halaman apa yang Anda lihat dengan menyimpan file kecil yang disebut “cookie” di browser Anda.

Dan aktivitas Anda di berbagai situs dapat dicocokkan dengan melihat identitas dari “browser” Anda, yakni suatu informasi detail seperti ukuran layar monitor Anda, versi browser yang Anda gunakan dan aplikasi plug-in yang Anda gunakan.

Kemudian, ketika Anda mengunjungi situs web lain, perusahaan iklan yang telah memiliki profil Anda berdasarkan cookie dan identitas browser Anda akan memuat “skrip pihak ketiga” untuk menampilkan iklan yang relevan dengan Anda.

Mungkin hal yang lebih mengkhawatirkan, pelacakan ini tidak hanya sekadar pada data online. Perusahaan teknologi juga membeli data dari badan keuangan tentang informasi belanja pengguna di dunia nyata untuk melengkapi informasi penawaran iklan mereka.

Menurut beberapa laporan, ini termasuk informasi tentang pendapatan, jenis tempat dan restoran yang sering dikunjungi dan bahkan berapa banyak kartu kredit yang ada di dompet mereka. Melepaskan diri dari pelacakan dan sistem data berbagi akan terasa sangat sulit.

Bahkan ketika Anda meminta agar tidak termasuk dalam pengumpulan data ini, permintaan Anda mungkin tidak diindahkan. Contohnya adalah keributan yang terjadi saat diketahui bahwa Google melacak lokasi pengguna Android bahkan ketika pengaturan lokasi dimatikan.

Data lokasi adalah salah satu data yang paling berguna untuk periklanan oleh banyak perusahaan, termasuk Apple, Google dan Facebook, untuk melacak lokasi individu yang digunakan sebagai data masukan ke dalam algoritme yang telah dirancang.

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT